Showing posts with label Friends. Show all posts
Showing posts with label Friends. Show all posts

June 21, 2012

nasihat untuk sahabat

Sahabat,
Bersama kita mulai belajar
Untuk tidak memiliki sesuatu

Apa yang pernah Rabb berikan
Apa yang pernah Rabb kasihkan
Apa yang pernah Rabb titipkan
Semuanya milik yang Maha Rahmaan

Jadi adakah bagi kita alasan
Untuk merasa keberatan
Jika sebagian harta kita sisihkan
Jika sebegian kerat roti kita berikan
Jika sebagian waktu kita infakkan
Jika sebagian permata kita dermakan
Pada saudara kita yang lebih membutuhkan

Ataukah
Engkau merasa akan dilanda kemiskinan
Jika berbuat yang demikian



Sahabat
Bersama kita belajar
Untuk tidak dimiliki oleh sesuatu

Apa yang pernah Rabb sediakan
Apa yang pernah Rabb sandingkan
Apa yang pernah Rabb mudahkan
Semuanya dijadikan sebagai ujian
Untuk membuktikan bahwa cinta yang pernah kita ikrarkan
Tidak sebatas dalam ucapan

Haruskah kita lebih mencintai abi
Haruskah kita lebih mencintai umi
Haruskah kita lebih mencintai istri
Haruskah kita lebih mencintai puri
Haruskah kita lebih mencintai merci
Haruskah kita lebih mencintai deadline tak bertepi
Haruskah nyawa kita berakhir di ujung sepi

Mengapa engkau lebih mencintai dirimu sendiri
Ketimbang mencintai Rabb
Yang telah mengadakanmu di muka bumi

Mengapa engkau lebih mencintai semuanya ini
Ketimbang mencintai Rabb
Yang telah menyediakan semua yang kamu cintai di dunia ini

Ataukah
Engkau merasa
Bahwa engkau dipersulitkan
Bahwa engkau direpotkan
Bahwa engkau disiksakan
Karena yang engkau ingin adalah ketenangan
Karena yang engkau inginkan adalah keselamatan
Karena yang engkau inginkan adalah bersenang-senang

Tanpa pedulikan umat yang mulai dihujani tusukan
Tanpa pedulikan saudaramu yang mulai dilanda kelaparan
Tanpa pedulikan saudaramu yang kini mulai ditimpa kemusyrikan
Tanpa pedulikan saudaramu yang dalam setiap sujud ditemani mortir dan dentuman
Tanpa pedulikan risalahmu yang kini mulai dicincang
Sementara kamu hirup gratis hawa ini setiap pekan



Sahabat
Bersama kita belajar
Untuk berbuat sesuatu bukan karena sesuatu
Tetapi karena Rabbmu

Apa yang pernah Rabb perintahkan
Apa yang pernah Rabb larangkan
Apa yang pernah Rabb tunjukkan
Semuanya adalah hidayah yang harus kita jadikan tuntunan

Berbuat baiklah
Karena kita memang harus berbuat baik

Beramallah
Karena memang kita harus beramal

Berjuanglah
Karena memang kita diperintahkan

Bersujudlah
Karena memang kita harus bersujud di hadapan

Dan berbuatlah
Bukan karena engkau ingin dipuji
Bukan karena engkau ingin dicintai
Bukan karena engkau ingin dikenali

Dan berbuatlah
Lebih dari sekadar takut akan azab-Nya
Lebih dari sekadar harap akan jannah-Nya
Lebih dari sekadar rindu akan cinta-Nya

Tapi berbuat baiklah
Karena kita memang begitu tulus mencintai-Nya

Sahabat,
Di manakah ujung keihklasan
Ia ada dalam setiap nikmat
Yang benar-benar membekas dan dapat kamu rasakan

Maka, adalah sebuah keniscayaan
Jika kelak kamu dapat masuk dalam jannah-Nya
Melalui sekerat roti yang pernah kau sisihkan
Melalui setitik kebaikan yang pernah kamu berikan

Bukan karena sekerat roti yang kau dermakan
Tapi karena engkau kini mulai pahamkan
Akan arti satu dari sejuta nikmat yang kamu rasakan

May 31, 2012

FIM – 29 April 2012 - #manakaraktermu

            Untuk tahu karakter seseorang beri dia jabatan. Bendera merah putih ini belum ada apa-apanya kalau rakyat tidak mempunyai karakter. Pimpinan itu hanya menyangkut jabatan, tapi pemimpin itu bisa mempersiapkan ke depannya seperti apa. 

Masa depan itu terletak di mana? Kalau kamu mengalami kesulitan di kampus, saya juga menghadapinya setiap hari. Tapi bagaimana kita bertahan dari kesulitan-kesulitan ini. Pernah membaca keuntungan Freeport? 8.500 triliun di tahun 2010. Royalti untuk Indonesia cuma 1%. Dari 1% ini hanya 20 triliun masuk kas. 60 triliun menguap di udara. Apakah ini masa depan kita? 

Bicara karakter itu bicara kebenaran. Tanggung jawab pada jabatan akan selesai., tapi tanggung jawab untuk negara tidak pernah selesai. Pada waktu membangun rumah, suatu saat itu akan selesai. Tapi membangun rumah tangga tidak pernah selesai. Perilaku harus dididik dari sekarang. Kalau hari ini anda bisa jujur, besok belum tentu. Misal hari ini saya disogok 2 juta dan saya menolak, belum tentu saya tidak goyah ketika disogok 2 milliar. Belum tentu...

Ada fakta iblis:
“Ya Tuhan saya ingin pensiun saja karena saya tugas saya diambil alih oleh pejabat. “

Memberi 10000 pada tukang parkir tidak ikhlas,  tapi untuk jajan ringan saja. Padahal ketika kita memberi pada tukang parkir, ia mendoakan kita dan keluarga kita dan menjadikannya lebih ikhlas dalam bekerja. Minimarket itu alat penghancur ekonomi paling strategis. Entah dari harganya, desainnya, dan penataannya. Tidak ada warung kecil yang bisa bertahan lama daripada minimarket.  

Ketika Soekarno masih hidup, 60 ribu terbaik Indonesia disembelih. Ketika Nagasaki Hiroshima dibom, yang diselamatkan adalah para guru-gurunya. Mereka sadar bahwa yang yang menjadi kunci untuk membangun bangsa kembali adalah karakternya.

Kata-kata Ki hajar dewantoro sekarangsudah berbeda. Tut wuri ngerogohi, ing madyo ngangkut bondo, ing ngarso ngapusi. Di belakang minta, di tengah korupsi, di belakang membodohi. Ketika rakyat ingin berpendapat maka wakil rakyat bilang sudah saya wakili, ketika rakyat ingin kaya mereka pun bilang sudah saya wakili. Inilah Indonesia.

