Showing posts with label Inspiration. Show all posts
Showing posts with label Inspiration. Show all posts

October 2, 2012

Beberapa orang tidak pernah belajar sesuatu karena mereka menggenggam segala sesuatu terlalu
cepat. Kebijaksanaan bukanlah suatu titik sampai akan tetapi suatu cara berjalan. Kalau engkau
berjalan terlalu cepat, engkau tidak akan melihat pemandangan yang indah.
Dengan tepat mengerti kemana engkau menuju mungkin adalah cara yang paling tepat untuk
tersesat. Tidak semua orang bergelandangan tersesat.

Tuhan menggendongmu

Pada suatu malam seorang lelaki bermimpi bahwa dia sedang berjalan menyusuri pantai dengan Tuhan.
Di langit tergambar berbagai peristiwa masa lalu hidupnya. Setiap kali dia melihat, ada dua pasang
jejak telapak kaki di pasir: Satu pasang adalah jejak kakinya dan sepasang lainnya milik Tuhan.
Namun dia melihat kadang hanya ada satu pasang telapak kaki. Dan ketika dia mengingat-ingat,
justru saat itulah saat yang paling menyedihkan dan paling sulit dalam hidupnya.
Hal ini menjengkelkannya dan dia mengeluh kepada Tuhan sambil berkata, "Tuhan, Engkau pernah
berkata kepadaku bahwa bila aku memutuskan mengikutiMu, Engkau akan selalu berjalan menyertai
aku. Tapi sekarang aku melihat bahwa justru pada saat paling sulit dalam hidupku, cuma ada jejak
satu pasang telapak kaki. Aku tidak mengerti mengapa Engkau meninggalkan justru pada saat
dimana aku sangat membutuhkanMu."

Tuhan menjawab, "Umat Ku, Aku tidak pernah meninggalkanmu pada saat-saat itu. Kamu hanya
melihat jejak satu pasang kaki, karena justru pada saat-saat yang sulit itu, Aku menggendongmu."

June 21, 2012

nasihat untuk sahabat

Sahabat,
Bersama kita mulai belajar
Untuk tidak memiliki sesuatu

Apa yang pernah Rabb berikan
Apa yang pernah Rabb kasihkan
Apa yang pernah Rabb titipkan
Semuanya milik yang Maha Rahmaan

Jadi adakah bagi kita alasan
Untuk merasa keberatan
Jika sebagian harta kita sisihkan
Jika sebegian kerat roti kita berikan
Jika sebagian waktu kita infakkan
Jika sebagian permata kita dermakan
Pada saudara kita yang lebih membutuhkan

Ataukah
Engkau merasa akan dilanda kemiskinan
Jika berbuat yang demikian



Sahabat
Bersama kita belajar
Untuk tidak dimiliki oleh sesuatu

Apa yang pernah Rabb sediakan
Apa yang pernah Rabb sandingkan
Apa yang pernah Rabb mudahkan
Semuanya dijadikan sebagai ujian
Untuk membuktikan bahwa cinta yang pernah kita ikrarkan
Tidak sebatas dalam ucapan

Haruskah kita lebih mencintai abi
Haruskah kita lebih mencintai umi
Haruskah kita lebih mencintai istri
Haruskah kita lebih mencintai puri
Haruskah kita lebih mencintai merci
Haruskah kita lebih mencintai deadline tak bertepi
Haruskah nyawa kita berakhir di ujung sepi

Mengapa engkau lebih mencintai dirimu sendiri
Ketimbang mencintai Rabb
Yang telah mengadakanmu di muka bumi

Mengapa engkau lebih mencintai semuanya ini
Ketimbang mencintai Rabb
Yang telah menyediakan semua yang kamu cintai di dunia ini

Ataukah
Engkau merasa
Bahwa engkau dipersulitkan
Bahwa engkau direpotkan
Bahwa engkau disiksakan
Karena yang engkau ingin adalah ketenangan
Karena yang engkau inginkan adalah keselamatan
Karena yang engkau inginkan adalah bersenang-senang

Tanpa pedulikan umat yang mulai dihujani tusukan
Tanpa pedulikan saudaramu yang mulai dilanda kelaparan
Tanpa pedulikan saudaramu yang kini mulai ditimpa kemusyrikan
Tanpa pedulikan saudaramu yang dalam setiap sujud ditemani mortir dan dentuman
Tanpa pedulikan risalahmu yang kini mulai dicincang
Sementara kamu hirup gratis hawa ini setiap pekan



