Showing posts with label Dakwah. Show all posts
Showing posts with label Dakwah. Show all posts

October 2, 2012

Tuhan menggendongmu

Pada suatu malam seorang lelaki bermimpi bahwa dia sedang berjalan menyusuri pantai dengan Tuhan.
Di langit tergambar berbagai peristiwa masa lalu hidupnya. Setiap kali dia melihat, ada dua pasang
jejak telapak kaki di pasir: Satu pasang adalah jejak kakinya dan sepasang lainnya milik Tuhan.
Namun dia melihat kadang hanya ada satu pasang telapak kaki. Dan ketika dia mengingat-ingat,
justru saat itulah saat yang paling menyedihkan dan paling sulit dalam hidupnya.
Hal ini menjengkelkannya dan dia mengeluh kepada Tuhan sambil berkata, "Tuhan, Engkau pernah
berkata kepadaku bahwa bila aku memutuskan mengikutiMu, Engkau akan selalu berjalan menyertai
aku. Tapi sekarang aku melihat bahwa justru pada saat paling sulit dalam hidupku, cuma ada jejak
satu pasang telapak kaki. Aku tidak mengerti mengapa Engkau meninggalkan justru pada saat
dimana aku sangat membutuhkanMu."

Tuhan menjawab, "Umat Ku, Aku tidak pernah meninggalkanmu pada saat-saat itu. Kamu hanya
melihat jejak satu pasang kaki, karena justru pada saat-saat yang sulit itu, Aku menggendongmu."

June 21, 2012

nasihat untuk sahabat

Sahabat,
Bersama kita mulai belajar
Untuk tidak memiliki sesuatu

Apa yang pernah Rabb berikan
Apa yang pernah Rabb kasihkan
Apa yang pernah Rabb titipkan
Semuanya milik yang Maha Rahmaan

Jadi adakah bagi kita alasan
Untuk merasa keberatan
Jika sebagian harta kita sisihkan
Jika sebegian kerat roti kita berikan
Jika sebagian waktu kita infakkan
Jika sebagian permata kita dermakan
Pada saudara kita yang lebih membutuhkan

Ataukah
Engkau merasa akan dilanda kemiskinan
Jika berbuat yang demikian



Sahabat
Bersama kita belajar
Untuk tidak dimiliki oleh sesuatu

Apa yang pernah Rabb sediakan
Apa yang pernah Rabb sandingkan
Apa yang pernah Rabb mudahkan
Semuanya dijadikan sebagai ujian
Untuk membuktikan bahwa cinta yang pernah kita ikrarkan
Tidak sebatas dalam ucapan

Haruskah kita lebih mencintai abi
Haruskah kita lebih mencintai umi
Haruskah kita lebih mencintai istri
Haruskah kita lebih mencintai puri
Haruskah kita lebih mencintai merci
Haruskah kita lebih mencintai deadline tak bertepi
Haruskah nyawa kita berakhir di ujung sepi

Mengapa engkau lebih mencintai dirimu sendiri
Ketimbang mencintai Rabb
Yang telah mengadakanmu di muka bumi

Mengapa engkau lebih mencintai semuanya ini
Ketimbang mencintai Rabb
Yang telah menyediakan semua yang kamu cintai di dunia ini

Ataukah
Engkau merasa
Bahwa engkau dipersulitkan
Bahwa engkau direpotkan
Bahwa engkau disiksakan
Karena yang engkau ingin adalah ketenangan
Karena yang engkau inginkan adalah keselamatan
Karena yang engkau inginkan adalah bersenang-senang

Tanpa pedulikan umat yang mulai dihujani tusukan
Tanpa pedulikan saudaramu yang mulai dilanda kelaparan
Tanpa pedulikan saudaramu yang kini mulai ditimpa kemusyrikan
Tanpa pedulikan saudaramu yang dalam setiap sujud ditemani mortir dan dentuman
Tanpa pedulikan risalahmu yang kini mulai dicincang
Sementara kamu hirup gratis hawa ini setiap pekan



Sahabat
Bersama kita belajar
Untuk berbuat sesuatu bukan karena sesuatu
Tetapi karena Rabbmu

Apa yang pernah Rabb perintahkan
Apa yang pernah Rabb larangkan
Apa yang pernah Rabb tunjukkan
Semuanya adalah hidayah yang harus kita jadikan tuntunan

Berbuat baiklah
Karena kita memang harus berbuat baik

Beramallah
Karena memang kita harus beramal

Berjuanglah
Karena memang kita diperintahkan

Bersujudlah
Karena memang kita harus bersujud di hadapan

Dan berbuatlah
Bukan karena engkau ingin dipuji
Bukan karena engkau ingin dicintai
Bukan karena engkau ingin dikenali

Dan berbuatlah
Lebih dari sekadar takut akan azab-Nya
Lebih dari sekadar harap akan jannah-Nya
Lebih dari sekadar rindu akan cinta-Nya

Tapi berbuat baiklah
Karena kita memang begitu tulus mencintai-Nya

Sahabat,
Di manakah ujung keihklasan
Ia ada dalam setiap nikmat
Yang benar-benar membekas dan dapat kamu rasakan

Maka, adalah sebuah keniscayaan
Jika kelak kamu dapat masuk dalam jannah-Nya
Melalui sekerat roti yang pernah kau sisihkan
Melalui setitik kebaikan yang pernah kamu berikan

Bukan karena sekerat roti yang kau dermakan
Tapi karena engkau kini mulai pahamkan
Akan arti satu dari sejuta nikmat yang kamu rasakan
Tak ada salahnya sang rabun membawa pelita
dan menapaki jejak di bawah semburat surya
sebab kebutaannya tertutup
pada tiap-tiap sudut penjuru kutub

Tak ada salahnya sang bisu bernyanyi syahdu
dan takjub dengan cahaya-Nya yang tak bersumbu
sebab kebisuannya menyekap segenap akal pikiran
dan mengekang ketidak-berdayaan untuk mengingat-Nya