Membunuh 1 orang disebut kriminal, membunuh 1000 disebut orang politik, membunuh 1 juta orang mengurangi disebut mengurangi statistik! Bagaimana supaya kita aman?

Ada 2 K untuk memperbaiki kualitas manusia: kompetensi dan karakter. Mendiknas mempromosikan tentang pendidikan karakter, menurut saya, harusnya: pendidikan kompetensi berbasis karakter. Jadi meningkatkan karakter bukan berarti mengesampingkan kompetensi. Doktor ekonomi yang tidak berkarakter tidak bisa membedakan investasi di Indonesia dengan investasi untuk Indonesia. Bekerjalah di asing, bukan untuk asing. Karena mereka, perusahaan-perusahaan asing ini, bekerja di Indonesia dan bukan untuk Indonesia.

 Ada 2 K untuk meningkatkan kompetensi: kapasitas dan kapabilitas. Makelar kapasitasnya bagus, ngomongnya bagus, tapi kapabilitasnya enggak. Karakter intinya akhlak, segala sifat baik untuk menjalankan diri sendiri. Maka dari OB sampai presiden harus menjalankan tanggung jawab. Misal Presiden semunggu sekali menyapu bersama OB apa SBY didemo Karen apa? Tidak, karena presiden sudah memahami profesi OB, dan menjalankan tugasnya.

            Pemimpin tidak harus seorang doktor, tapi ia harus tahu ke mana arah bangsa ini. Pemimpin harus melahirkan pemimpin, bukan pasukan. Karena pemimpin adalah problem solver. Kalau pemimpin hanya melahirkan pasukan, maka dia akan capek. Kenapa? Karena ia harus bekerja dan berfikir sendiri.

       Berapapun tinggi jabatan dan apapun profesinya harus punya karakter. Kalau pemimpin punya 3 hal tadi, maka akan jadi pemimpin yang baik. Kompetensi tanpa karakter itu merusakkan. Kompetensi itu adalah kulit, penmapilan bisa berubah, tapi karakter tidak. Anda baik tapi tidak cerdas, maka anda bisa didzalimi orang.

              Confucius: tidak pernah muncul batang yang baik dari akar yang rusak. Tidak akan muncul bangsa yang baik kalau karakternya belum baik.

Kompetensi membuat anda professional tapi karakter membuat anda dewasa.

Apa beda ambisi dan visi? Ambisi pribadi, visi menyangkut orang lain. Harus ada sentuhan dengan orang lain, harus berhubungan dengan orang lain. Apa beda bisnis dan ekonomi? Bisnis untuk pribadi, sementara ekonomi untuk orang lain.
Kedudukan bersifat sementara dan tanggung jawab bersifat selamanya.
Meniti karakter adalah harus melewati sepenjang usia yang kita lalui. Jangan pernah curang sekalipun. Kompetensi ibarat menidirikan tangga, apakah kompetensi bersandar di tempat yang benar.

May 26, 2012

"90% syuro, 10% ilmu"


Saya tidak ingin bertele-tele. Bahwa saya sangat menikmati kehidupan pasca lembaga. 
Saya bisa menimba ilmu lebih banyak, saya merasa menjadi pembelajar yang sebenarnya. 

Hidup saya lebih normal dengan pemenuhan hak ilmu yang selama ini saya zhalimi.
Sejenak berpikir, alangkah para aktivis dakwah kampus (ga semuanya sih, yang ga ngerasa ga usah tersinggung ya.. Hehe)  miskin ilmu tapi kaya syuro. Tak terbayangkan bila satu orang diberikan amanah lembaga yang doble triple, syuro mungkin udah kayak minum obat. Pagi syuro, trus kuliah, trus ada syuro, trus kuliah, trus nyuci, trus ada sms dadakan yang isinya taklimat mas'ul, trus pergi lagi. Di dalam dadanya gegap gempita "saya akan berdakwah Ya Allah".

Apalagi kalo jadi pimpinan besar di lembaga ato tokoh yang lumayan aktif di kampus, para senior sudah berbinar-binar siap-siap nembak  buat ditempatkan di amanah yg selanjutnya. Pake dalil kekekalan amanah: amanah tidak akan hilang, hanya berpindah dari satu amanah ke amanah yang lain.  Kalo ga mau, akan ada gencatan dari berbagai penjuru supaya siap, mau ga mau, ini demi dakwah, katanya.  InsyaaAllah, kalo soal kuliah, pasti Allah akan menolong. Sungguh prasangka yang sangat baik, tapi menurut saya agak menyedihkan.

Yang di atas cuma deskripsi ekstrim yang mungkin kenyataannya ga selebay itu, ato mungkin aja ada yang lebih lebay. Hmm..mungkin ga salah dengan pola syuro full day, tapi ada satu syarat: apakah hak ilmu kita sudah terpenuhi? Bukan ilmu kampus doang, ilmu yang dipakai buat berdakwah itu lho.. Tidak semua dari ADK berasal dari pesantren dengan bekal ilmu yang luar biasa, yang bahasa arabnya udah di luar kepala, yang hafalan qurannya ga cuma 3 juz dari belakang. Kalau memang bekal ilmu sudah tumpah ruah, maka syuro all day dan malamnya benar-benar maksimal buat ilmu&ibadah, okelah. 

Tetapi mirisnya betapa banyak ADK yang lebih memprioritaskan syuro dibanding kajian-kajian. Udah ngaret, sepi lagi. Ketika ditanya ttg fiqih cuma bisa senyum-senyum. Ketika diajak ngobrol tentang pemikiran Islam, cuma cengar-cengir. Ketika ditanya hafalan Quran, tiba-tiba langsung batuk-batuk. Ketika disuruh baca Al Quran, tajwidnya masih ala kadarnya. Ketika ditanya seminggu ikut berapa kali kajian, jawabnya cuma sekali itu pun sebenarnya liqo pekanan. Sibuk jadi panitia seminar, tapi ga ngerti isinya apaan. Ketika ditanya definisi syahadat dan bagaimana penjelasan dari segi bahasanya, baru nyadar kalo ga ngerti-ngerti amat. Ketika ditanya buku fiqh apa yang sudah tamat dibaca, ternyata jawabannya kitab Google. Ketika ditanya buku tafsir apa yang dipunyai sebagai pegangannya, jawabannya sama: tafsir Google. Ketika diminta kultum, kultum Google.  