Sahabat
Bersama kita belajar
Untuk berbuat sesuatu bukan karena sesuatu
Tetapi karena Rabbmu

Apa yang pernah Rabb perintahkan
Apa yang pernah Rabb larangkan
Apa yang pernah Rabb tunjukkan
Semuanya adalah hidayah yang harus kita jadikan tuntunan

Berbuat baiklah
Karena kita memang harus berbuat baik

Beramallah
Karena memang kita harus beramal

Berjuanglah
Karena memang kita diperintahkan

Bersujudlah
Karena memang kita harus bersujud di hadapan

Dan berbuatlah
Bukan karena engkau ingin dipuji
Bukan karena engkau ingin dicintai
Bukan karena engkau ingin dikenali

Dan berbuatlah
Lebih dari sekadar takut akan azab-Nya
Lebih dari sekadar harap akan jannah-Nya
Lebih dari sekadar rindu akan cinta-Nya

Tapi berbuat baiklah
Karena kita memang begitu tulus mencintai-Nya

Sahabat,
Di manakah ujung keihklasan
Ia ada dalam setiap nikmat
Yang benar-benar membekas dan dapat kamu rasakan

Maka, adalah sebuah keniscayaan
Jika kelak kamu dapat masuk dalam jannah-Nya
Melalui sekerat roti yang pernah kau sisihkan
Melalui setitik kebaikan yang pernah kamu berikan

Bukan karena sekerat roti yang kau dermakan
Tapi karena engkau kini mulai pahamkan
Akan arti satu dari sejuta nikmat yang kamu rasakan
Tak ada salahnya sang rabun membawa pelita
dan menapaki jejak di bawah semburat surya
sebab kebutaannya tertutup
pada tiap-tiap sudut penjuru kutub

Tak ada salahnya sang bisu bernyanyi syahdu
dan takjub dengan cahaya-Nya yang tak bersumbu
sebab kebisuannya menyekap segenap akal pikiran
dan mengekang ketidak-berdayaan untuk mengingat-Nya

Tak ada salahnya sang tuli bicara suara hati
dan berceracau notasi warna-warni
sebab ketuliannya bersemayam di telaga suci
tempat merenangi kedalaman makrifat nurani

Yang bersalah adalah mereka yang mengaku waras
atau mereka yang mengaku mampu melihat
atau mereka yang mengaku mampu bicara
atau mereka yang mengaku mampu mendengar
atau bahkan kesemuanya
namun terbutakan dengan fatamorgana semu
terlucuti keangkuhan
terhanyut kemunafikan
tenggelam dalam kegilaan
dan merasa diri waras dengan hidup bebas
merasa diri gemilang dengan tabir kehampaan
merasa diri menang pada dunia hitam
serasa hidup kekal hingga akhir jaman

May 31, 2012

FIM – 29 April 2012 - #manakaraktermu

            Untuk tahu karakter seseorang beri dia jabatan. Bendera merah putih ini belum ada apa-apanya kalau rakyat tidak mempunyai karakter. Pimpinan itu hanya menyangkut jabatan, tapi pemimpin itu bisa mempersiapkan ke depannya seperti apa. 

Masa depan itu terletak di mana? Kalau kamu mengalami kesulitan di kampus, saya juga menghadapinya setiap hari. Tapi bagaimana kita bertahan dari kesulitan-kesulitan ini. Pernah membaca keuntungan Freeport? 8.500 triliun di tahun 2010. Royalti untuk Indonesia cuma 1%. Dari 1% ini hanya 20 triliun masuk kas. 60 triliun menguap di udara. Apakah ini masa depan kita? 

Bicara karakter itu bicara kebenaran. Tanggung jawab pada jabatan akan selesai., tapi tanggung jawab untuk negara tidak pernah selesai. Pada waktu membangun rumah, suatu saat itu akan selesai. Tapi membangun rumah tangga tidak pernah selesai. Perilaku harus dididik dari sekarang. Kalau hari ini anda bisa jujur, besok belum tentu. Misal hari ini saya disogok 2 juta dan saya menolak, belum tentu saya tidak goyah ketika disogok 2 milliar. Belum tentu...

