Showing posts with label College. Show all posts
Showing posts with label College. Show all posts

May 31, 2012

FIM – 29 April 2012 - #manakaraktermu

            Untuk tahu karakter seseorang beri dia jabatan. Bendera merah putih ini belum ada apa-apanya kalau rakyat tidak mempunyai karakter. Pimpinan itu hanya menyangkut jabatan, tapi pemimpin itu bisa mempersiapkan ke depannya seperti apa. 

Masa depan itu terletak di mana? Kalau kamu mengalami kesulitan di kampus, saya juga menghadapinya setiap hari. Tapi bagaimana kita bertahan dari kesulitan-kesulitan ini. Pernah membaca keuntungan Freeport? 8.500 triliun di tahun 2010. Royalti untuk Indonesia cuma 1%. Dari 1% ini hanya 20 triliun masuk kas. 60 triliun menguap di udara. Apakah ini masa depan kita? 

Bicara karakter itu bicara kebenaran. Tanggung jawab pada jabatan akan selesai., tapi tanggung jawab untuk negara tidak pernah selesai. Pada waktu membangun rumah, suatu saat itu akan selesai. Tapi membangun rumah tangga tidak pernah selesai. Perilaku harus dididik dari sekarang. Kalau hari ini anda bisa jujur, besok belum tentu. Misal hari ini saya disogok 2 juta dan saya menolak, belum tentu saya tidak goyah ketika disogok 2 milliar. Belum tentu...

Ada fakta iblis:
“Ya Tuhan saya ingin pensiun saja karena saya tugas saya diambil alih oleh pejabat. “

Memberi 10000 pada tukang parkir tidak ikhlas,  tapi untuk jajan ringan saja. Padahal ketika kita memberi pada tukang parkir, ia mendoakan kita dan keluarga kita dan menjadikannya lebih ikhlas dalam bekerja. Minimarket itu alat penghancur ekonomi paling strategis. Entah dari harganya, desainnya, dan penataannya. Tidak ada warung kecil yang bisa bertahan lama daripada minimarket.  

Ketika Soekarno masih hidup, 60 ribu terbaik Indonesia disembelih. Ketika Nagasaki Hiroshima dibom, yang diselamatkan adalah para guru-gurunya. Mereka sadar bahwa yang yang menjadi kunci untuk membangun bangsa kembali adalah karakternya.

Kata-kata Ki hajar dewantoro sekarangsudah berbeda. Tut wuri ngerogohi, ing madyo ngangkut bondo, ing ngarso ngapusi. Di belakang minta, di tengah korupsi, di belakang membodohi. Ketika rakyat ingin berpendapat maka wakil rakyat bilang sudah saya wakili, ketika rakyat ingin kaya mereka pun bilang sudah saya wakili. Inilah Indonesia.

Membunuh 1 orang disebut kriminal, membunuh 1000 disebut orang politik, membunuh 1 juta orang mengurangi disebut mengurangi statistik! Bagaimana supaya kita aman?

Ada 2 K untuk memperbaiki kualitas manusia: kompetensi dan karakter. Mendiknas mempromosikan tentang pendidikan karakter, menurut saya, harusnya: pendidikan kompetensi berbasis karakter. Jadi meningkatkan karakter bukan berarti mengesampingkan kompetensi. Doktor ekonomi yang tidak berkarakter tidak bisa membedakan investasi di Indonesia dengan investasi untuk Indonesia. Bekerjalah di asing, bukan untuk asing. Karena mereka, perusahaan-perusahaan asing ini, bekerja di Indonesia dan bukan untuk Indonesia.

 Ada 2 K untuk meningkatkan kompetensi: kapasitas dan kapabilitas. Makelar kapasitasnya bagus, ngomongnya bagus, tapi kapabilitasnya enggak. Karakter intinya akhlak, segala sifat baik untuk menjalankan diri sendiri. Maka dari OB sampai presiden harus menjalankan tanggung jawab. Misal Presiden semunggu sekali menyapu bersama OB apa SBY didemo Karen apa? Tidak, karena presiden sudah memahami profesi OB, dan menjalankan tugasnya.

            Pemimpin tidak harus seorang doktor, tapi ia harus tahu ke mana arah bangsa ini. Pemimpin harus melahirkan pemimpin, bukan pasukan. Karena pemimpin adalah problem solver. Kalau pemimpin hanya melahirkan pasukan, maka dia akan capek. Kenapa? Karena ia harus bekerja dan berfikir sendiri.

       Berapapun tinggi jabatan dan apapun profesinya harus punya karakter. Kalau pemimpin punya 3 hal tadi, maka akan jadi pemimpin yang baik. Kompetensi tanpa karakter itu merusakkan. Kompetensi itu adalah kulit, penmapilan bisa berubah, tapi karakter tidak. Anda baik tapi tidak cerdas, maka anda bisa didzalimi orang.

              Confucius: tidak pernah muncul batang yang baik dari akar yang rusak. Tidak akan muncul bangsa yang baik kalau karakternya belum baik.

Kompetensi membuat anda professional tapi karakter membuat anda dewasa.

Apa beda ambisi dan visi? Ambisi pribadi, visi menyangkut orang lain. Harus ada sentuhan dengan orang lain, harus berhubungan dengan orang lain. Apa beda bisnis dan ekonomi? Bisnis untuk pribadi, sementara ekonomi untuk orang lain.
Kedudukan bersifat sementara dan tanggung jawab bersifat selamanya.
Meniti karakter adalah harus melewati sepenjang usia yang kita lalui. Jangan pernah curang sekalipun. Kompetensi ibarat menidirikan tangga, apakah kompetensi bersandar di tempat yang benar.