Alangkah hebatnya aktivis dakwah kampus, syuro lari sana-lari sini, permasalahannya seputar VMJ, tugas-tugas kuliah kurang jadi prioritas,  di kelas ngantuk dan ga dapet apa-apa, akhwat pulang malam-ikhwan ngebiarin aja, problematika lembaga biasanya miskin kader atau gontok2an sama rival, ngapalin Quran cuma di sisa-sisa tenaga padahal fesbukan selalu sempet, kajian kalo sempet doang padahal tau kalo dirinya miskin ilmu, belajar bahasa Arab baru level syukron-afwan-jazakallah-akhi-ukhti.  Sebenarnya kita mau mendakwahi apa sih, kawan-kawan? Udah lulus mau ngapain sih?

Udah ga musim lagi aktivis dakwah punya IP di bawah rata-rata, telat kuliah, bolos  karena alasan syuro.

Kalo gitu ga usah kuliah aja. Malu-maluin. Jadilah aktivis dakwah saja, bukan aktivis dakwah kampus. Biar kuliah ga terzhalimi, lembaga jadi lebih fokus. Kecuali kalo ngampus tujuannya biar dapet ijazah, ya "bolehlah". Hehe. Kayaknya saya fatalis banget ya? Saya hanya kasian dengan teman-teman ADK jika dari tahun ke tahun polanya sama. 

Menganggap syuro lebih mulia dibanding menuntut ilmu. Tidak adil dalam membagi pola waktunya, antara  ilmu dan lembaga dakwah kampusnya. Udah ilmu keprofesiannya ga bagus-bagus amat, IP standar, ilmu da'awiy nya juga minim. Yang paling sedih jika kuliah di fakultas ilmu sosial-humaniora tapi ga paham pemikiran Islam. Itu sama aja mau menyelam ke lautan tapi ga bisa berenang. Akhirnya kelelep.

Percayalah, Hasan al Banna berdakwah berdasar ilmu yang ga instan.

Udah ah,
Mungkin saya hanya iri dengan sekelompokan kawan-kawan saya yang begitu memurnikan aqidahnya dan tumpah ruah ilmunya.
Semoga kita bukan termasuk ADK yg instan.
Yang kuat karena lingkungan, namun rapuh ketika sendirian.


Jogjakarta, 18 februari 2011
semoga tulisan ini bukan efek post power syndrome..

*copas dari fb-nya orang (Yurisa Nurhidayati)
Semoga bisa diambil ibrohnya. yang kesentil jangan tersinggung ya. mungkin ini bisa jadi cambuk buat kita :)
kalo ga merasa ya ga usah dirasakan :p
keep tholabul 'ilmi!

abew; anin; azkha; latief :)

-with a troubled heart and many tears...
I have some friends. real good friends. we were friends since in the second grade of Junior High and we're getting close day by day for almost 2 years. we know each other pretty well. they listen to the music I love. watch movies that I watch. and we have the same taste of things.. together, we could laugh anything. anything surrounds us. friends, teachers(whoops), famous people, or even ourselves... our funny jokes and acts. everything. nonetheless, we often trapped in a fight anyway. pretty often. times that I spent with them always make me happy and a little talks can really boost my mood. but it was just several years ago. for now, I think I already missed 'them'. actually they're not going anywhere, but the person that being such a good friend of mine doesn't exist anymore. time changes, people changes, everything changes. we're all grown up. we already have our own life and they just don't fit to each other perfectly.



your pretty glamorous life is way too different with the simple life of mine. we're not close anymore. I never see them come to me like they used to before, or even just to talk to me for the last 1 year. I know them pretty much from their updates. but it just.. different. I feel like I never know themselves before. you know.. like a strangers. and if we met each other in the real world, they never greet me, like they don't know me, and so did I. but obviously I don't blame them for anything. it's not his fault for changes, and being different or something. the situation is just ain't right. our life is so freakin different. they already had bunch of quality friends, their friends since in kindergarten, some new high school mates... and I got mine too. this is life, time's running. until now, I'm still missed our silly conversation and laughs. eventhough it's all over now, I always remain them as my friend, although we never see each other after graduated. they just like sweetest old friends of mine that ever happened in my life and would always like that until the end of time.
*forgive my bad grammar

April 4, 2012

03042012

Seharusnya malam ini saya beristirahat… memperbaiki kondisi fisik saya yang -ternyata- masih lemah.. meski sebenarnya di kampus, saya seperti sudah menjadi manusia tanpa penyakit yang bersarang dalam tubuh… tapi akhir-akhir ini saya memiliki hobi baru… hobi yang rasanya jauh lebih menarik daripada memikirkan rentetan rumus di papan tulis atau mendengarkan dosen yang berceracau pada papan tulis bisu, bukan pada kami, para mahasiswa yang haus ilmu.. hobi baru saya, semacam menulis buku harian, menumpahkan segala uneg-uneg, karena ada puluhan bahkan ratusan kata yang rasanya sudah berdemo minta ditumpahkan dalam bentuk tulisan.. ya, buku harian digital tepatnya.. kembali ke permasalahn tentang kondisi fisik saya yang ‘pancaroba’… hmm.. mungkin karena pada hari ini ada salah satu bentuk kegiatan yang menjadi minat saya yang terjadi ketika ujian pada salah satu mata kuliah… presentasi, yang tentunya akan membawa kita pada sesi pertanyaan, lalu –kau tahu- diskusi.. WALAUPUN di tengah diskusi tersebut –TERNYATA- dosen yang mengampu mata kuliah tersebut suka sekali meralat saya –yang kata orang, kritis-… tadinya  saya pikir, “ah, basi banget ini nih, krik banget… yang namanya diskusi ya diskusi aja… malah kalau perlu ada sedikit ‘pemantik’ kemudian menjadi ‘pemanasnya’ biar cakrawala kita makin terbuka. Tapi ini kok berasa terpenjara dalam aturan-aturan abstrak yang rasanya seperti mengkungkung ide-ide brillian untuk tumpah ruah dalam diskusi tersebut.” Beliau bilang sih ini diskusi ilmiah..
 