Tak ada salahnya sang tuli bicara suara hati
dan berceracau notasi warna-warni
sebab ketuliannya bersemayam di telaga suci
tempat merenangi kedalaman makrifat nurani

Yang bersalah adalah mereka yang mengaku waras
atau mereka yang mengaku mampu melihat
atau mereka yang mengaku mampu bicara
atau mereka yang mengaku mampu mendengar
atau bahkan kesemuanya
namun terbutakan dengan fatamorgana semu
terlucuti keangkuhan
terhanyut kemunafikan
tenggelam dalam kegilaan
dan merasa diri waras dengan hidup bebas
merasa diri gemilang dengan tabir kehampaan
merasa diri menang pada dunia hitam
serasa hidup kekal hingga akhir jaman

May 28, 2012

Saudara dan saudari kaum muslimin dan muslimat
Renungan
khususnya untuk para wanita dan diriku sendiri.....

Sayidina Ali ra menceritakan suatu ketika melihat
Rasulullah saw menangis manakala ia datang bersama Fatimah.

Lalu keduanya bertanya mengapa Rasulullah saw menangis. Beliau menjawab,

"Pada malam aku di-isra'- kan , aku melihat perempuan-perempuan yang sedang disiksa dengan berbagai siksaan. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena, menyaksikan mereka yang sangat berat dan mengerikan siksanya.

Putri Rasulullah saw kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya. "Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih.

Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.

Aku lihat perempuan tergantung kedua kakinya dengan terikat tangannya sampai ke ubun-ubunnya, diulurkan ular dan kalajengking.

Dan aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Serta aku lihat perempuan yang bermuka hitam, memakan tali perutnya sendiri.

Aku lihat perempuan yang telinganya pekak dan matanya buta, dimasukkan ke dalam peti yang dibuat dari api neraka, otaknya keluar dari lubang hidung, badannya berbau busuk karena penyakit sopak dan kusta.

Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar,
beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang
rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malikat memukulnya dengan pentung dari api neraka,"kata Nabi saw.

Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka
disiksa seperti itu?

*Rasulullah menjawab, "Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.

*Perempuan yang digantung susunya adalah istri yang 'mengotori' tempat tidurnya.

*Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.

*Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.

*Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang yang kepada orang lain bersolek dan berhias supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya.

*Perempuan yang diikat kedua kaki dan tangannya ke atas ubun-ubunnya diulurkan ular dan kalajengking padanya karena ia bisa shalat tapi tidak mengamalkannya dan tidak mau mandi junub.

*Perempuan yang kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah tukang umpat dan pendusta. Perempuan yang menyerupai anjing ialah perempuan yang suka memfitnah dan membenci suami."Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis.
Dan inilah peringatan kepada kaum perempuan.


Sekarang Anda mempunyai dua pilihan:
1.. Biarkan info ini tetap pada saya.
2. Share info ini ke sejumlah orang yang anda kenal dan Insya Allah ridha Allah akan dianugerahkan kepada setiap orang yang anda kirim.
Wallohu a`lam bi showab..
Tafadhol..

May 26, 2012

"90% syuro, 10% ilmu"


Saya tidak ingin bertele-tele. Bahwa saya sangat menikmati kehidupan pasca lembaga. 
Saya bisa menimba ilmu lebih banyak, saya merasa menjadi pembelajar yang sebenarnya. 

Hidup saya lebih normal dengan pemenuhan hak ilmu yang selama ini saya zhalimi.
Sejenak berpikir, alangkah para aktivis dakwah kampus (ga semuanya sih, yang ga ngerasa ga usah tersinggung ya.. Hehe)  miskin ilmu tapi kaya syuro. Tak terbayangkan bila satu orang diberikan amanah lembaga yang doble triple, syuro mungkin udah kayak minum obat. Pagi syuro, trus kuliah, trus ada syuro, trus kuliah, trus nyuci, trus ada sms dadakan yang isinya taklimat mas'ul, trus pergi lagi. Di dalam dadanya gegap gempita "saya akan berdakwah Ya Allah".

Apalagi kalo jadi pimpinan besar di lembaga ato tokoh yang lumayan aktif di kampus, para senior sudah berbinar-binar siap-siap nembak  buat ditempatkan di amanah yg selanjutnya. Pake dalil kekekalan amanah: amanah tidak akan hilang, hanya berpindah dari satu amanah ke amanah yang lain.  Kalo ga mau, akan ada gencatan dari berbagai penjuru supaya siap, mau ga mau, ini demi dakwah, katanya.  InsyaaAllah, kalo soal kuliah, pasti Allah akan menolong. Sungguh prasangka yang sangat baik, tapi menurut saya agak menyedihkan.

Yang di atas cuma deskripsi ekstrim yang mungkin kenyataannya ga selebay itu, ato mungkin aja ada yang lebih lebay. Hmm..mungkin ga salah dengan pola syuro full day, tapi ada satu syarat: apakah hak ilmu kita sudah terpenuhi? Bukan ilmu kampus doang, ilmu yang dipakai buat berdakwah itu lho.. Tidak semua dari ADK berasal dari pesantren dengan bekal ilmu yang luar biasa, yang bahasa arabnya udah di luar kepala, yang hafalan qurannya ga cuma 3 juz dari belakang. Kalau memang bekal ilmu sudah tumpah ruah, maka syuro all day dan malamnya benar-benar maksimal buat ilmu&ibadah, okelah. 