May 26, 2012

"90% syuro, 10% ilmu"


Saya tidak ingin bertele-tele. Bahwa saya sangat menikmati kehidupan pasca lembaga. 
Saya bisa menimba ilmu lebih banyak, saya merasa menjadi pembelajar yang sebenarnya. 

Hidup saya lebih normal dengan pemenuhan hak ilmu yang selama ini saya zhalimi.
Sejenak berpikir, alangkah para aktivis dakwah kampus (ga semuanya sih, yang ga ngerasa ga usah tersinggung ya.. Hehe)  miskin ilmu tapi kaya syuro. Tak terbayangkan bila satu orang diberikan amanah lembaga yang doble triple, syuro mungkin udah kayak minum obat. Pagi syuro, trus kuliah, trus ada syuro, trus kuliah, trus nyuci, trus ada sms dadakan yang isinya taklimat mas'ul, trus pergi lagi. Di dalam dadanya gegap gempita "saya akan berdakwah Ya Allah".

Apalagi kalo jadi pimpinan besar di lembaga ato tokoh yang lumayan aktif di kampus, para senior sudah berbinar-binar siap-siap nembak  buat ditempatkan di amanah yg selanjutnya. Pake dalil kekekalan amanah: amanah tidak akan hilang, hanya berpindah dari satu amanah ke amanah yang lain.  Kalo ga mau, akan ada gencatan dari berbagai penjuru supaya siap, mau ga mau, ini demi dakwah, katanya.  InsyaaAllah, kalo soal kuliah, pasti Allah akan menolong. Sungguh prasangka yang sangat baik, tapi menurut saya agak menyedihkan.

Yang di atas cuma deskripsi ekstrim yang mungkin kenyataannya ga selebay itu, ato mungkin aja ada yang lebih lebay. Hmm..mungkin ga salah dengan pola syuro full day, tapi ada satu syarat: apakah hak ilmu kita sudah terpenuhi? Bukan ilmu kampus doang, ilmu yang dipakai buat berdakwah itu lho.. Tidak semua dari ADK berasal dari pesantren dengan bekal ilmu yang luar biasa, yang bahasa arabnya udah di luar kepala, yang hafalan qurannya ga cuma 3 juz dari belakang. Kalau memang bekal ilmu sudah tumpah ruah, maka syuro all day dan malamnya benar-benar maksimal buat ilmu&ibadah, okelah. 

Tetapi mirisnya betapa banyak ADK yang lebih memprioritaskan syuro dibanding kajian-kajian. Udah ngaret, sepi lagi. Ketika ditanya ttg fiqih cuma bisa senyum-senyum. Ketika diajak ngobrol tentang pemikiran Islam, cuma cengar-cengir. Ketika ditanya hafalan Quran, tiba-tiba langsung batuk-batuk. Ketika disuruh baca Al Quran, tajwidnya masih ala kadarnya. Ketika ditanya seminggu ikut berapa kali kajian, jawabnya cuma sekali itu pun sebenarnya liqo pekanan. Sibuk jadi panitia seminar, tapi ga ngerti isinya apaan. Ketika ditanya definisi syahadat dan bagaimana penjelasan dari segi bahasanya, baru nyadar kalo ga ngerti-ngerti amat. Ketika ditanya buku fiqh apa yang sudah tamat dibaca, ternyata jawabannya kitab Google. Ketika ditanya buku tafsir apa yang dipunyai sebagai pegangannya, jawabannya sama: tafsir Google. Ketika diminta kultum, kultum Google.  

Alangkah hebatnya aktivis dakwah kampus, syuro lari sana-lari sini, permasalahannya seputar VMJ, tugas-tugas kuliah kurang jadi prioritas,  di kelas ngantuk dan ga dapet apa-apa, akhwat pulang malam-ikhwan ngebiarin aja, problematika lembaga biasanya miskin kader atau gontok2an sama rival, ngapalin Quran cuma di sisa-sisa tenaga padahal fesbukan selalu sempet, kajian kalo sempet doang padahal tau kalo dirinya miskin ilmu, belajar bahasa Arab baru level syukron-afwan-jazakallah-akhi-ukhti.  Sebenarnya kita mau mendakwahi apa sih, kawan-kawan? Udah lulus mau ngapain sih?

Udah ga musim lagi aktivis dakwah punya IP di bawah rata-rata, telat kuliah, bolos  karena alasan syuro.

Kalo gitu ga usah kuliah aja. Malu-maluin. Jadilah aktivis dakwah saja, bukan aktivis dakwah kampus. Biar kuliah ga terzhalimi, lembaga jadi lebih fokus. Kecuali kalo ngampus tujuannya biar dapet ijazah, ya "bolehlah". Hehe. Kayaknya saya fatalis banget ya? Saya hanya kasian dengan teman-teman ADK jika dari tahun ke tahun polanya sama. 

Menganggap syuro lebih mulia dibanding menuntut ilmu. Tidak adil dalam membagi pola waktunya, antara  ilmu dan lembaga dakwah kampusnya. Udah ilmu keprofesiannya ga bagus-bagus amat, IP standar, ilmu da'awiy nya juga minim. Yang paling sedih jika kuliah di fakultas ilmu sosial-humaniora tapi ga paham pemikiran Islam. Itu sama aja mau menyelam ke lautan tapi ga bisa berenang. Akhirnya kelelep.

Percayalah, Hasan al Banna berdakwah berdasar ilmu yang ga instan.

Udah ah,
Mungkin saya hanya iri dengan sekelompokan kawan-kawan saya yang begitu memurnikan aqidahnya dan tumpah ruah ilmunya.
Semoga kita bukan termasuk ADK yg instan.
Yang kuat karena lingkungan, namun rapuh ketika sendirian.