Namun setelah kelompok saya selesai presentasi, saya jadi mikir… berkontemplasi… “Wah, emang dasar lagi PMS (lagi-lagi nyalahin siklus @.@), bawaannya emosi naik turun, langsung berspekulasi tapi gak mikir implementasinya kayak gimana, jadi super egois, pengennya terus-menerus dimengerti, tapi emang itu wajar kok!” Tapi sejurus kemudian, saya harus mengakui Beliau (Dosen Pengampu) memang benar, dan SAYA SALAH!!! Saya sadar, rasanya seperti tertampar, jiwa saya masih dipenuhi dengan semangat, idealisme, dan potensi untuk perbaikan negeri. Kemudian saya menarik benang merahnya, padatnya aktivitas akademis dan non-akademis, ditambah dengan rongrongan untuk lebih realistis, membuat saya cenderung tidak seimbang dengan idealisme saya. Padahal idealisme itulah yang membuat saya terus berjuang, berkontribusi, dan menebar manfaat bagi masyarakat.
Dan saya pun tentu tahu bahwa bangsa ini membutuhkan pemimpin yang berani, cerdas, aktif, dan memiliki integritas untuk melayani masyarakat. Namun, setelah kejadian hari ini, saya menambahkan satu lagi unsur yang harus dimiliki oleh seorang calon-calon pengisi peran-peran pembangun peradaban negeri, sopan dan santun –dalam peristiwa ini, penyampaian argumentasi-. Ya, poin penting tambahan yang harus terpatri dalam otak. 
(Terima kasih Bu Respati :), engkau mirip dengan Ayah saya yang hobinya ‘menampar-nampar’ saya hahaha)

Lalu, berlanjut ke hal menarik lainnya… pasca kepulangan saya dari rumah sakit, bahkan ketika di rumah sakit pun, hampir semua orang mengatakan kalau saya terlalu lelah berorganisasi. Kau tahu apa yang saya rasakan ketika semua orang bicara seperti itu??? Marah? Tidak! Benci? Tidak? Saya lebih suka menyebutnya sebagai suatu tekanan mental. Seakan-akan mereka tak percaya jika saya mampu mengemban amanah-amanah di organisasi yang saya ikuti. Padahal, mereka gak tahu, fisik saya memang lemah, ringkih, hampir semua sahabat karib saya ketika di sekolah mengakui itu, tapi saya punya keteguhan hati yang kuat,  mental yang kuat… and life is all about mind set… ketika kita berpikir kita gak bisa, ya selamanya kita gak bisa.. kalau kita berpikir bisa, BISMILLAH, Allahu ma’ana..

Lalu kemudian, -lagi-lagi- saya berkontemplasi, saya punya spirit yang hebat, percaya diri yang kuat, mental yang kuat juga… tapi saya seperti sudah mendzalimi diri sendiri… mengorbankan segalanya hingga harus terkapar tak berdaya di rumah sakit dengan suhu tubuh hampir 40º. Kata Ayah saya, “Hanya orang-orang bodoh yang mengalami sakit karena masalah makanan.” Ya! Lagi-lagi saya ditampar. Ah, sudah biasa… dan memang ini adalah suatu hal yang bodoh hahaha. Dan seketika itu Allah ‘menyentuh’ saya… mensugesti diri agar kuat itu adalah hal yang penting, namun ada hal yang jauh lebih penting sebelum kamu melakukan itu… cari tahu kapasitas dirimu!

Hahaha..
Terkadang menertawakan diri sendiri itu menyenangkan bukan? Sekaligus memilukan? Dan kali ini rasanya perih seperti teriris sembilu.

Pasca keluarnya saya dari rumah sakit, ada satu bohlam berukuran 5 watt yang bertengger di atas kepala saya. Ya, saya punya ide yang mengawang-awang dalam pikiran saya kalau saya ingin mengadakan pers conference.. hahaha berasa selebiriti banget ya saya? =,=”
Ya, pers conference… mungkin hasilnya akan lebih terlihat seperti stand up comedy. Karena gak ada yang mau menggagas saya dan pasti akan kedengaran seperti lelucon konyol *nangisgulingguling* :’(

…mereka gak ada yang tahu, kecuali Allah dan beberapa teman dekat dan seseorang yang saat ini saya sungguh merasa nyaman bercerita rutinitas keseharian saya kepadanya ;)

Mereka gak tahu kalau saat ini saya tengah bervivere pericoloso. Kau tahu apa itu?
Konon katanya, hampir setengah abad yang lalu, masyarakat Indonesia tak asing dan dapat menangkap dengan mudah makna dari kata-kata vivere pericoloso. Suatu uji sederhana, saya tanyakan kepada Ayah saya yang kelahiran 1960-an, Beliau menjawab dengan fasih: “Pidato Bung Karno itu kan?”

Jawaban Ayah saya sangat kontras dengan persepsi rekan saya yang menyangka itu nama seorang pesepakbola asal Italia *gantungdiri* >.<

Vivere pericoloso: live-dangerously, diperkenalkan oleh Bung Karno dalam salah satu orasinya yang mengungkapkan kegundahan sang proklamator ini terhadap arah revolusi Indonesia yang masih rapuh pada 20 tahun pasca kemerdekaannya. Bung Karno menjanjikan dunia baru dengan berani mengambil tantangan dan dengan tegas menetapkan haluan dalam kemerdekaan sendiri, kemerdekaan yang hakiki. Dengan kata lain, berani hidup dalam segala kebahayaan, berani ber-vivere pericoloso dalam menentang dan melawan kesemuan kekuasaan. Hal inilah yang belakangan ini menjadi barang mewah nan langka dalam sistem kepemimpinan negara kita.

Lalu kau tahu? Saya adalah tipe orang yang sangat mudah menerima kebaikan –dalam hal positif-, dan saya termasuk orang yang cepat untuk mengambil keputusan dengan pemikiran yang matang lalu mengimplementasikannya dalam kehidupan pribadi, yang belakangan saya sadari bahwa hal ini membuat saya terlihat aneh, bahkan mungkin bagi beberapa orang, sangat aneh. Membuat saya seperti berubah karakter secara drastis. Dan sempat terbersit dalam benak saya, hanya orang-orang yang gak ‘kenal’ saya yang akan berkata seperti itu. Dan memang benar, hanya orang-orang yang belum intens berta’aruf dengan saya saja yang kemudian seperti kaget dan menganggap saya orang aneh, pemikirannya suka berubah-ubah, otoriter, dan segala macam label negative yang ditujukan pada saya. It’s okay, selama mereka gak mengutuk saya di belakang. Langsung saja katakan di hadapan saya, meskipun konsekuensinya saya akan menanggapinya dengan berapi-api dan siap mengasah parang di balik punggung saya. 
Hahaha tidak, tenang, saya bukan manusia berdarah dingin.