Ada fakta iblis:
“Ya Tuhan saya ingin pensiun saja karena saya tugas saya diambil alih oleh pejabat. “

Memberi 10000 pada tukang parkir tidak ikhlas,  tapi untuk jajan ringan saja. Padahal ketika kita memberi pada tukang parkir, ia mendoakan kita dan keluarga kita dan menjadikannya lebih ikhlas dalam bekerja. Minimarket itu alat penghancur ekonomi paling strategis. Entah dari harganya, desainnya, dan penataannya. Tidak ada warung kecil yang bisa bertahan lama daripada minimarket.  

Ketika Soekarno masih hidup, 60 ribu terbaik Indonesia disembelih. Ketika Nagasaki Hiroshima dibom, yang diselamatkan adalah para guru-gurunya. Mereka sadar bahwa yang yang menjadi kunci untuk membangun bangsa kembali adalah karakternya.

Kata-kata Ki hajar dewantoro sekarangsudah berbeda. Tut wuri ngerogohi, ing madyo ngangkut bondo, ing ngarso ngapusi. Di belakang minta, di tengah korupsi, di belakang membodohi. Ketika rakyat ingin berpendapat maka wakil rakyat bilang sudah saya wakili, ketika rakyat ingin kaya mereka pun bilang sudah saya wakili. Inilah Indonesia.

Membunuh 1 orang disebut kriminal, membunuh 1000 disebut orang politik, membunuh 1 juta orang mengurangi disebut mengurangi statistik! Bagaimana supaya kita aman?

Ada 2 K untuk memperbaiki kualitas manusia: kompetensi dan karakter. Mendiknas mempromosikan tentang pendidikan karakter, menurut saya, harusnya: pendidikan kompetensi berbasis karakter. Jadi meningkatkan karakter bukan berarti mengesampingkan kompetensi. Doktor ekonomi yang tidak berkarakter tidak bisa membedakan investasi di Indonesia dengan investasi untuk Indonesia. Bekerjalah di asing, bukan untuk asing. Karena mereka, perusahaan-perusahaan asing ini, bekerja di Indonesia dan bukan untuk Indonesia.

 Ada 2 K untuk meningkatkan kompetensi: kapasitas dan kapabilitas. Makelar kapasitasnya bagus, ngomongnya bagus, tapi kapabilitasnya enggak. Karakter intinya akhlak, segala sifat baik untuk menjalankan diri sendiri. Maka dari OB sampai presiden harus menjalankan tanggung jawab. Misal Presiden semunggu sekali menyapu bersama OB apa SBY didemo Karen apa? Tidak, karena presiden sudah memahami profesi OB, dan menjalankan tugasnya.

            Pemimpin tidak harus seorang doktor, tapi ia harus tahu ke mana arah bangsa ini. Pemimpin harus melahirkan pemimpin, bukan pasukan. Karena pemimpin adalah problem solver. Kalau pemimpin hanya melahirkan pasukan, maka dia akan capek. Kenapa? Karena ia harus bekerja dan berfikir sendiri.

       Berapapun tinggi jabatan dan apapun profesinya harus punya karakter. Kalau pemimpin punya 3 hal tadi, maka akan jadi pemimpin yang baik. Kompetensi tanpa karakter itu merusakkan. Kompetensi itu adalah kulit, penmapilan bisa berubah, tapi karakter tidak. Anda baik tapi tidak cerdas, maka anda bisa didzalimi orang.

              Confucius: tidak pernah muncul batang yang baik dari akar yang rusak. Tidak akan muncul bangsa yang baik kalau karakternya belum baik.

Kompetensi membuat anda professional tapi karakter membuat anda dewasa.

Apa beda ambisi dan visi? Ambisi pribadi, visi menyangkut orang lain. Harus ada sentuhan dengan orang lain, harus berhubungan dengan orang lain. Apa beda bisnis dan ekonomi? Bisnis untuk pribadi, sementara ekonomi untuk orang lain.
Kedudukan bersifat sementara dan tanggung jawab bersifat selamanya.
Meniti karakter adalah harus melewati sepenjang usia yang kita lalui. Jangan pernah curang sekalipun. Kompetensi ibarat menidirikan tangga, apakah kompetensi bersandar di tempat yang benar.