Jogjakarta, 18 februari 2011
semoga tulisan ini bukan efek post power syndrome..

*copas dari fb-nya orang (Yurisa Nurhidayati)
Semoga bisa diambil ibrohnya. yang kesentil jangan tersinggung ya. mungkin ini bisa jadi cambuk buat kita :)
kalo ga merasa ya ga usah dirasakan :p
keep tholabul 'ilmi!

April 27, 2012

Since I have entired university I have many things to do, like home works, midtest, etc... college, organizations... all of them make me bussy and didn’t have many time to update my blog, eventhough I have so many ideas to write.
There were so many things I had to do.

Seriously, the college orientation programme made me TIRED! 

But eventhough tired, I enjoyed it so much! I could know new people, either from the same class or different class with me. And I'm so happy to know them as my friends, my partners, my new family :)

From now on, I hope I can be a better person. I hope I can do the best in my college life. I hope I can fulfil my targets, and reach the goals. Hope I can make my parents proud with me, and be a better person for people around me! Hwaiting! :)

April 9, 2012

perhatikan sekeliling kita


Assalaamu’alaykum pembaca setia blog saya {berasa ada yang baca aja >.<}…
Apa kabar?? Ah, pertanyaan yang membosankan ya? Yasudaaaah… saya gak usah nanya aja. Males juga sebenernya #KICK
Hehehe… gak deng becanda lho!!! *cheers :D

Akhy wa ukhty, fellas, guys, saudara-saudara, dsb, hari ini saya kembali berkontemplasi setelah kemarin saya menemukan begitu banyak hal –yang saya katakan ini- lucu, menarik, yang harus saya, kita, pelajari bersama…

Saya yakin hal ini akan menjadi pemantik akan adanya keragaman opini.. gak papa. Sudah menjadi suatu hal yang fitrah ketika seseorang beropini tentu akan ada pemikiran-pemikiran yang pro maupun kontra terhadapnya…

Tentu teman-teman sudah sadar, dan saya yakin teman-teman jauh lebih cerdas dan kritis daripada saya dalam menerima hal ini… teman-teman tahu bukan isu tentang kebangkitan spiritualitas di abad 21 sudah menjadi hal klise yang sering memancing antusiasme?

Indonesia pun tidak ketinggalan memeriahkan antusiasme isu kebangkitan spiritualitas tersebut. Coba deh perhatikan, belakangan ini, di tanah air kita tercinta ini marak sekali diadakan training-training yang berbau spiritualitas.. langsung aja nih ya to the point, misalnya aja nih kayak ESQ, atau training ma’rifat dalam sehari (di dalamnya juga ada paket SQ), atau training shalat khusyu’, dan lain sebagainya. Bisa terlihat kan kalau kesemua training tersebut masih menambatkan visinya terhadap Tuhan. Untuk membangun hubungan yang semakin dekat dengan Tuhan.

Berdasarkan pengalaman dan fakta-fakta yang ada di lapangan, training tersebut mencoba untuk menghadirkan sebuah keharuan psikis yang bersifat spiritual. Uraian-uraiannya bukan untuk dikritisi secara teoritis, tetapi lebih diarahkan untuk membuat peserta training mengalami intensitas psikis akan kebesaran Tuhan, sebuah kesadaran yang distimulus oleh sugesti berupa kata-kata dan visualisasi. Apabila peserta bisa merasakan keterharuan, bahkan hingga menangis, maka peserta akan merasakan suatu kedekatan tersendiri dengan Tuhan.

Biasanya training-training ‘spiritual’ seperti itu memanfaatkan berbagai ‘gangguan’ psikis ketimbang kesadaran reflektif. Para peserta dikondisikan sedemikian rupa: lampu dipadamkan, lilin dinyalakan, suasana dibuat hening, dan para peserta diberikan kata-kata sugestif yang dapat membuat mereka terharu, menangis, meraung-raung, atau bahkan mencabik-cabik pakaian teman sebelahnya *maaaaapp.. hiperbola banget saya ya -,-

Dan yang menjadi perhatian saya adalah: untuk beberapa waktu para peserta dimungkinkan akan mengalami perubahan kepribadian, ke arah yang positif tentunya. Efek training ini lumayan terasa untuk satu dua hari –alhamdulillah kalau lebih lama-. SETELAHNYA, itu semua hanya tinggal kenangan.

Kau tahu alasan saya mengangkat tema seperti ini? Karena sudah beberapa hari ini saya –mau gak mau, sadar gak sadar, secara gak langsung- memperhatikan mereka-mereka yang telah mengikuti training dan pada saat training mereka begitu antusias, begitu memaknai secara mendalam setiap tindakan yang dilakukan oleh –seringkali kita menyebutnya- motivator, namun…. terlihat tanpa memberi efek apapun. Seperti tak ada yang tertorehkan sama sekali di dalam kalbu mereka..
Yang saya rasakan melihat fenomena ini adalah: miris.
Rupanya selama ini saya luput melihat maraknya lokakarya ‘spiritual’ bertarif mahal yang menawarkan efek instan, seperti ESQ, shalat khusyu’, mengalami hakikat syahadat tanpa tirakat bertahun-tahun, dan lain sebagainya. Selain itu, saya juga salah memprediksi. Awalnya saya mengira training-training tersebut akan berlangsung dalam waktu sebulan atau dua bulan atau paling tidak seminggu lebih cepat, tapitapitapi ternyata hanya dalam dua atau satu dua hari training saja!