Kembali ke poin utama. Saya melihat dan sangat sadar bahwa dunia dakwah kita tengah memasuki era yang sangat kompetitif, era yang akan menentukan kita bertahan, maju, atau terkikis zaman. Pada situasi seperti ini, dakwah membutuhkan mereka yang berdaya guna, yang senantiasa siap memikul amanah dakwah. Beban dakwah hanya sanggup dipikul oleh mereka yang mengerti tentang apa dan bagaimana tabiat dakwah itu. Penyeru dakwah yang cerdas, penuh semangat, dan bertangggungjawablah yang siap berada di medan dakwah ini.
Dan hal ini kembali mengingatkan kita pada sebuah pandangan kaum ammah terhadap kami, para pengusung dakwah. Ya! Label eksklusivisme yang nampaknya masih enggan punah dalam diri kader-kader dakwah sejak dulu bahkan hingga saat ini. Dan saya tengah mencoba menghapuskan hal itu dalam diri saya saat ini. Karena saya sendiri pun merasa label itu juga tertorehkan pada diri saya, sadar atau tidak.

Saya memang lebih senang berkumpul dengan mereka para baber, atau beradu argument yang –terkadang- tidak menemukan titik temu dengan mereka yang satu pemikiran, satu visi, dan satu ide yang –mungkin terlihat seakan-akan- kami tergabung dalm suatu komunitas yang mungkin tak dapat dilihat secara kasat mata bahwasanya kami ‘sejenis’.

DAN saya sedang ingin hengkang dari eksklusivisme itu. “Keberanian untuk berada dalam lorong kebahayaan.” Itulah sebenarnya yang membuat pandangan orang terhadap saya menjadi benar-benar berbeda. Saya merasa terangkat dan merasa ‘ada’ karena berani mendobrak palang yang menghalangi suatu tujuan mulia yang lurus. Tentu berani di sini bukan sembarang berani, yang lebih sering ditafsirkan sebagai ‘nekat’ atau tanpa perhitungan. Berani di sini merupakan sikap lugas terhadap ketidakbenaran yang dilandasi pikiran jernih dan lurus. Sayangnya, yang saat ini terjadi pada saya adalah, saya berani bersikap lugas terhadap ketidak benaran dan hal itu saya landasi dengan niat lurus, tapi pikiran saya saat ini sedang tidak jernih. Inilah letak permasalahan utamanya!

Picik rasanya bila kita berpikir bahwa di masa lalu bangsa Indonesia tidak punya pilihan lain 
dalam kehidupan bernegaranya, karena memang sudah berada dalam keadaan yang berbahaya, sehingga sekarang di saat banyak pilihan tersaji di depan mata, kita memandang ideologi keberanian ini dengan sebelah mata. Sama sekali tidak! Hidup berbahaya adalah pilihan, seperti halnya pilihan antara memproklamasikan Indonesia atau tetap tunduk pada Jepang. Boleh jadi, lorong vivere pericoloso merupakan stimulus untuk memunculkan jalan satu-satunya bagi bangsa ini utnuk meretas segala macam masalah yang menghadang di depan.

Nah! Keberanian dalam menangani suatu hal sering hanya terbatasi oleh suatu dimensi ke-pemulaan yang tidak memerlukan skill dan pengetahuan lanjut. Dengan demikian, keberanian hanyalah berada setingkat di bawah kriteria kepemimpinan lain yang lebih populis dan terasa berharga untuk ditunjukkan karena diperoleh dengan cara yang susaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh sekaliiiiiiiiiiii *oke, ini lebay -,-“

Apa sih sebabnya bisa seperti itu?

Kau sadar? Bangsa ini terlanjur melahirkan masyarakat pintar bicara yang bernyali besar untuk membual dengan omongan hampa di depan umum dengan suara keras –disebut pemberani- daripada melahirkan sesosok manusia kalem (kalem ya! Bukan pendiam! Karena antara pendiam dan kalem menurut saya memiliki makna yang sangat berbeda) dengan berjuta gagasan mulia yang pasti teronggok di barisan terdepan kala dia merasa pemikiran yang benar disalahkan dan dia harus melawan. Jatuhlah gambaran mulia dari keberanian dengan serta-merta.

Bisa kita lihat juga toh, berapa banyak orang yang memegang golok sembari meneriakkan semboyan, “Ganyang Malaysia!” tapi hilang sehilang-hilangnya saat aparatur negara ini menelanjangi badan penegak korupsi di Indonesia? Nirkontribusi! Bukan itu yang dinamakan keberanian.

Yah, sebenarnya salah satu mimpi saya adalah: kau ingat, dan memang kau harus mengingat hal ini, bangsa ini suatu saat pasti akan maju, itu suatu keniscayaan, dengan atau tanpa kita. Jadi, merupakan pilihan bagi kita, ingin menjadi penonton perubahan itu atau menjadi salah satu pilar pengubahnya. Dan saya telah memilih!!!

Ah, mungkin untuk sekarang orang bilang itu hanya mimpi dan susah merealisasikannya. Namun, akan sampai kapan kita menunggu Ratu Adil datang dan memberi pencerahan pada bangsa ini? Sering terlintas dalam benak saya bahwa kita tidak harus menunggu-nunggu imam dari langit untuk memberantas kemungkaran dan membawa kita ke surga-Nya. Kitalah yang harus membawa surga itu ke dunia. Sekarang, bukan nanti!

Yayayayaya, saya tahu, lorong vivere pericoloso, penuh sesak dengan intrik dan konflik kepentingan. Dia datang bukan hanya dari luar, tetapi juga dari dalam. Seperti yang sudah saya katakan di awal cerita bahwa saya adalah orang yang memiliki percaya diri yang kuat, dan saya percaya bangsa ini membutuhkan saya, membutuhkan kita, tunas muda bangsa, untuk ikut berperan aktif dalam membangun diri ini. Bangsa ini memerlukan pribadi cerdas yang tanggap dan kokoh serta berani dalam bertindak.

DAN insya Allah saya siap bercokol di garda depan, menyongsong bahaya dan perubahan yang silih berganti, tak menentu -kadang terlihat memihak, tapi ternyata hanya muslihat-  momen kebanyakan orang enggan berada di sana.

Harusnya kita sudah merasa kenyang disusui oleh berbagai peradaban dan perkembangan zaman, dari cerita tentang nenek moyang dahulu sampai realita teknologi yang sedang dipertontonkan sekarang..

Saya ingin, dan saya yakin semua orang menginginkan ini: bangsa ini bangkit, sendiri, bertopang pada keringat dan tangan anak bangsa sendiri, melalui teladan kepemimpinan yang berani menembus lorong-lorong itu. Berani melakukan kebajikan di bawah cercaan, berani mengangkat kita di posisi yang semestinya, posisi negeri dongeng yang lama diidamkan pemikir-pemikir kita dahulu.