Tetapi mirisnya betapa banyak ADK yang lebih memprioritaskan syuro dibanding kajian-kajian. Udah ngaret, sepi lagi. Ketika ditanya ttg fiqih cuma bisa senyum-senyum. Ketika diajak ngobrol tentang pemikiran Islam, cuma cengar-cengir. Ketika ditanya hafalan Quran, tiba-tiba langsung batuk-batuk. Ketika disuruh baca Al Quran, tajwidnya masih ala kadarnya. Ketika ditanya seminggu ikut berapa kali kajian, jawabnya cuma sekali itu pun sebenarnya liqo pekanan. Sibuk jadi panitia seminar, tapi ga ngerti isinya apaan. Ketika ditanya definisi syahadat dan bagaimana penjelasan dari segi bahasanya, baru nyadar kalo ga ngerti-ngerti amat. Ketika ditanya buku fiqh apa yang sudah tamat dibaca, ternyata jawabannya kitab Google. Ketika ditanya buku tafsir apa yang dipunyai sebagai pegangannya, jawabannya sama: tafsir Google. Ketika diminta kultum, kultum Google.  

Alangkah hebatnya aktivis dakwah kampus, syuro lari sana-lari sini, permasalahannya seputar VMJ, tugas-tugas kuliah kurang jadi prioritas,  di kelas ngantuk dan ga dapet apa-apa, akhwat pulang malam-ikhwan ngebiarin aja, problematika lembaga biasanya miskin kader atau gontok2an sama rival, ngapalin Quran cuma di sisa-sisa tenaga padahal fesbukan selalu sempet, kajian kalo sempet doang padahal tau kalo dirinya miskin ilmu, belajar bahasa Arab baru level syukron-afwan-jazakallah-akhi-ukhti.  Sebenarnya kita mau mendakwahi apa sih, kawan-kawan? Udah lulus mau ngapain sih?

Udah ga musim lagi aktivis dakwah punya IP di bawah rata-rata, telat kuliah, bolos  karena alasan syuro.

Kalo gitu ga usah kuliah aja. Malu-maluin. Jadilah aktivis dakwah saja, bukan aktivis dakwah kampus. Biar kuliah ga terzhalimi, lembaga jadi lebih fokus. Kecuali kalo ngampus tujuannya biar dapet ijazah, ya "bolehlah". Hehe. Kayaknya saya fatalis banget ya? Saya hanya kasian dengan teman-teman ADK jika dari tahun ke tahun polanya sama. 

Menganggap syuro lebih mulia dibanding menuntut ilmu. Tidak adil dalam membagi pola waktunya, antara  ilmu dan lembaga dakwah kampusnya. Udah ilmu keprofesiannya ga bagus-bagus amat, IP standar, ilmu da'awiy nya juga minim. Yang paling sedih jika kuliah di fakultas ilmu sosial-humaniora tapi ga paham pemikiran Islam. Itu sama aja mau menyelam ke lautan tapi ga bisa berenang. Akhirnya kelelep.

Percayalah, Hasan al Banna berdakwah berdasar ilmu yang ga instan.

Udah ah,
Mungkin saya hanya iri dengan sekelompokan kawan-kawan saya yang begitu memurnikan aqidahnya dan tumpah ruah ilmunya.
Semoga kita bukan termasuk ADK yg instan.
Yang kuat karena lingkungan, namun rapuh ketika sendirian.


Jogjakarta, 18 februari 2011
semoga tulisan ini bukan efek post power syndrome..

*copas dari fb-nya orang (Yurisa Nurhidayati)
Semoga bisa diambil ibrohnya. yang kesentil jangan tersinggung ya. mungkin ini bisa jadi cambuk buat kita :)
kalo ga merasa ya ga usah dirasakan :p
keep tholabul 'ilmi!

April 27, 2012


Since I have entired university I have many things to do, like home works, midtest, etc... college, organizations... all of them make me bussy and didn’t have many time to update my blog, eventhough I have so many ideas to write.
There were so many things I had to do.

Seriously, the college orientation programme made me TIRED! 

But eventhough tired, I enjoyed it so much! I could know new people, either from the same class or different class with me. And I'm so happy to know them as my friends, my partners, my new family :)

From now on, I hope I can be a better person. I hope I can do the best in my college life. I hope I can fulfil my targets, and reach the goals. Hope I can make my parents proud with me, and be a better person for people around me! Hwaiting! :)

April 9, 2012

perhatikan sekeliling kita


Assalaamu’alaykum pembaca setia blog saya {berasa ada yang baca aja >.<}…
Apa kabar?? Ah, pertanyaan yang membosankan ya? Yasudaaaah… saya gak usah nanya aja. Males juga sebenernya #KICK
Hehehe… gak deng becanda lho!!! *cheers :D

Akhy wa ukhty, fellas, guys, saudara-saudara, dsb, hari ini saya kembali berkontemplasi setelah kemarin saya menemukan begitu banyak hal –yang saya katakan ini- lucu, menarik, yang harus saya, kita, pelajari bersama…

Saya yakin hal ini akan menjadi pemantik akan adanya keragaman opini.. gak papa. Sudah menjadi suatu hal yang fitrah ketika seseorang beropini tentu akan ada pemikiran-pemikiran yang pro maupun kontra terhadapnya…

Tentu teman-teman sudah sadar, dan saya yakin teman-teman jauh lebih cerdas dan kritis daripada saya dalam menerima hal ini… teman-teman tahu bukan isu tentang kebangkitan spiritualitas di abad 21 sudah menjadi hal klise yang sering memancing antusiasme?

Indonesia pun tidak ketinggalan memeriahkan antusiasme isu kebangkitan spiritualitas tersebut. Coba deh perhatikan, belakangan ini, di tanah air kita tercinta ini marak sekali diadakan training-training yang berbau spiritualitas.. langsung aja nih ya to the point, misalnya aja nih kayak ESQ, atau training ma’rifat dalam sehari (di dalamnya juga ada paket SQ), atau training shalat khusyu’, dan lain sebagainya. Bisa terlihat kan kalau kesemua training tersebut masih menambatkan visinya terhadap Tuhan. Untuk membangun hubungan yang semakin dekat dengan Tuhan.