Apakah karena sekarang adalah zaman instan, maka spirituailtas pun menjadi instan juga?
Seringkali spiritualitas diposisikan sebagai salah satu nilai tawar dalam industri kiat praktis. Spiritualitas pun berubah rupa menjadi terapi, dan bukan lagi praktik penempaan dan penyucian jiwa sepanjang hayat. Gairah pencarian akan Tuhan seringkali menjadi tak terbedakan dengan gairah kepenasaran untuk merasakan berbagai sensasi seolah-olah spiritual. Sensasi-sensasi tersebut distimulus melalui berbgai pengondisian psikis. Karenanya, kini pun muncul simulakra mistisisme berupa titik balik, yaitu, ketika spiritualitas hanya menjadi semacam terapi untuk mereparasi dan mengembalikan manusia ke pola hidup hedonis dan hasrat kebertubuhannya.

Saya menyadari, jantung spiritualitas bukanlah pada kiat praktis lagi instan, atu juga pada kepribadian cangkokan ala bukku psikologi populer dan training ‘spiritual’. Jantung spiritualitas ada pada permasalahan keunikan tiap manusia, yaitu, rahasia misi hidup individu. Rahasia misi hidup tersebut tersimpan jauuuuuuuuuuuuuuuuhhh di dalam jiwa (bukan psikis) dan ruh. Tak ada satu pun kiat praktis dan training instan yang membuka rahasia ini. Rahasia misi hidup tersebut hanya bisa diraih dengan penempuhan jalan spiritual yang panjang lagi sepenuh hati.,

Mengajar tanpa menggurui,
Memberi nasehat tanpa merasa lebih mulia,
Dan menang tanpa ada yang merasa dikalahkan,
Adalah ciri dewasanya seseorang
-Aa Gym-

April 4, 2012

03042012

Seharusnya malam ini saya beristirahat… memperbaiki kondisi fisik saya yang -ternyata- masih lemah.. meski sebenarnya di kampus, saya seperti sudah menjadi manusia tanpa penyakit yang bersarang dalam tubuh… tapi akhir-akhir ini saya memiliki hobi baru… hobi yang rasanya jauh lebih menarik daripada memikirkan rentetan rumus di papan tulis atau mendengarkan dosen yang berceracau pada papan tulis bisu, bukan pada kami, para mahasiswa yang haus ilmu.. hobi baru saya, semacam menulis buku harian, menumpahkan segala uneg-uneg, karena ada puluhan bahkan ratusan kata yang rasanya sudah berdemo minta ditumpahkan dalam bentuk tulisan.. ya, buku harian digital tepatnya.. kembali ke permasalahn tentang kondisi fisik saya yang ‘pancaroba’… hmm.. mungkin karena pada hari ini ada salah satu bentuk kegiatan yang menjadi minat saya yang terjadi ketika ujian pada salah satu mata kuliah… presentasi, yang tentunya akan membawa kita pada sesi pertanyaan, lalu –kau tahu- diskusi.. WALAUPUN di tengah diskusi tersebut –TERNYATA- dosen yang mengampu mata kuliah tersebut suka sekali meralat saya –yang kata orang, kritis-… tadinya  saya pikir, “ah, basi banget ini nih, krik banget… yang namanya diskusi ya diskusi aja… malah kalau perlu ada sedikit ‘pemantik’ kemudian menjadi ‘pemanasnya’ biar cakrawala kita makin terbuka. Tapi ini kok berasa terpenjara dalam aturan-aturan abstrak yang rasanya seperti mengkungkung ide-ide brillian untuk tumpah ruah dalam diskusi tersebut.” Beliau bilang sih ini diskusi ilmiah..
 
Namun setelah kelompok saya selesai presentasi, saya jadi mikir… berkontemplasi… “Wah, emang dasar lagi PMS (lagi-lagi nyalahin siklus @.@), bawaannya emosi naik turun, langsung berspekulasi tapi gak mikir implementasinya kayak gimana, jadi super egois, pengennya terus-menerus dimengerti, tapi emang itu wajar kok!” Tapi sejurus kemudian, saya harus mengakui Beliau (Dosen Pengampu) memang benar, dan SAYA SALAH!!! Saya sadar, rasanya seperti tertampar, jiwa saya masih dipenuhi dengan semangat, idealisme, dan potensi untuk perbaikan negeri. Kemudian saya menarik benang merahnya, padatnya aktivitas akademis dan non-akademis, ditambah dengan rongrongan untuk lebih realistis, membuat saya cenderung tidak seimbang dengan idealisme saya. Padahal idealisme itulah yang membuat saya terus berjuang, berkontribusi, dan menebar manfaat bagi masyarakat.
Dan saya pun tentu tahu bahwa bangsa ini membutuhkan pemimpin yang berani, cerdas, aktif, dan memiliki integritas untuk melayani masyarakat. Namun, setelah kejadian hari ini, saya menambahkan satu lagi unsur yang harus dimiliki oleh seorang calon-calon pengisi peran-peran pembangun peradaban negeri, sopan dan santun –dalam peristiwa ini, penyampaian argumentasi-. Ya, poin penting tambahan yang harus terpatri dalam otak. 
(Terima kasih Bu Respati :), engkau mirip dengan Ayah saya yang hobinya ‘menampar-nampar’ saya hahaha)

Lalu, berlanjut ke hal menarik lainnya… pasca kepulangan saya dari rumah sakit, bahkan ketika di rumah sakit pun, hampir semua orang mengatakan kalau saya terlalu lelah berorganisasi. Kau tahu apa yang saya rasakan ketika semua orang bicara seperti itu??? Marah? Tidak! Benci? Tidak? Saya lebih suka menyebutnya sebagai suatu tekanan mental. Seakan-akan mereka tak percaya jika saya mampu mengemban amanah-amanah di organisasi yang saya ikuti. Padahal, mereka gak tahu, fisik saya memang lemah, ringkih, hampir semua sahabat karib saya ketika di sekolah mengakui itu, tapi saya punya keteguhan hati yang kuat,  mental yang kuat… and life is all about mind set… ketika kita berpikir kita gak bisa, ya selamanya kita gak bisa.. kalau kita berpikir bisa, BISMILLAH, Allahu ma’ana..