Kau tahu? Saya memiliki mimpi yang sangat banyak. Banyaaaaaaaaak sekali. Maka jika kau bertanya, apa mimpimu, apa cita-citamu, apa tujuanmu… saya hanya tersenyum jika pertanyaan itu terlontar… sungguh matematika yang sangat membingungkan. Dan jika ada yang bertanya, lantas apa yang saya dapatkan? saya hanya tersenyum jika pertanyaan itu terlontar… sungguh matematika yang sangat membingungkan…..

Ya. Terkadang lelah itu saling menghinggapi, terkadang jenuh itu saling menghinggapi, terkadang air mata itu tak tertahankan dan peluh terus menetes. Mungkin fase ini adalah fase adaptasi saya untuk lebih ‘tersiksa’.. dengan segala macam trouble di ranah dakwah kampus yang teramat kompleks..

Hanya perlu keikhlasan untuk menjalani jalan ini, keikhlasan untuk berpikir lebih, keikhlasan untuk berkorban lebih, keikhlasan untuk disakiti lebih, dan keikhlasan untuk berlapang dada lebih. Inilah hal yang diperlukan untuk menjalani jalan ini. Apakah jalan ini sebegitu sulit untuk dilalui???

Mengapa persyaratannya begitu berat dan terlihat sangat menyakitkan? Apa balasannya?
Balasannya hanya ridha Illahi. Ya, balasannya hanya itu saja. Jika kau mengharapkan lebih maka bukanlah di jalan ini tempatnya. Silakan kau cari jalan lainnya. Jika kau mendapati saya mendapatkan hal-hal lainnya, ini merupakan bonus. Setelah lelah dan letih seharian menjalankan sebuah kegiatan, bonusnya itu tak lebih dari nasi bungkus untuk makan siang atau makan malam. Anehnya, setelah kegiatan itu berlangsung, saya merasakan senang dan bahagia, padahal setelah kegiatan itu saya harus kembali lagi menjadi mahasiswa, diterjang oleh beberapa tugas dan ujian mata kuliah –yang kau tahu seberapa besar kesulitannya :)-. Kadang kala saya harus memutar otak bagaimana semua tugas-tugas itu dapat dikerjakan dengan baik, namun amanah di organisasi juga berjalan tak kunjung dengan optimal. Atau tugas lainnya yaitu menjadi anak bagi orang tua tercinta, menjadi teladan selaku kakak bagi adikku, dan menjadi santriwati di sebuah pesantren mahasiswa, dan segala macam lakon yang saya rasa tak perlu saya sebutkan semuanya di sini.
Semuanya harus berlangsung di waktu yang bersamaan, hingga terkadang saya berpikir bahwa saya menggadaikan masa muda saya dengan perjuangan ini. Namun, saya tahu bahwa saya ternyata sedang dijaga oleh-Nya dari perbuatan-perbuatan sia-sia, dari perbuatan-perbuatan yang justru akan menambah dosa.

Sungguh perjalanan ini sangat melelahkan.. semua kader pasti akan merasakan ini. Saya yakin. Tetapi, entah mengapa saya memilih jalan ini. Saya pun sempat bertanya kepada diri saya mengapa jalan ini yang  saya pilih… karena cinta… ya, karena cinta sehingga kita saling terhubung dalam jalan ini, dengan ikatan atas nama cinta untuk tetap terus bersama. Emas menggunung dan mahkota bertahtakan berlianpun tidak akan sanggup membayar semua ini. Namun, saya masih heran, mengapa saya masih mau berada di jalan ini. Saya menyebutnya jalan cahaya, di mana jalannya yang panas, dan saya berharap ada angin surga yang berhembus untuk sekadar menyejukkan hati ini.

Seperti yang saya celotehkan di status facebook saya hari ini: Bahkan orang-orang di sekitarku pun tidak menghargai, tetapi masih saja aku terus bertahan di jalan ini. Tidak sedikit mereka yang mencemoohku. Banyak yang berkata ini hanyalah pelarian dari akademikku yang buruk. Atau banyak yang berkata ini adalah manuver agar aku dapat terkenal dengan cepat. Atau yang lebih menyakitkan lagi, banyak yang berkata bahwa aku hanyalah bagian dari sekelompok orang-orang yang kurang kerjaan. Sungguh miris, ya semua itu tidaklah berbayar dan hanya atas dasar cinta aku melakukannya.

Yah. Tak apa. Mungkin memang mereka tidak tahu kalau saya dan teman-teman seperjuangan saya yang lainnya harus berjuang untuk nilai akademik, sembari harus memikirkan program-program kerja yang telah disusun, mengerjakan tugas-tugas di sepinya malam, berselimutkan bintang temaram yang menenteramkan hati, dan tidur bersama senandung nyanyian malam.
Matematika kita sungguh membingungkan, siapa diri saya dan siapa diri mereka. Saya tak terhubung dengan ikatan darah, namun mengapa saya memperjuangkannya, memikirkannya, mau bersusah payah, dan membantunya? Sekali lagi, saya hanya tersenyum jika pertanyaan itu terlontar… sungguh matematika yang sangat membingungkan.

Saya percaya, selepas hujan reda, kapanpun, di manapun saya berada. Pelangi yang merona di tangga langit tercipta khusus untuk saya. Tak peduli orang lain melihat pelangi yang sama atau tidak. Dan terserah saja Newton mau bilang tujuh warna, atau enam, atau lima… bagi saya, ia sejuta atau lebih. Sungguh. Tidak ada yang tidak terencana. Terserah saja siapa bilang apa… saya yakin, selepas hujan reda, pelangi merona dalam berjuta warna. Saya percaya… -DwiYosha-

            Semoga mimpiku indah

January 4, 2012

smileeeeeee :)

January 3, 2012

vhs telkom spj

...and this thing come in my mind. I googled about my beloved school (awkward) and found this amazing pictures (more awkward)..
Okay I'm a lil bit sad when typing this post :'(
but forget about me..
so
talking about my days as the student of
vocational high school telkom sandhy putra jakarta is.....
nano-nano
manis, asem, asin, and I'm finally feeling so much more.... exhausting. but absolutely 
HAPPY \(^.^)/

study study study, and extra study. I think 24 hours in a day is really doesn't enough.
oke, let's fly to my beloved school hehe.
thanks for reading, people, do some comments =)


SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta.. the best vocational high school in the world (oke ini lebay)

ruang kelas ^^


kehebohan di depan meja piket *nonton sea games


pemandangannya indah makanya jadi salah satu sudut favorit sekolah :)




kantin JUJUR, SEHAT, SEJAHTERA telkom spj ;)

musholla yang meninggalkan jejak-jejak sejarah tak terlupakan

ini jalan dari gerbang atau lobby atau yaaa gedung utama sekolah menuju kantin, parkiran, atau musholla



love the memories that we got together in this school guys :')

June 10, 2011

I love the place where I was 'born'

Keterikatan batin dengan Islam menjadikan kita satu, hidup berorientasi selalu untuk Islam. Walau berbeda, namun tetap satu untuk Islam. Dari mulai derai tawa hingga urai air mata. Dari pagi buta hingga waktu senja. Semuanya untuk Islam. Kebanggaan pada Islam lah yang mengawalinya. Yang mengawali perjalanan menapaki rute dakwah ini. Menyapa setiap orang yang ditemui. Mengayun langkah. Menebar khotbah. Menjaring hikmah.
Dan sudah menjadi sunnatullah bahwa rute dakwah itu susah. Tantangan dan halangan selalu menghadang. Ada kawan seiring yang tetap istiqomah. Ada yang berhenti tak tahan lelah. Ada juga yang akhirnya terus berjalan namun mengambil rute yang salah.