Berdasarkan pengalaman dan fakta-fakta yang ada di lapangan, training tersebut mencoba untuk menghadirkan sebuah keharuan psikis yang bersifat spiritual. Uraian-uraiannya bukan untuk dikritisi secara teoritis, tetapi lebih diarahkan untuk membuat peserta training mengalami intensitas psikis akan kebesaran Tuhan, sebuah kesadaran yang distimulus oleh sugesti berupa kata-kata dan visualisasi. Apabila peserta bisa merasakan keterharuan, bahkan hingga menangis, maka peserta akan merasakan suatu kedekatan tersendiri dengan Tuhan.

Biasanya training-training ‘spiritual’ seperti itu memanfaatkan berbagai ‘gangguan’ psikis ketimbang kesadaran reflektif. Para peserta dikondisikan sedemikian rupa: lampu dipadamkan, lilin dinyalakan, suasana dibuat hening, dan para peserta diberikan kata-kata sugestif yang dapat membuat mereka terharu, menangis, meraung-raung, atau bahkan mencabik-cabik pakaian teman sebelahnya *maaaaapp.. hiperbola banget saya ya -,-

Dan yang menjadi perhatian saya adalah: untuk beberapa waktu para peserta dimungkinkan akan mengalami perubahan kepribadian, ke arah yang positif tentunya. Efek training ini lumayan terasa untuk satu dua hari –alhamdulillah kalau lebih lama-. SETELAHNYA, itu semua hanya tinggal kenangan.

Kau tahu alasan saya mengangkat tema seperti ini? Karena sudah beberapa hari ini saya –mau gak mau, sadar gak sadar, secara gak langsung- memperhatikan mereka-mereka yang telah mengikuti training dan pada saat training mereka begitu antusias, begitu memaknai secara mendalam setiap tindakan yang dilakukan oleh –seringkali kita menyebutnya- motivator, namun…. terlihat tanpa memberi efek apapun. Seperti tak ada yang tertorehkan sama sekali di dalam kalbu mereka..
Yang saya rasakan melihat fenomena ini adalah: miris.
Rupanya selama ini saya luput melihat maraknya lokakarya ‘spiritual’ bertarif mahal yang menawarkan efek instan, seperti ESQ, shalat khusyu’, mengalami hakikat syahadat tanpa tirakat bertahun-tahun, dan lain sebagainya. Selain itu, saya juga salah memprediksi. Awalnya saya mengira training-training tersebut akan berlangsung dalam waktu sebulan atau dua bulan atau paling tidak seminggu lebih cepat, tapitapitapi ternyata hanya dalam dua atau satu dua hari training saja!

Apakah karena sekarang adalah zaman instan, maka spirituailtas pun menjadi instan juga?
Seringkali spiritualitas diposisikan sebagai salah satu nilai tawar dalam industri kiat praktis. Spiritualitas pun berubah rupa menjadi terapi, dan bukan lagi praktik penempaan dan penyucian jiwa sepanjang hayat. Gairah pencarian akan Tuhan seringkali menjadi tak terbedakan dengan gairah kepenasaran untuk merasakan berbagai sensasi seolah-olah spiritual. Sensasi-sensasi tersebut distimulus melalui berbgai pengondisian psikis. Karenanya, kini pun muncul simulakra mistisisme berupa titik balik, yaitu, ketika spiritualitas hanya menjadi semacam terapi untuk mereparasi dan mengembalikan manusia ke pola hidup hedonis dan hasrat kebertubuhannya.

Saya menyadari, jantung spiritualitas bukanlah pada kiat praktis lagi instan, atu juga pada kepribadian cangkokan ala bukku psikologi populer dan training ‘spiritual’. Jantung spiritualitas ada pada permasalahan keunikan tiap manusia, yaitu, rahasia misi hidup individu. Rahasia misi hidup tersebut tersimpan jauuuuuuuuuuuuuuuuhhh di dalam jiwa (bukan psikis) dan ruh. Tak ada satu pun kiat praktis dan training instan yang membuka rahasia ini. Rahasia misi hidup tersebut hanya bisa diraih dengan penempuhan jalan spiritual yang panjang lagi sepenuh hati.,

Mengajar tanpa menggurui,
Memberi nasehat tanpa merasa lebih mulia,
Dan menang tanpa ada yang merasa dikalahkan,
Adalah ciri dewasanya seseorang
-Aa Gym-

April 4, 2012

03042012

Seharusnya malam ini saya beristirahat… memperbaiki kondisi fisik saya yang -ternyata- masih lemah.. meski sebenarnya di kampus, saya seperti sudah menjadi manusia tanpa penyakit yang bersarang dalam tubuh… tapi akhir-akhir ini saya memiliki hobi baru… hobi yang rasanya jauh lebih menarik daripada memikirkan rentetan rumus di papan tulis atau mendengarkan dosen yang berceracau pada papan tulis bisu, bukan pada kami, para mahasiswa yang haus ilmu.. hobi baru saya, semacam menulis buku harian, menumpahkan segala uneg-uneg, karena ada puluhan bahkan ratusan kata yang rasanya sudah berdemo minta ditumpahkan dalam bentuk tulisan.. ya, buku harian digital tepatnya.. kembali ke permasalahn tentang kondisi fisik saya yang ‘pancaroba’… hmm.. mungkin karena pada hari ini ada salah satu bentuk kegiatan yang menjadi minat saya yang terjadi ketika ujian pada salah satu mata kuliah… presentasi, yang tentunya akan membawa kita pada sesi pertanyaan, lalu –kau tahu- diskusi.. WALAUPUN di tengah diskusi tersebut –TERNYATA- dosen yang mengampu mata kuliah tersebut suka sekali meralat saya –yang kata orang, kritis-… tadinya  saya pikir, “ah, basi banget ini nih, krik banget… yang namanya diskusi ya diskusi aja… malah kalau perlu ada sedikit ‘pemantik’ kemudian menjadi ‘pemanasnya’ biar cakrawala kita makin terbuka. Tapi ini kok berasa terpenjara dalam aturan-aturan abstrak yang rasanya seperti mengkungkung ide-ide brillian untuk tumpah ruah dalam diskusi tersebut.” Beliau bilang sih ini diskusi ilmiah..
 