Lalu kemudian, -lagi-lagi- saya berkontemplasi, saya punya spirit yang hebat, percaya diri yang kuat, mental yang kuat juga… tapi saya seperti sudah mendzalimi diri sendiri… mengorbankan segalanya hingga harus terkapar tak berdaya di rumah sakit dengan suhu tubuh hampir 40º. Kata Ayah saya, “Hanya orang-orang bodoh yang mengalami sakit karena masalah makanan.” Ya! Lagi-lagi saya ditampar. Ah, sudah biasa… dan memang ini adalah suatu hal yang bodoh hahaha. Dan seketika itu Allah ‘menyentuh’ saya… mensugesti diri agar kuat itu adalah hal yang penting, namun ada hal yang jauh lebih penting sebelum kamu melakukan itu… cari tahu kapasitas dirimu!

Hahaha..
Terkadang menertawakan diri sendiri itu menyenangkan bukan? Sekaligus memilukan? Dan kali ini rasanya perih seperti teriris sembilu.

Pasca keluarnya saya dari rumah sakit, ada satu bohlam berukuran 5 watt yang bertengger di atas kepala saya. Ya, saya punya ide yang mengawang-awang dalam pikiran saya kalau saya ingin mengadakan pers conference.. hahaha berasa selebiriti banget ya saya? =,=”
Ya, pers conference… mungkin hasilnya akan lebih terlihat seperti stand up comedy. Karena gak ada yang mau menggagas saya dan pasti akan kedengaran seperti lelucon konyol *nangisgulingguling* :’(

…mereka gak ada yang tahu, kecuali Allah dan beberapa teman dekat dan seseorang yang saat ini saya sungguh merasa nyaman bercerita rutinitas keseharian saya kepadanya ;)

Mereka gak tahu kalau saat ini saya tengah bervivere pericoloso. Kau tahu apa itu?
Konon katanya, hampir setengah abad yang lalu, masyarakat Indonesia tak asing dan dapat menangkap dengan mudah makna dari kata-kata vivere pericoloso. Suatu uji sederhana, saya tanyakan kepada Ayah saya yang kelahiran 1960-an, Beliau menjawab dengan fasih: “Pidato Bung Karno itu kan?”

Jawaban Ayah saya sangat kontras dengan persepsi rekan saya yang menyangka itu nama seorang pesepakbola asal Italia *gantungdiri* >.<

Vivere pericoloso: live-dangerously, diperkenalkan oleh Bung Karno dalam salah satu orasinya yang mengungkapkan kegundahan sang proklamator ini terhadap arah revolusi Indonesia yang masih rapuh pada 20 tahun pasca kemerdekaannya. Bung Karno menjanjikan dunia baru dengan berani mengambil tantangan dan dengan tegas menetapkan haluan dalam kemerdekaan sendiri, kemerdekaan yang hakiki. Dengan kata lain, berani hidup dalam segala kebahayaan, berani ber-vivere pericoloso dalam menentang dan melawan kesemuan kekuasaan. Hal inilah yang belakangan ini menjadi barang mewah nan langka dalam sistem kepemimpinan negara kita.

Lalu kau tahu? Saya adalah tipe orang yang sangat mudah menerima kebaikan –dalam hal positif-, dan saya termasuk orang yang cepat untuk mengambil keputusan dengan pemikiran yang matang lalu mengimplementasikannya dalam kehidupan pribadi, yang belakangan saya sadari bahwa hal ini membuat saya terlihat aneh, bahkan mungkin bagi beberapa orang, sangat aneh. Membuat saya seperti berubah karakter secara drastis. Dan sempat terbersit dalam benak saya, hanya orang-orang yang gak ‘kenal’ saya yang akan berkata seperti itu. Dan memang benar, hanya orang-orang yang belum intens berta’aruf dengan saya saja yang kemudian seperti kaget dan menganggap saya orang aneh, pemikirannya suka berubah-ubah, otoriter, dan segala macam label negative yang ditujukan pada saya. It’s okay, selama mereka gak mengutuk saya di belakang. Langsung saja katakan di hadapan saya, meskipun konsekuensinya saya akan menanggapinya dengan berapi-api dan siap mengasah parang di balik punggung saya. 
Hahaha tidak, tenang, saya bukan manusia berdarah dingin.

Kembali ke poin utama. Saya melihat dan sangat sadar bahwa dunia dakwah kita tengah memasuki era yang sangat kompetitif, era yang akan menentukan kita bertahan, maju, atau terkikis zaman. Pada situasi seperti ini, dakwah membutuhkan mereka yang berdaya guna, yang senantiasa siap memikul amanah dakwah. Beban dakwah hanya sanggup dipikul oleh mereka yang mengerti tentang apa dan bagaimana tabiat dakwah itu. Penyeru dakwah yang cerdas, penuh semangat, dan bertangggungjawablah yang siap berada di medan dakwah ini.
Dan hal ini kembali mengingatkan kita pada sebuah pandangan kaum ammah terhadap kami, para pengusung dakwah. Ya! Label eksklusivisme yang nampaknya masih enggan punah dalam diri kader-kader dakwah sejak dulu bahkan hingga saat ini. Dan saya tengah mencoba menghapuskan hal itu dalam diri saya saat ini. Karena saya sendiri pun merasa label itu juga tertorehkan pada diri saya, sadar atau tidak.