Diskusi panjang untuk proker, menghabiskan tenaga, menyedot pikiran, beradu argumen di rutinitas syuro, dsb. Semuanya demi Islam..

And now...
We're coming up on the end of high school. Thanks for all. Syukran wa jazakumullah khairan katsiran. You've been a really good friend and partner in ROHIS SMK Telkom SPJ.
I'm a human and can make mistakes, so please accept my sincere greeting and best wishes for your good health and happiness.
May ALLAH bless you and the whole ummah with many such happy occasions with peace, prosperity, and success.
Afwan jiddan.

February 18, 2011

100

Adalah sesuatu hal yang indah, jika kita marah & mampu untuk meluapkannya tapi kita memilih untuk diam.
Jika kita disakiti &kuat untuk membalas, tapi kita memilih untuk memaafkn.

Ukhuwah itu indah, percayalah harta sepenuh bumi pun takkan mampu menyatukan hati kita.Tapi Allah telah menyatukannya dalam ukhuwah ini..
Semoga ukhuwah ini tetap terjaga, mengantarkan pertemuan di surga..

December 30, 2010

mungkin hanya 'sampah' untukmu

Telah ku dengar episodemu yang membuat suara kami seakan tak berarti.
Telah ku saksikan banyak ketidak benaran menghinggapi.
Telah ku sadari bahwa hatimu sudah terkunci.

Wahai saudariku yang terpasung hatinya..
Mengapa kau membutakan mata menulikan telinga?
Mengapa kau mematikan hati menutupi kebenaran?
Akankah kau redupkan lentera rohanimu?

Apakah semua ini karena CINTA itu?
Cinta yang memerahkan hatimu, membutakan matamu?
Cinta yang kepekatannya menutup mata hatimu, memabukkanmu sesaat di nirwana,
dan kau tak bisa beralih di peluk merdunya senandung bahagia semu?

.. padahal sesungguhnya hanya kehampaan yang mengisi sisi gelap hatimu.
Itulah cinta karena manusia yang dibutakan nafsunya..

Ya Allah, hanya Engkau yang mengetahui keinginan terdalam hatinya.
Ya Allah,
tolong jangan biarkan hatinya terbuai dalam keindahan fatamorgana semu,
tolong jangan biarkan dia terlena dalam keindahan palsu, gantikanlah dengan keindahan sebenarnya yang hanya milik-Mu,
tolong jangan biarkan dia terpuruk dalam belenggu duniawi.
Ya Allah, tolong ajarkan kepadanya cinta tertinggi menuju kebahagiaan hakiki.

Ya Allah,
tolong dia...
tolong dia...
tolong dia...


(Untukmu saudariku, Kak Ayyu Aghniaty.. Kami hanya tak ingin kau tersesat, kami hanya tak ingin kau keliru, kami hanya tak ingin kau terluka, ternoda.. Jiwamu adalah jiwa kami. Harga dirimu adalah harga diri kami. Dan hidupmu adalah hidup kami.. Itulah yang kami rasa, wahai saudariku.. Meski sepertinya kau menganggap kami 'HANYA TEMAN')

December 27, 2010

for you, ukhtifillah

They are the people I love more than I can express. They were everything to me and I will never forget them, even for a minute. They were my true friends and it is through them that I came to know the world and the real meaning of friendship and love. They made me grow into a complete girl and I can't imagine my life without them.

But, I'm so sad because after the end of the next semester I will not be with them. I won't have them to spend time with, talk to and go places with. Who could replace them???

Believe me, ukhti, my heart loves you very much, as much as drinking water and eating food.
Thousands of words are not enough to describe you.
Wherever I go and whatever I want, I will imagine you. Your faces and uniform are still memorable, even though you are not around.

You meant the world to me, the new world, and life without you is not life at all and that is what has made my life beautiful.

Ukhtifillah, please never forget me. I'll remember you for all my life.

Thanks for coloring my life with love and knowledges, SEKAR, RISMA, TRI, YANTI, YUDITH, RATIH, RIFA.. ^^

November 5, 2010

miss you beeew..

I'm worried about my friend but I don't know what to do. I'm starting to feel a bit jealous.. Hahaha. NO! NO! no bfs. it's all about friendship. NO BFS, yeah you know in Islam bfs and gfs are forbidden.
So okebektudetopik, I have a friend, oh sorry, I mean my best friend, since jhs,. but for some reason this is troubling me a lot. my best friend name is abew, and I like to go out with her a lot, ummh yeah it has been a looong time ago. Though, she has a friend, (sure! my friend too) named dita. well, I'm worried about my friendship with abew, cause she has seemed to go out a lot with dita, and.. well... not me.
now dita is my friend as well, but not really close friend. she is a really nice too.
dita also is really close friends with 3 others people at my school called jege, ebhy, and pia.
abew has been my best friend for sooo long now. it's just that whenever I call her to go out and stuff or talk to her at school, she always already has plans with them.
I don't know why I feel this way. I'm worried I might get left out of this friendship. what should I do?

October 20, 2010

my 'old' clique


lihat tuh gambarku pakai bikini.....
errrr abeeeeeew..

September 20, 2010

Dia masih tetap sahabatku

Pagi ini, tepatnya pukul 6 menit 27 detik 31 atau bisa juga dituliskan seperti ini 06:27:31 -____-, salah seorang SAHABATKU mengirimiku sms yang hmm agak membuatku gusar.
Sahabatku itu bernama MNH (atas saran seorang teman, lebih baik gunakan inisialnya saja) teman-teman biasa memanggilnya dengan nama 'I'..
Berikut percakapan yang terjadi via sms antara aku dan SAHABATKU itu..