Namun setelah kelompok saya selesai presentasi, saya jadi mikir… berkontemplasi… “Wah, emang dasar lagi PMS (lagi-lagi nyalahin siklus @.@), bawaannya emosi naik turun, langsung berspekulasi tapi gak mikir implementasinya kayak gimana, jadi super egois, pengennya terus-menerus dimengerti, tapi emang itu wajar kok!” Tapi sejurus kemudian, saya harus mengakui Beliau (Dosen Pengampu) memang benar, dan SAYA SALAH!!! Saya sadar, rasanya seperti tertampar, jiwa saya masih dipenuhi dengan semangat, idealisme, dan potensi untuk perbaikan negeri. Kemudian saya menarik benang merahnya, padatnya aktivitas akademis dan non-akademis, ditambah dengan rongrongan untuk lebih realistis, membuat saya cenderung tidak seimbang dengan idealisme saya. Padahal idealisme itulah yang membuat saya terus berjuang, berkontribusi, dan menebar manfaat bagi masyarakat.
Dan saya pun tentu tahu bahwa bangsa ini membutuhkan pemimpin yang berani, cerdas, aktif, dan memiliki integritas untuk melayani masyarakat. Namun, setelah kejadian hari ini, saya menambahkan satu lagi unsur yang harus dimiliki oleh seorang calon-calon pengisi peran-peran pembangun peradaban negeri, sopan dan santun –dalam peristiwa ini, penyampaian argumentasi-. Ya, poin penting tambahan yang harus terpatri dalam otak. 
(Terima kasih Bu Respati :), engkau mirip dengan Ayah saya yang hobinya ‘menampar-nampar’ saya hahaha)

Lalu, berlanjut ke hal menarik lainnya… pasca kepulangan saya dari rumah sakit, bahkan ketika di rumah sakit pun, hampir semua orang mengatakan kalau saya terlalu lelah berorganisasi. Kau tahu apa yang saya rasakan ketika semua orang bicara seperti itu??? Marah? Tidak! Benci? Tidak? Saya lebih suka menyebutnya sebagai suatu tekanan mental. Seakan-akan mereka tak percaya jika saya mampu mengemban amanah-amanah di organisasi yang saya ikuti. Padahal, mereka gak tahu, fisik saya memang lemah, ringkih, hampir semua sahabat karib saya ketika di sekolah mengakui itu, tapi saya punya keteguhan hati yang kuat,  mental yang kuat… and life is all about mind set… ketika kita berpikir kita gak bisa, ya selamanya kita gak bisa.. kalau kita berpikir bisa, BISMILLAH, Allahu ma’ana..

Lalu kemudian, -lagi-lagi- saya berkontemplasi, saya punya spirit yang hebat, percaya diri yang kuat, mental yang kuat juga… tapi saya seperti sudah mendzalimi diri sendiri… mengorbankan segalanya hingga harus terkapar tak berdaya di rumah sakit dengan suhu tubuh hampir 40º. Kata Ayah saya, “Hanya orang-orang bodoh yang mengalami sakit karena masalah makanan.” Ya! Lagi-lagi saya ditampar. Ah, sudah biasa… dan memang ini adalah suatu hal yang bodoh hahaha. Dan seketika itu Allah ‘menyentuh’ saya… mensugesti diri agar kuat itu adalah hal yang penting, namun ada hal yang jauh lebih penting sebelum kamu melakukan itu… cari tahu kapasitas dirimu!

Hahaha..
Terkadang menertawakan diri sendiri itu menyenangkan bukan? Sekaligus memilukan? Dan kali ini rasanya perih seperti teriris sembilu.

Pasca keluarnya saya dari rumah sakit, ada satu bohlam berukuran 5 watt yang bertengger di atas kepala saya. Ya, saya punya ide yang mengawang-awang dalam pikiran saya kalau saya ingin mengadakan pers conference.. hahaha berasa selebiriti banget ya saya? =,=”
Ya, pers conference… mungkin hasilnya akan lebih terlihat seperti stand up comedy. Karena gak ada yang mau menggagas saya dan pasti akan kedengaran seperti lelucon konyol *nangisgulingguling* :’(

…mereka gak ada yang tahu, kecuali Allah dan beberapa teman dekat dan seseorang yang saat ini saya sungguh merasa nyaman bercerita rutinitas keseharian saya kepadanya ;)

Mereka gak tahu kalau saat ini saya tengah bervivere pericoloso. Kau tahu apa itu?
Konon katanya, hampir setengah abad yang lalu, masyarakat Indonesia tak asing dan dapat menangkap dengan mudah makna dari kata-kata vivere pericoloso. Suatu uji sederhana, saya tanyakan kepada Ayah saya yang kelahiran 1960-an, Beliau menjawab dengan fasih: “Pidato Bung Karno itu kan?”

Jawaban Ayah saya sangat kontras dengan persepsi rekan saya yang menyangka itu nama seorang pesepakbola asal Italia *gantungdiri* >.<

Vivere pericoloso: live-dangerously, diperkenalkan oleh Bung Karno dalam salah satu orasinya yang mengungkapkan kegundahan sang proklamator ini terhadap arah revolusi Indonesia yang masih rapuh pada 20 tahun pasca kemerdekaannya. Bung Karno menjanjikan dunia baru dengan berani mengambil tantangan dan dengan tegas menetapkan haluan dalam kemerdekaan sendiri, kemerdekaan yang hakiki. Dengan kata lain, berani hidup dalam segala kebahayaan, berani ber-vivere pericoloso dalam menentang dan melawan kesemuan kekuasaan. Hal inilah yang belakangan ini menjadi barang mewah nan langka dalam sistem kepemimpinan negara kita.