May 28, 2012

Saudara dan saudari kaum muslimin dan muslimat
Renungan
khususnya untuk para wanita dan diriku sendiri.....

Sayidina Ali ra menceritakan suatu ketika melihat
Rasulullah saw menangis manakala ia datang bersama Fatimah.

Lalu keduanya bertanya mengapa Rasulullah saw menangis. Beliau menjawab,

"Pada malam aku di-isra'- kan , aku melihat perempuan-perempuan yang sedang disiksa dengan berbagai siksaan. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena, menyaksikan mereka yang sangat berat dan mengerikan siksanya.

Putri Rasulullah saw kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya. "Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih.

Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.

Aku lihat perempuan tergantung kedua kakinya dengan terikat tangannya sampai ke ubun-ubunnya, diulurkan ular dan kalajengking.

Dan aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Serta aku lihat perempuan yang bermuka hitam, memakan tali perutnya sendiri.

Aku lihat perempuan yang telinganya pekak dan matanya buta, dimasukkan ke dalam peti yang dibuat dari api neraka, otaknya keluar dari lubang hidung, badannya berbau busuk karena penyakit sopak dan kusta.

Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar,
beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang
rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malikat memukulnya dengan pentung dari api neraka,"kata Nabi saw.

Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka
disiksa seperti itu?

*Rasulullah menjawab, "Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.

*Perempuan yang digantung susunya adalah istri yang 'mengotori' tempat tidurnya.

*Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.

*Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.

*Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang yang kepada orang lain bersolek dan berhias supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya.

*Perempuan yang diikat kedua kaki dan tangannya ke atas ubun-ubunnya diulurkan ular dan kalajengking padanya karena ia bisa shalat tapi tidak mengamalkannya dan tidak mau mandi junub.

*Perempuan yang kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah tukang umpat dan pendusta. Perempuan yang menyerupai anjing ialah perempuan yang suka memfitnah dan membenci suami."Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis.
Dan inilah peringatan kepada kaum perempuan.


Sekarang Anda mempunyai dua pilihan:
1.. Biarkan info ini tetap pada saya.
2. Share info ini ke sejumlah orang yang anda kenal dan Insya Allah ridha Allah akan dianugerahkan kepada setiap orang yang anda kirim.
Wallohu a`lam bi showab..
Tafadhol..

May 26, 2012

"90% syuro, 10% ilmu"


Saya tidak ingin bertele-tele. Bahwa saya sangat menikmati kehidupan pasca lembaga. 
Saya bisa menimba ilmu lebih banyak, saya merasa menjadi pembelajar yang sebenarnya. 

Hidup saya lebih normal dengan pemenuhan hak ilmu yang selama ini saya zhalimi.
Sejenak berpikir, alangkah para aktivis dakwah kampus (ga semuanya sih, yang ga ngerasa ga usah tersinggung ya.. Hehe)  miskin ilmu tapi kaya syuro. Tak terbayangkan bila satu orang diberikan amanah lembaga yang doble triple, syuro mungkin udah kayak minum obat. Pagi syuro, trus kuliah, trus ada syuro, trus kuliah, trus nyuci, trus ada sms dadakan yang isinya taklimat mas'ul, trus pergi lagi. Di dalam dadanya gegap gempita "saya akan berdakwah Ya Allah".

Apalagi kalo jadi pimpinan besar di lembaga ato tokoh yang lumayan aktif di kampus, para senior sudah berbinar-binar siap-siap nembak  buat ditempatkan di amanah yg selanjutnya. Pake dalil kekekalan amanah: amanah tidak akan hilang, hanya berpindah dari satu amanah ke amanah yang lain.  Kalo ga mau, akan ada gencatan dari berbagai penjuru supaya siap, mau ga mau, ini demi dakwah, katanya.  InsyaaAllah, kalo soal kuliah, pasti Allah akan menolong. Sungguh prasangka yang sangat baik, tapi menurut saya agak menyedihkan.