Saya memang lebih senang berkumpul dengan mereka para baber, atau beradu argument yang –terkadang- tidak menemukan titik temu dengan mereka yang satu pemikiran, satu visi, dan satu ide yang –mungkin terlihat seakan-akan- kami tergabung dalm suatu komunitas yang mungkin tak dapat dilihat secara kasat mata bahwasanya kami ‘sejenis’.

DAN saya sedang ingin hengkang dari eksklusivisme itu. “Keberanian untuk berada dalam lorong kebahayaan.” Itulah sebenarnya yang membuat pandangan orang terhadap saya menjadi benar-benar berbeda. Saya merasa terangkat dan merasa ‘ada’ karena berani mendobrak palang yang menghalangi suatu tujuan mulia yang lurus. Tentu berani di sini bukan sembarang berani, yang lebih sering ditafsirkan sebagai ‘nekat’ atau tanpa perhitungan. Berani di sini merupakan sikap lugas terhadap ketidakbenaran yang dilandasi pikiran jernih dan lurus. Sayangnya, yang saat ini terjadi pada saya adalah, saya berani bersikap lugas terhadap ketidak benaran dan hal itu saya landasi dengan niat lurus, tapi pikiran saya saat ini sedang tidak jernih. Inilah letak permasalahan utamanya!

Picik rasanya bila kita berpikir bahwa di masa lalu bangsa Indonesia tidak punya pilihan lain 
dalam kehidupan bernegaranya, karena memang sudah berada dalam keadaan yang berbahaya, sehingga sekarang di saat banyak pilihan tersaji di depan mata, kita memandang ideologi keberanian ini dengan sebelah mata. Sama sekali tidak! Hidup berbahaya adalah pilihan, seperti halnya pilihan antara memproklamasikan Indonesia atau tetap tunduk pada Jepang. Boleh jadi, lorong vivere pericoloso merupakan stimulus untuk memunculkan jalan satu-satunya bagi bangsa ini utnuk meretas segala macam masalah yang menghadang di depan.

Nah! Keberanian dalam menangani suatu hal sering hanya terbatasi oleh suatu dimensi ke-pemulaan yang tidak memerlukan skill dan pengetahuan lanjut. Dengan demikian, keberanian hanyalah berada setingkat di bawah kriteria kepemimpinan lain yang lebih populis dan terasa berharga untuk ditunjukkan karena diperoleh dengan cara yang susaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh sekaliiiiiiiiiiii *oke, ini lebay -,-“

Apa sih sebabnya bisa seperti itu?

Kau sadar? Bangsa ini terlanjur melahirkan masyarakat pintar bicara yang bernyali besar untuk membual dengan omongan hampa di depan umum dengan suara keras –disebut pemberani- daripada melahirkan sesosok manusia kalem (kalem ya! Bukan pendiam! Karena antara pendiam dan kalem menurut saya memiliki makna yang sangat berbeda) dengan berjuta gagasan mulia yang pasti teronggok di barisan terdepan kala dia merasa pemikiran yang benar disalahkan dan dia harus melawan. Jatuhlah gambaran mulia dari keberanian dengan serta-merta.

Bisa kita lihat juga toh, berapa banyak orang yang memegang golok sembari meneriakkan semboyan, “Ganyang Malaysia!” tapi hilang sehilang-hilangnya saat aparatur negara ini menelanjangi badan penegak korupsi di Indonesia? Nirkontribusi! Bukan itu yang dinamakan keberanian.

Yah, sebenarnya salah satu mimpi saya adalah: kau ingat, dan memang kau harus mengingat hal ini, bangsa ini suatu saat pasti akan maju, itu suatu keniscayaan, dengan atau tanpa kita. Jadi, merupakan pilihan bagi kita, ingin menjadi penonton perubahan itu atau menjadi salah satu pilar pengubahnya. Dan saya telah memilih!!!

Ah, mungkin untuk sekarang orang bilang itu hanya mimpi dan susah merealisasikannya. Namun, akan sampai kapan kita menunggu Ratu Adil datang dan memberi pencerahan pada bangsa ini? Sering terlintas dalam benak saya bahwa kita tidak harus menunggu-nunggu imam dari langit untuk memberantas kemungkaran dan membawa kita ke surga-Nya. Kitalah yang harus membawa surga itu ke dunia. Sekarang, bukan nanti!

Yayayayaya, saya tahu, lorong vivere pericoloso, penuh sesak dengan intrik dan konflik kepentingan. Dia datang bukan hanya dari luar, tetapi juga dari dalam. Seperti yang sudah saya katakan di awal cerita bahwa saya adalah orang yang memiliki percaya diri yang kuat, dan saya percaya bangsa ini membutuhkan saya, membutuhkan kita, tunas muda bangsa, untuk ikut berperan aktif dalam membangun diri ini. Bangsa ini memerlukan pribadi cerdas yang tanggap dan kokoh serta berani dalam bertindak.

DAN insya Allah saya siap bercokol di garda depan, menyongsong bahaya dan perubahan yang silih berganti, tak menentu -kadang terlihat memihak, tapi ternyata hanya muslihat-  momen kebanyakan orang enggan berada di sana.

Harusnya kita sudah merasa kenyang disusui oleh berbagai peradaban dan perkembangan zaman, dari cerita tentang nenek moyang dahulu sampai realita teknologi yang sedang dipertontonkan sekarang..

Saya ingin, dan saya yakin semua orang menginginkan ini: bangsa ini bangkit, sendiri, bertopang pada keringat dan tangan anak bangsa sendiri, melalui teladan kepemimpinan yang berani menembus lorong-lorong itu. Berani melakukan kebajikan di bawah cercaan, berani mengangkat kita di posisi yang semestinya, posisi negeri dongeng yang lama diidamkan pemikir-pemikir kita dahulu.