Lalu kau tahu? Saya adalah tipe orang yang sangat mudah menerima kebaikan –dalam hal positif-, dan saya termasuk orang yang cepat untuk mengambil keputusan dengan pemikiran yang matang lalu mengimplementasikannya dalam kehidupan pribadi, yang belakangan saya sadari bahwa hal ini membuat saya terlihat aneh, bahkan mungkin bagi beberapa orang, sangat aneh. Membuat saya seperti berubah karakter secara drastis. Dan sempat terbersit dalam benak saya, hanya orang-orang yang gak ‘kenal’ saya yang akan berkata seperti itu. Dan memang benar, hanya orang-orang yang belum intens berta’aruf dengan saya saja yang kemudian seperti kaget dan menganggap saya orang aneh, pemikirannya suka berubah-ubah, otoriter, dan segala macam label negative yang ditujukan pada saya. It’s okay, selama mereka gak mengutuk saya di belakang. Langsung saja katakan di hadapan saya, meskipun konsekuensinya saya akan menanggapinya dengan berapi-api dan siap mengasah parang di balik punggung saya. 
Hahaha tidak, tenang, saya bukan manusia berdarah dingin.

Kembali ke poin utama. Saya melihat dan sangat sadar bahwa dunia dakwah kita tengah memasuki era yang sangat kompetitif, era yang akan menentukan kita bertahan, maju, atau terkikis zaman. Pada situasi seperti ini, dakwah membutuhkan mereka yang berdaya guna, yang senantiasa siap memikul amanah dakwah. Beban dakwah hanya sanggup dipikul oleh mereka yang mengerti tentang apa dan bagaimana tabiat dakwah itu. Penyeru dakwah yang cerdas, penuh semangat, dan bertangggungjawablah yang siap berada di medan dakwah ini.
Dan hal ini kembali mengingatkan kita pada sebuah pandangan kaum ammah terhadap kami, para pengusung dakwah. Ya! Label eksklusivisme yang nampaknya masih enggan punah dalam diri kader-kader dakwah sejak dulu bahkan hingga saat ini. Dan saya tengah mencoba menghapuskan hal itu dalam diri saya saat ini. Karena saya sendiri pun merasa label itu juga tertorehkan pada diri saya, sadar atau tidak.

Saya memang lebih senang berkumpul dengan mereka para baber, atau beradu argument yang –terkadang- tidak menemukan titik temu dengan mereka yang satu pemikiran, satu visi, dan satu ide yang –mungkin terlihat seakan-akan- kami tergabung dalm suatu komunitas yang mungkin tak dapat dilihat secara kasat mata bahwasanya kami ‘sejenis’.

DAN saya sedang ingin hengkang dari eksklusivisme itu. “Keberanian untuk berada dalam lorong kebahayaan.” Itulah sebenarnya yang membuat pandangan orang terhadap saya menjadi benar-benar berbeda. Saya merasa terangkat dan merasa ‘ada’ karena berani mendobrak palang yang menghalangi suatu tujuan mulia yang lurus. Tentu berani di sini bukan sembarang berani, yang lebih sering ditafsirkan sebagai ‘nekat’ atau tanpa perhitungan. Berani di sini merupakan sikap lugas terhadap ketidakbenaran yang dilandasi pikiran jernih dan lurus. Sayangnya, yang saat ini terjadi pada saya adalah, saya berani bersikap lugas terhadap ketidak benaran dan hal itu saya landasi dengan niat lurus, tapi pikiran saya saat ini sedang tidak jernih. Inilah letak permasalahan utamanya!

Picik rasanya bila kita berpikir bahwa di masa lalu bangsa Indonesia tidak punya pilihan lain 
dalam kehidupan bernegaranya, karena memang sudah berada dalam keadaan yang berbahaya, sehingga sekarang di saat banyak pilihan tersaji di depan mata, kita memandang ideologi keberanian ini dengan sebelah mata. Sama sekali tidak! Hidup berbahaya adalah pilihan, seperti halnya pilihan antara memproklamasikan Indonesia atau tetap tunduk pada Jepang. Boleh jadi, lorong vivere pericoloso merupakan stimulus untuk memunculkan jalan satu-satunya bagi bangsa ini utnuk meretas segala macam masalah yang menghadang di depan.

Nah! Keberanian dalam menangani suatu hal sering hanya terbatasi oleh suatu dimensi ke-pemulaan yang tidak memerlukan skill dan pengetahuan lanjut. Dengan demikian, keberanian hanyalah berada setingkat di bawah kriteria kepemimpinan lain yang lebih populis dan terasa berharga untuk ditunjukkan karena diperoleh dengan cara yang susaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh sekaliiiiiiiiiiii *oke, ini lebay -,-“

Apa sih sebabnya bisa seperti itu?

Kau sadar? Bangsa ini terlanjur melahirkan masyarakat pintar bicara yang bernyali besar untuk membual dengan omongan hampa di depan umum dengan suara keras –disebut pemberani- daripada melahirkan sesosok manusia kalem (kalem ya! Bukan pendiam! Karena antara pendiam dan kalem menurut saya memiliki makna yang sangat berbeda) dengan berjuta gagasan mulia yang pasti teronggok di barisan terdepan kala dia merasa pemikiran yang benar disalahkan dan dia harus melawan. Jatuhlah gambaran mulia dari keberanian dengan serta-merta.

Bisa kita lihat juga toh, berapa banyak orang yang memegang golok sembari meneriakkan semboyan, “Ganyang Malaysia!” tapi hilang sehilang-hilangnya saat aparatur negara ini menelanjangi badan penegak korupsi di Indonesia? Nirkontribusi! Bukan itu yang dinamakan keberanian.