Yang di atas cuma deskripsi ekstrim yang mungkin kenyataannya ga selebay itu, ato mungkin aja ada yang lebih lebay. Hmm..mungkin ga salah dengan pola syuro full day, tapi ada satu syarat: apakah hak ilmu kita sudah terpenuhi? Bukan ilmu kampus doang, ilmu yang dipakai buat berdakwah itu lho.. Tidak semua dari ADK berasal dari pesantren dengan bekal ilmu yang luar biasa, yang bahasa arabnya udah di luar kepala, yang hafalan qurannya ga cuma 3 juz dari belakang. Kalau memang bekal ilmu sudah tumpah ruah, maka syuro all day dan malamnya benar-benar maksimal buat ilmu&ibadah, okelah. 

Tetapi mirisnya betapa banyak ADK yang lebih memprioritaskan syuro dibanding kajian-kajian. Udah ngaret, sepi lagi. Ketika ditanya ttg fiqih cuma bisa senyum-senyum. Ketika diajak ngobrol tentang pemikiran Islam, cuma cengar-cengir. Ketika ditanya hafalan Quran, tiba-tiba langsung batuk-batuk. Ketika disuruh baca Al Quran, tajwidnya masih ala kadarnya. Ketika ditanya seminggu ikut berapa kali kajian, jawabnya cuma sekali itu pun sebenarnya liqo pekanan. Sibuk jadi panitia seminar, tapi ga ngerti isinya apaan. Ketika ditanya definisi syahadat dan bagaimana penjelasan dari segi bahasanya, baru nyadar kalo ga ngerti-ngerti amat. Ketika ditanya buku fiqh apa yang sudah tamat dibaca, ternyata jawabannya kitab Google. Ketika ditanya buku tafsir apa yang dipunyai sebagai pegangannya, jawabannya sama: tafsir Google. Ketika diminta kultum, kultum Google.  

Alangkah hebatnya aktivis dakwah kampus, syuro lari sana-lari sini, permasalahannya seputar VMJ, tugas-tugas kuliah kurang jadi prioritas,  di kelas ngantuk dan ga dapet apa-apa, akhwat pulang malam-ikhwan ngebiarin aja, problematika lembaga biasanya miskin kader atau gontok2an sama rival, ngapalin Quran cuma di sisa-sisa tenaga padahal fesbukan selalu sempet, kajian kalo sempet doang padahal tau kalo dirinya miskin ilmu, belajar bahasa Arab baru level syukron-afwan-jazakallah-akhi-ukhti.  Sebenarnya kita mau mendakwahi apa sih, kawan-kawan? Udah lulus mau ngapain sih?

Udah ga musim lagi aktivis dakwah punya IP di bawah rata-rata, telat kuliah, bolos  karena alasan syuro.

Kalo gitu ga usah kuliah aja. Malu-maluin. Jadilah aktivis dakwah saja, bukan aktivis dakwah kampus. Biar kuliah ga terzhalimi, lembaga jadi lebih fokus. Kecuali kalo ngampus tujuannya biar dapet ijazah, ya "bolehlah". Hehe. Kayaknya saya fatalis banget ya? Saya hanya kasian dengan teman-teman ADK jika dari tahun ke tahun polanya sama. 

Menganggap syuro lebih mulia dibanding menuntut ilmu. Tidak adil dalam membagi pola waktunya, antara  ilmu dan lembaga dakwah kampusnya. Udah ilmu keprofesiannya ga bagus-bagus amat, IP standar, ilmu da'awiy nya juga minim. Yang paling sedih jika kuliah di fakultas ilmu sosial-humaniora tapi ga paham pemikiran Islam. Itu sama aja mau menyelam ke lautan tapi ga bisa berenang. Akhirnya kelelep.

Percayalah, Hasan al Banna berdakwah berdasar ilmu yang ga instan.

Udah ah,
Mungkin saya hanya iri dengan sekelompokan kawan-kawan saya yang begitu memurnikan aqidahnya dan tumpah ruah ilmunya.
Semoga kita bukan termasuk ADK yg instan.
Yang kuat karena lingkungan, namun rapuh ketika sendirian.


Jogjakarta, 18 februari 2011
semoga tulisan ini bukan efek post power syndrome..

*copas dari fb-nya orang (Yurisa Nurhidayati)
Semoga bisa diambil ibrohnya. yang kesentil jangan tersinggung ya. mungkin ini bisa jadi cambuk buat kita :)
kalo ga merasa ya ga usah dirasakan :p
keep tholabul 'ilmi!