SAHABATKU:
Tyas, lo hari ini udah mulai masuk kan? Lo udah izin belum kalau kita izin sampai tanggal 17?

PERI KECIL:
Gue masih belum masuk. Gue masuknya besok. Dih, ya lo udah bilang apa belum? Kalau gue sih udah.

SAHABATKU:
Ya Allah, tyas. Kan gue udah bilang ke lo kalau kita minta libur sampai tanggal 20 ke pak heru. Ah egois!

PERI KECIL:
Dih, apa-apaan sih. Pak heru juga ngertilah. Kalau kita izinnya sampai tanggal 17, 18, atau 19, jadi masuknya ya pasti hari ini,. Lagian kok takut banget sih, kan bunda lo udah minta izin.

SAHABATKU:
Mane ti?
Bunda gue izin berangkat awal doang yah. Gue gak minta sampai tanggal berapa ke pak heru karena gue nungguin lo pada mau mulai masuk tanggal berapa!
Eh lo malah izinnya atas nama lo doang bukan semuanya..

PERI KECIL:
Dih, kok lo jadi marah-marah?
Yang izin lo, kok gue yang disalahin. Yang liburan lo, kok gue yang disalahin.
Enak aja. Dan seingat gue, lo pernah bilang kalau lo izinnya sampai tanggal 18an..
Jadi ya gue pikir, lo udah bilang ke pak heru,. Ya mana gue tau kalau lo ternyata belum bilang. Tapi kayaknya lo udah izin.

SAHABATKU:
Gue pernah sms lo kalau mau izin tuh SEHARUSNYA JANJIAN! Biar bareng masuknya! Trus tanggal 18 tuh hari sabtu ya?
Masa iya gue masuk hari sabtu.

PERI KECIL:
Lo pernah sms gue kayak gitu?? WALLAHI, GUE GAK PERNAH NERIMA SMS ITU.
"Trus tanggal 18 tuh hari sabtu ya?
Masa iya gue masuk hari sabtu."<= pikir aja sendiri apa itu mungkin. Dan pikir juga ya, kalau mau izin ya izin aja, kasih tau mau sampai kapan dan gak jadi ketergantungan sama orang gini. Dan bukannya lo yang NYARANIN gue untuk izin sampai tanggal 17, 18, atau 19an lah..
Ya otomatis gue juga mikirnya lo minta izin sampai sekitar tanggal segitu juga dong.. Kenapa sekarang jadi NYALAHIN ORANG LAIN?

SAHABATKU:
Eh lo udah sumpah yah. Gue pernah bilang "eh yas masuk tanggal berapa?" (tanggal 13).. "bentar amat yas. Lo mau libur cuma segitu doang? Kita minta tanggal 20 aja sih biar masuknya bareng trus biar lebih lama juga" (iya juga sih sebentar banget).. "yaudah cepetan izin!".. Eh lo gak bales lagi.
Yah itu kan pikir lo, makanya jangan sok jago baca pikiran orang! Gue nyalahin lo karena gue udah minta ke lo buat izin ke pak heru kalau KITA izin sampai tanggal segitu eh lo malah minta izinnya buat diri lo sendiri.

PERI KECIL:
Iya, gue emang udah bersumpah gak pernah nerima sms lo yang bilang nyuruh kita kalau izin janjian aja. Makanya kalau belajar b. Indonesia yang serius, pikir lagi apa penyusunan kata-kata lo dan apa yang mau lo sampaikan ke orang lain bisa dipahami atau gak sama orang itu. Dan tolong ya lihat segala sesuatu itu dari kacamata orang lain. Kalau orang lain merasa tersakiti akan hal itu, kemungkin besar kita juga akan tersakiti.
Yaudah gue minta maaf untuk semuanya, terlepas dari siapa yang sebenarnya keliru, atau entah gue salah atau gak..

SAHABATKU:
Ah bacot pake ceramah lagi.
Udah ah gak bakal ada habisnya kalau gak ada yang mau ngalah. Oh iya, buat evaluasi. Lo tuh orangnya batu dan suka menyepelekan hal sepele..

PERI KECIL:
Kalau gue batu, sampai kapanpun gue gak akan minta maaf ke lo. Jadi, kok rasa-rasanya terbalik ya. Sepertinya lo yang batu, bukan lagi pemikiran lo yang sekeras batu, tapi hati lo juga. Sejak kapan lo jadi gak mau nerima dan menutup mata dari sesuatu yang lo sebut sebagai 'ceramah' itu???
Dan makasih banget untuk saran lo yang nyuruh gue untuk mengevaluasi diri karena memang itu yang sekarang lagi gue lakukan.
Dan sekali lagi maaf kalau gue banyak salah selama ini..
Dan gue juga minta maaf atas nama MAMA gue, karena beliau yang minta izin ke pak heru.. Sekali lagi gue minta maaf.
Jangan sampai ramadhan dan idul fitri yang udah gue jalankan dengan sepenuh hati ternodai karena hal ini.
Dan, silakan bila anda ingin menjudge saya sebagai orang yang batu, suka menyepelekan hal-hal sepele. Itu hak anda. Saya gak bisa membatasi anda. Itu di luar kuasa saya.
Yah, saya benar-benar minta maaf...


Gak perlu aku jelaskan gimana perasaanku.. Kalian bisa menilainya sendiri..

Komentar mamaku:
"loh? Dia itu yang ke makassar kan? Bukannya dia yang libur duluan? Kok malah jadi tiba-tiba nyalahin orang atas kesalahannya sendiri.. Kenapa minta izin aja pake nitip-nitip? Emang ibunya gak tau? Udah biarin aja gak usah digubris lagi, kan yang penting kamu udah minta maaf.."

meski begitu, dia akan tetap jadi sahabatku, bagaimanapun keadaannya..

August 21, 2010

Gudlak yanti!

Haalooouwhh!! Whasssaaap?!
Eh eh eh, temenku, yanti, mau ikut seleksi lomba olimpiade matematika lho,. Doain ya.
Hmm, buat info aja nih ya..
Temenku itu nama lengkapnya sri yulianti, dia anak satu-satunya..
Nah ini yang penting, dia ini orangnya pinteerr banget. Selalu ranking 1 dan jadi juara umum 1 angkatan ckckck.
Trus nih, kalo ada soal itung-itungan, beuuhh dia nih jagonya! Walaupun tuh soal di puterputer di bolakbalik di utakatik di apa aja lah, pasti dia tetep aja bisa nemu hasilnya. Nah tuh, kebayang gak betapa jenius mutlaknya dia. Haha.

Aku ngebayangin, betapa bangganya orang tuanya dia.