Yah, sebenarnya salah satu mimpi saya adalah: kau ingat, dan memang kau harus mengingat hal ini, bangsa ini suatu saat pasti akan maju, itu suatu keniscayaan, dengan atau tanpa kita. Jadi, merupakan pilihan bagi kita, ingin menjadi penonton perubahan itu atau menjadi salah satu pilar pengubahnya. Dan saya telah memilih!!!

Ah, mungkin untuk sekarang orang bilang itu hanya mimpi dan susah merealisasikannya. Namun, akan sampai kapan kita menunggu Ratu Adil datang dan memberi pencerahan pada bangsa ini? Sering terlintas dalam benak saya bahwa kita tidak harus menunggu-nunggu imam dari langit untuk memberantas kemungkaran dan membawa kita ke surga-Nya. Kitalah yang harus membawa surga itu ke dunia. Sekarang, bukan nanti!

Yayayayaya, saya tahu, lorong vivere pericoloso, penuh sesak dengan intrik dan konflik kepentingan. Dia datang bukan hanya dari luar, tetapi juga dari dalam. Seperti yang sudah saya katakan di awal cerita bahwa saya adalah orang yang memiliki percaya diri yang kuat, dan saya percaya bangsa ini membutuhkan saya, membutuhkan kita, tunas muda bangsa, untuk ikut berperan aktif dalam membangun diri ini. Bangsa ini memerlukan pribadi cerdas yang tanggap dan kokoh serta berani dalam bertindak.

DAN insya Allah saya siap bercokol di garda depan, menyongsong bahaya dan perubahan yang silih berganti, tak menentu -kadang terlihat memihak, tapi ternyata hanya muslihat-  momen kebanyakan orang enggan berada di sana.

Harusnya kita sudah merasa kenyang disusui oleh berbagai peradaban dan perkembangan zaman, dari cerita tentang nenek moyang dahulu sampai realita teknologi yang sedang dipertontonkan sekarang..

Saya ingin, dan saya yakin semua orang menginginkan ini: bangsa ini bangkit, sendiri, bertopang pada keringat dan tangan anak bangsa sendiri, melalui teladan kepemimpinan yang berani menembus lorong-lorong itu. Berani melakukan kebajikan di bawah cercaan, berani mengangkat kita di posisi yang semestinya, posisi negeri dongeng yang lama diidamkan pemikir-pemikir kita dahulu.

Kau tahu? Saya memiliki mimpi yang sangat banyak. Banyaaaaaaaaak sekali. Maka jika kau bertanya, apa mimpimu, apa cita-citamu, apa tujuanmu… saya hanya tersenyum jika pertanyaan itu terlontar… sungguh matematika yang sangat membingungkan. Dan jika ada yang bertanya, lantas apa yang saya dapatkan? saya hanya tersenyum jika pertanyaan itu terlontar… sungguh matematika yang sangat membingungkan…..

Ya. Terkadang lelah itu saling menghinggapi, terkadang jenuh itu saling menghinggapi, terkadang air mata itu tak tertahankan dan peluh terus menetes. Mungkin fase ini adalah fase adaptasi saya untuk lebih ‘tersiksa’.. dengan segala macam trouble di ranah dakwah kampus yang teramat kompleks..

Hanya perlu keikhlasan untuk menjalani jalan ini, keikhlasan untuk berpikir lebih, keikhlasan untuk berkorban lebih, keikhlasan untuk disakiti lebih, dan keikhlasan untuk berlapang dada lebih. Inilah hal yang diperlukan untuk menjalani jalan ini. Apakah jalan ini sebegitu sulit untuk dilalui???

Mengapa persyaratannya begitu berat dan terlihat sangat menyakitkan? Apa balasannya?
Balasannya hanya ridha Illahi. Ya, balasannya hanya itu saja. Jika kau mengharapkan lebih maka bukanlah di jalan ini tempatnya. Silakan kau cari jalan lainnya. Jika kau mendapati saya mendapatkan hal-hal lainnya, ini merupakan bonus. Setelah lelah dan letih seharian menjalankan sebuah kegiatan, bonusnya itu tak lebih dari nasi bungkus untuk makan siang atau makan malam. Anehnya, setelah kegiatan itu berlangsung, saya merasakan senang dan bahagia, padahal setelah kegiatan itu saya harus kembali lagi menjadi mahasiswa, diterjang oleh beberapa tugas dan ujian mata kuliah –yang kau tahu seberapa besar kesulitannya :)-. Kadang kala saya harus memutar otak bagaimana semua tugas-tugas itu dapat dikerjakan dengan baik, namun amanah di organisasi juga berjalan tak kunjung dengan optimal. Atau tugas lainnya yaitu menjadi anak bagi orang tua tercinta, menjadi teladan selaku kakak bagi adikku, dan menjadi santriwati di sebuah pesantren mahasiswa, dan segala macam lakon yang saya rasa tak perlu saya sebutkan semuanya di sini.
Semuanya harus berlangsung di waktu yang bersamaan, hingga terkadang saya berpikir bahwa saya menggadaikan masa muda saya dengan perjuangan ini. Namun, saya tahu bahwa saya ternyata sedang dijaga oleh-Nya dari perbuatan-perbuatan sia-sia, dari perbuatan-perbuatan yang justru akan menambah dosa.

Sungguh perjalanan ini sangat melelahkan.. semua kader pasti akan merasakan ini. Saya yakin. Tetapi, entah mengapa saya memilih jalan ini. Saya pun sempat bertanya kepada diri saya mengapa jalan ini yang  saya pilih… karena cinta… ya, karena cinta sehingga kita saling terhubung dalam jalan ini, dengan ikatan atas nama cinta untuk tetap terus bersama. Emas menggunung dan mahkota bertahtakan berlianpun tidak akan sanggup membayar semua ini. Namun, saya masih heran, mengapa saya masih mau berada di jalan ini. Saya menyebutnya jalan cahaya, di mana jalannya yang panas, dan saya berharap ada angin surga yang berhembus untuk sekadar menyejukkan hati ini.