Kau tahu? Saya memiliki mimpi yang sangat banyak. Banyaaaaaaaaak sekali. Maka jika kau bertanya, apa mimpimu, apa cita-citamu, apa tujuanmu… saya hanya tersenyum jika pertanyaan itu terlontar… sungguh matematika yang sangat membingungkan. Dan jika ada yang bertanya, lantas apa yang saya dapatkan? saya hanya tersenyum jika pertanyaan itu terlontar… sungguh matematika yang sangat membingungkan…..

Ya. Terkadang lelah itu saling menghinggapi, terkadang jenuh itu saling menghinggapi, terkadang air mata itu tak tertahankan dan peluh terus menetes. Mungkin fase ini adalah fase adaptasi saya untuk lebih ‘tersiksa’.. dengan segala macam trouble di ranah dakwah kampus yang teramat kompleks..

Hanya perlu keikhlasan untuk menjalani jalan ini, keikhlasan untuk berpikir lebih, keikhlasan untuk berkorban lebih, keikhlasan untuk disakiti lebih, dan keikhlasan untuk berlapang dada lebih. Inilah hal yang diperlukan untuk menjalani jalan ini. Apakah jalan ini sebegitu sulit untuk dilalui???

Mengapa persyaratannya begitu berat dan terlihat sangat menyakitkan? Apa balasannya?
Balasannya hanya ridha Illahi. Ya, balasannya hanya itu saja. Jika kau mengharapkan lebih maka bukanlah di jalan ini tempatnya. Silakan kau cari jalan lainnya. Jika kau mendapati saya mendapatkan hal-hal lainnya, ini merupakan bonus. Setelah lelah dan letih seharian menjalankan sebuah kegiatan, bonusnya itu tak lebih dari nasi bungkus untuk makan siang atau makan malam. Anehnya, setelah kegiatan itu berlangsung, saya merasakan senang dan bahagia, padahal setelah kegiatan itu saya harus kembali lagi menjadi mahasiswa, diterjang oleh beberapa tugas dan ujian mata kuliah –yang kau tahu seberapa besar kesulitannya :)-. Kadang kala saya harus memutar otak bagaimana semua tugas-tugas itu dapat dikerjakan dengan baik, namun amanah di organisasi juga berjalan tak kunjung dengan optimal. Atau tugas lainnya yaitu menjadi anak bagi orang tua tercinta, menjadi teladan selaku kakak bagi adikku, dan menjadi santriwati di sebuah pesantren mahasiswa, dan segala macam lakon yang saya rasa tak perlu saya sebutkan semuanya di sini.
Semuanya harus berlangsung di waktu yang bersamaan, hingga terkadang saya berpikir bahwa saya menggadaikan masa muda saya dengan perjuangan ini. Namun, saya tahu bahwa saya ternyata sedang dijaga oleh-Nya dari perbuatan-perbuatan sia-sia, dari perbuatan-perbuatan yang justru akan menambah dosa.

Sungguh perjalanan ini sangat melelahkan.. semua kader pasti akan merasakan ini. Saya yakin. Tetapi, entah mengapa saya memilih jalan ini. Saya pun sempat bertanya kepada diri saya mengapa jalan ini yang  saya pilih… karena cinta… ya, karena cinta sehingga kita saling terhubung dalam jalan ini, dengan ikatan atas nama cinta untuk tetap terus bersama. Emas menggunung dan mahkota bertahtakan berlianpun tidak akan sanggup membayar semua ini. Namun, saya masih heran, mengapa saya masih mau berada di jalan ini. Saya menyebutnya jalan cahaya, di mana jalannya yang panas, dan saya berharap ada angin surga yang berhembus untuk sekadar menyejukkan hati ini.

Seperti yang saya celotehkan di status facebook saya hari ini: Bahkan orang-orang di sekitarku pun tidak menghargai, tetapi masih saja aku terus bertahan di jalan ini. Tidak sedikit mereka yang mencemoohku. Banyak yang berkata ini hanyalah pelarian dari akademikku yang buruk. Atau banyak yang berkata ini adalah manuver agar aku dapat terkenal dengan cepat. Atau yang lebih menyakitkan lagi, banyak yang berkata bahwa aku hanyalah bagian dari sekelompok orang-orang yang kurang kerjaan. Sungguh miris, ya semua itu tidaklah berbayar dan hanya atas dasar cinta aku melakukannya.

Yah. Tak apa. Mungkin memang mereka tidak tahu kalau saya dan teman-teman seperjuangan saya yang lainnya harus berjuang untuk nilai akademik, sembari harus memikirkan program-program kerja yang telah disusun, mengerjakan tugas-tugas di sepinya malam, berselimutkan bintang temaram yang menenteramkan hati, dan tidur bersama senandung nyanyian malam.
Matematika kita sungguh membingungkan, siapa diri saya dan siapa diri mereka. Saya tak terhubung dengan ikatan darah, namun mengapa saya memperjuangkannya, memikirkannya, mau bersusah payah, dan membantunya? Sekali lagi, saya hanya tersenyum jika pertanyaan itu terlontar… sungguh matematika yang sangat membingungkan.