Seperti yang saya celotehkan di status facebook saya hari ini: Bahkan orang-orang di sekitarku pun tidak menghargai, tetapi masih saja aku terus bertahan di jalan ini. Tidak sedikit mereka yang mencemoohku. Banyak yang berkata ini hanyalah pelarian dari akademikku yang buruk. Atau banyak yang berkata ini adalah manuver agar aku dapat terkenal dengan cepat. Atau yang lebih menyakitkan lagi, banyak yang berkata bahwa aku hanyalah bagian dari sekelompok orang-orang yang kurang kerjaan. Sungguh miris, ya semua itu tidaklah berbayar dan hanya atas dasar cinta aku melakukannya.

Yah. Tak apa. Mungkin memang mereka tidak tahu kalau saya dan teman-teman seperjuangan saya yang lainnya harus berjuang untuk nilai akademik, sembari harus memikirkan program-program kerja yang telah disusun, mengerjakan tugas-tugas di sepinya malam, berselimutkan bintang temaram yang menenteramkan hati, dan tidur bersama senandung nyanyian malam.
Matematika kita sungguh membingungkan, siapa diri saya dan siapa diri mereka. Saya tak terhubung dengan ikatan darah, namun mengapa saya memperjuangkannya, memikirkannya, mau bersusah payah, dan membantunya? Sekali lagi, saya hanya tersenyum jika pertanyaan itu terlontar… sungguh matematika yang sangat membingungkan.

Saya percaya, selepas hujan reda, kapanpun, di manapun saya berada. Pelangi yang merona di tangga langit tercipta khusus untuk saya. Tak peduli orang lain melihat pelangi yang sama atau tidak. Dan terserah saja Newton mau bilang tujuh warna, atau enam, atau lima… bagi saya, ia sejuta atau lebih. Sungguh. Tidak ada yang tidak terencana. Terserah saja siapa bilang apa… saya yakin, selepas hujan reda, pelangi merona dalam berjuta warna. Saya percaya… -DwiYosha-

            Semoga mimpiku indah

January 4, 2012

smileeeeeee :)

January 2, 2012

tak dapat ditawar

“Allah tidak akan menerima (ibadah) seorang perempuan hingga menutup auratnya dan Allah tidak akan menerima shalat seorang perempuan yang telah cukup umur hingga berkerudung kepala (ber-jilbab).” (HR. Thabrani)

 

January 1, 2012

just a quote for today

Bukankah jika ada seorang rekan yang memiliki sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan???
Ah... ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela.
Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.

-materi matkul 'keindahan akhlak Nabi Muhammad Saw'-

December 31, 2011

“wanna be”?

Beginilah gambar perempuan yang kepalanya ibarat punuk unta, yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim dan lainnya bahwasanya mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau wangi surga, padahal bau wangi surga bisa dicium dari jarak yang sangat jauh..


MASIHKAH KAMU MENGATAKAN, “YANG PENTING HATI DULU YANG BERJILBAB”?


Ada seorang wanita yang dikenal taat beribadah.
Ia kadang menjalankan ibadah sunnah. Hanya satu kekurangannya, Ia tak mau berjilbab. Menutup auratnya. Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum dan menjawab ”Insya Allah yang penting hati dulu yang berjilbab. ”
Sudah banyak orang menanyakan maupun menasehatinya. Tapi jawabannya tetap sama.
Hingga di suatu malam.
Ia bermimpi sedang di sebuah taman yang sangat indah. Rumputnya sangat hijau, berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bias merasakan segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih hingga dasarnya kelihatan, melintas dipinggir taman. Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya.
Ia tak sendiri. Ada beberapa wanita disitu yang terlihat juga menikmati keindahan taman. Ia pun menghampiri salah satu wanita. Wajahnya sangat bersih seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.
“Assalamu’alaikum, saudariku….”
“Wa’alaikum salam. Selamat datang saudariku”
“Terima kasih. Apakah ini surga?”
Wanita itu tersenyum. “Tentu saja bukan, saudariku. Ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga ”
“Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini. ”
Wanita itu tersenyum lagi ”Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, saudariku ?”
“Aku selalu menjaga waktu shalat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah.”
“Alhamdulillah..”
Tiba-tiba jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka. Dan ia melihat beberapa wanita yang berada di Taman mulai memasukinya satu-persatu.
“Ayo kita ikuti mereka” kata wanita itu setengah berlari.
“ Apa di balik pintu itu?” Katanya sambil mengikuti wanita itu
“ Tentu saja surga saudariku” larinya semakin cepat
“ Tunggu..tunggu aku..”
Dia berlari namun tetap tertinggal. Wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum kepadanya. Ia tetap tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari.
Ia lalu berteriak, “Amalan apa yang telah kau lakukan hingga engkau begitu ringan ?”
“Sama dengan engkau saudariku.” jawab wanita itu sambil tersenyum
Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu. “ Amalan apalagi yang kau lakukan yang tidak kulakukan ?”
Wanita itu menatapnya dan tersenyum. Lalu berkata. “Apakah kau tak memperhatikan dirimu, apa yang membedakan dengan diriku ?”
Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab.
“Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke Surga-NYA tanpa jilbab menutup auratmu?”
Tubuh wanita itu telah melewati pintu, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar, memandangnya dan berkata. ”Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini untuk dirimu. Cukuplah surga hanya sampai hatimu karena niatmu adalah menghijabi hati.”
Ia tertegun..lalu terbangun..beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan shalat malam. Menangis dan menyesali perkataanya dulu.. berjanji pada Allah sejak saat itu ia akan menutup auratnya.