Saya percaya, selepas hujan reda, kapanpun, di manapun saya berada. Pelangi yang merona di tangga langit tercipta khusus untuk saya. Tak peduli orang lain melihat pelangi yang sama atau tidak. Dan terserah saja Newton mau bilang tujuh warna, atau enam, atau lima… bagi saya, ia sejuta atau lebih. Sungguh. Tidak ada yang tidak terencana. Terserah saja siapa bilang apa… saya yakin, selepas hujan reda, pelangi merona dalam berjuta warna. Saya percaya… -DwiYosha-

            Semoga mimpiku indah

January 7, 2012

perjalanan menuju kampus

Well, UGM is my ambition. It really is. 


and... Wearing the most famous yellow jacket on my own, is my true ambition. Not that I disrespect UNS or whatsoever, it’s just I have an unexplainable passion on UI. University of Indonesia gitu lho, siapa sih yang nggak tau? “Saya kuliah disitu. Jurusan Pendidikan Dokter. Iya, ini jaket kuning Saya. Keren ya?” Ah pengen banget rasanya saya bisa ngomong gitu. Yah emang sih shallow banget alasannya. Cuma karena jaket almamater Yas? Cuma karena nama besar UI? Hahaha jaman giniiiii please deh!

Tapi gimana lagi sih ya, memang terkadang hal-hal cetek kayak gitu kan yang bisa bikin kita semangat? Jadi kebanggaan tersendiri aja gitu bisa make jaket kuning punya sendiri.(Catat, punya sendiri bukan minjem). Ah…. Tapi ya bagaimana lagi. 

Tapi setelah udah masuk dunia kuliah, percaya deh sama saya, nama besar universitas itu gak ngaruh. Jadi inget kata seseorang, "Dulu, universitas punya nama besar karena mahasiswanya. Sekarang, orang-orang pengen masuk kuliah karena nama besar universitasnya."

semua balik lagi ke diri kita sendiri sebenernya.
dan saya gak nyesel keterima di UNS. saya bahagia
saya udah dewasa. dan bukan anak kelas 3 SMA lagi yang mengelu-elukan terus nama besar universitas.



*cheers

January 4, 2012

random things to say -> IP


assalaamu'alaykum.. hey. halo. apa kabar? saya ga baik. makanya ini mau curhat. hehe. tapi entahlah, semenjak saya jarang nge-post, saya jadi gak pandai merangkai kata-kata (dari dulu kayaknya juga nggak sih hehe). apalagi dalam bahasa inggris. tapi biar deh apa adanya aja ya. daripada saya malu gara-gara grammar acak-acakkan ntar. haha. karena batere laptop udah hampir empty so I gotta make it fast hohoho.

berhubung saat ini saya lagi ada di akhir semester, jadi saya mau ngomongin tentang Indeks Prestasi.
Indeks Prestasi? kenapa dinamakan begitu? apakah benar pencapaian seorang mahasiswa dapat direpresentasikan dalam bentuk angka di kolom Indeks Prestasi aka IP? lantas apakah jika IP saya 4,00 berarti saya telah mencapai sebuah pencapaian prestasi yang paling tinggi? Atau sebaliknya, jika IP saya hanya nasakom (nasib satu koma), itu berarti saya tergolong mahasiswa tidak berprestasi? lalu apa sebenarnya definisi spesifik dari Indeks Prestasi itu sendiri?

nilai akademik saya sejauh ini, selama mengikuti semester awal perkuliahan tidak tinggi, atau bahkan ada yang menggolongkannya rendah. sementara teman-teman seperjuangan saya yang lain mendapat nilai yang cukup memuaskan tanpa harus mengikuti kegiatan remidial. saya nggak tahu akan menjadi berapa IP kumulatif saya nanti. lantas, kalau akumulasi IP saya nanti hanya dua koma (atau bahkan satu koma), apakah itu berarti saya bukan mahasiswa berprestasi?

salah seorang dosen pernah berkata kurang lebih seperti ini, "IP itu seharusnya diletakkan pada prioritas di nomor 19. sementara yang pertama dipegang oleh kemampuan kalian dalam berkomunikasi. kalau IP kalian 4,00, paling-paling nanti jadi dosen. mau jadi dosen? belajar terus kerjaannya, nggak ada gebrakan yang menarik." lalu beliau tertawa dan saya seketika itu langsung berharap beliau adalah ayah angkat saya bukannya sekedar dosen sebuah mata kuliah. beliau adalah (mungkin) satu-satunya "orang tua" yang nggak berpikiran sempit bahwa 'nilai' bukanlah segalanya (selain ayah saya tentunya).

Bill Gates seringkali gagal dalam ujian dan teman-temannya berhasil. sekarang teman-temannya pun sukses dan berhasil menjadi karyawan dari sebuah perusahaan ternama dan perusahaan ternama itu miliknya!'"

isn't it simply touching and very much encouraging???

tapi di sisi lain, tidakkah kita memang hidup di negeri yang menjunjung tinggi arti sebuah 'nilai'? tidakkah memang sebagian besar penduduk negeri ini berpikiran kelewat sempit bahwa nilai (dalam arti sebenarnya) adalah tolak ukur paling signifikan akan pencapaian seseorang?
kalau mau mendaftar beasiswa, tentu IP jadi alat pembanding juga kan? kalau mau mendaftar kerja, IPK pasti harus turut dilampirkan, bukan?

tapi kenyataannya, apakah iya orang-orang yang IP-nya cumlaude (>3,50) itu bakal terjamin sukses hidupnya? well, mungkin memang besar kemungkinannya bahwa mereka akan menjadi best employee on best compenies, but would they be able to own the company-- to be another Bill Gates? That's the question. lantas, perihal beasiswa, apa mereka pasti lolos? kalau ada tes, dapatkah mereka mengaplikasikan ilmu mereka dalam bidang kehidupan dengan baik? apakah mereka yang ber-IP sempurna memiliki cukup pengalaman hidup yang berarti?

well... what's so important with being smart, anyway? I'd rather be wit. karena IP bukan satu-satunya tolak ukur, after all :)

p.s.maaf kalau di beberapa line saya terdengar sombong dan sok tau CMIIW. this post is made to be a rearview mirror of myself so I would know that taking this thing too seriously would only stress me out yet get me nowhere. CHEER UP, dear ME :)