Showing posts with label Monday. Show all posts
Showing posts with label Monday. Show all posts

May 28, 2012

Saudara dan saudari kaum muslimin dan muslimat
Renungan
khususnya untuk para wanita dan diriku sendiri.....

Sayidina Ali ra menceritakan suatu ketika melihat
Rasulullah saw menangis manakala ia datang bersama Fatimah.

Lalu keduanya bertanya mengapa Rasulullah saw menangis. Beliau menjawab,

"Pada malam aku di-isra'- kan , aku melihat perempuan-perempuan yang sedang disiksa dengan berbagai siksaan. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena, menyaksikan mereka yang sangat berat dan mengerikan siksanya.

Putri Rasulullah saw kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya. "Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih.

Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.

Aku lihat perempuan tergantung kedua kakinya dengan terikat tangannya sampai ke ubun-ubunnya, diulurkan ular dan kalajengking.

Dan aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Serta aku lihat perempuan yang bermuka hitam, memakan tali perutnya sendiri.

Aku lihat perempuan yang telinganya pekak dan matanya buta, dimasukkan ke dalam peti yang dibuat dari api neraka, otaknya keluar dari lubang hidung, badannya berbau busuk karena penyakit sopak dan kusta.

Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar,
beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang
rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malikat memukulnya dengan pentung dari api neraka,"kata Nabi saw.

Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka
disiksa seperti itu?

*Rasulullah menjawab, "Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.

*Perempuan yang digantung susunya adalah istri yang 'mengotori' tempat tidurnya.

*Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.

*Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.

*Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang yang kepada orang lain bersolek dan berhias supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya.

*Perempuan yang diikat kedua kaki dan tangannya ke atas ubun-ubunnya diulurkan ular dan kalajengking padanya karena ia bisa shalat tapi tidak mengamalkannya dan tidak mau mandi junub.

*Perempuan yang kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah tukang umpat dan pendusta. Perempuan yang menyerupai anjing ialah perempuan yang suka memfitnah dan membenci suami."Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis.
Dan inilah peringatan kepada kaum perempuan.


Sekarang Anda mempunyai dua pilihan:
1.. Biarkan info ini tetap pada saya.
2. Share info ini ke sejumlah orang yang anda kenal dan Insya Allah ridha Allah akan dianugerahkan kepada setiap orang yang anda kirim.
Wallohu a`lam bi showab..
Tafadhol..

April 9, 2012

perhatikan sekeliling kita


Assalaamu’alaykum pembaca setia blog saya {berasa ada yang baca aja >.<}…
Apa kabar?? Ah, pertanyaan yang membosankan ya? Yasudaaaah… saya gak usah nanya aja. Males juga sebenernya #KICK
Hehehe… gak deng becanda lho!!! *cheers :D

Akhy wa ukhty, fellas, guys, saudara-saudara, dsb, hari ini saya kembali berkontemplasi setelah kemarin saya menemukan begitu banyak hal –yang saya katakan ini- lucu, menarik, yang harus saya, kita, pelajari bersama…

Saya yakin hal ini akan menjadi pemantik akan adanya keragaman opini.. gak papa. Sudah menjadi suatu hal yang fitrah ketika seseorang beropini tentu akan ada pemikiran-pemikiran yang pro maupun kontra terhadapnya…

Tentu teman-teman sudah sadar, dan saya yakin teman-teman jauh lebih cerdas dan kritis daripada saya dalam menerima hal ini… teman-teman tahu bukan isu tentang kebangkitan spiritualitas di abad 21 sudah menjadi hal klise yang sering memancing antusiasme?

Indonesia pun tidak ketinggalan memeriahkan antusiasme isu kebangkitan spiritualitas tersebut. Coba deh perhatikan, belakangan ini, di tanah air kita tercinta ini marak sekali diadakan training-training yang berbau spiritualitas.. langsung aja nih ya to the point, misalnya aja nih kayak ESQ, atau training ma’rifat dalam sehari (di dalamnya juga ada paket SQ), atau training shalat khusyu’, dan lain sebagainya. Bisa terlihat kan kalau kesemua training tersebut masih menambatkan visinya terhadap Tuhan. Untuk membangun hubungan yang semakin dekat dengan Tuhan.

Berdasarkan pengalaman dan fakta-fakta yang ada di lapangan, training tersebut mencoba untuk menghadirkan sebuah keharuan psikis yang bersifat spiritual. Uraian-uraiannya bukan untuk dikritisi secara teoritis, tetapi lebih diarahkan untuk membuat peserta training mengalami intensitas psikis akan kebesaran Tuhan, sebuah kesadaran yang distimulus oleh sugesti berupa kata-kata dan visualisasi. Apabila peserta bisa merasakan keterharuan, bahkan hingga menangis, maka peserta akan merasakan suatu kedekatan tersendiri dengan Tuhan.

Biasanya training-training ‘spiritual’ seperti itu memanfaatkan berbagai ‘gangguan’ psikis ketimbang kesadaran reflektif. Para peserta dikondisikan sedemikian rupa: lampu dipadamkan, lilin dinyalakan, suasana dibuat hening, dan para peserta diberikan kata-kata sugestif yang dapat membuat mereka terharu, menangis, meraung-raung, atau bahkan mencabik-cabik pakaian teman sebelahnya *maaaaapp.. hiperbola banget saya ya -,-

Dan yang menjadi perhatian saya adalah: untuk beberapa waktu para peserta dimungkinkan akan mengalami perubahan kepribadian, ke arah yang positif tentunya. Efek training ini lumayan terasa untuk satu dua hari –alhamdulillah kalau lebih lama-. SETELAHNYA, itu semua hanya tinggal kenangan.

Kau tahu alasan saya mengangkat tema seperti ini? Karena sudah beberapa hari ini saya –mau gak mau, sadar gak sadar, secara gak langsung- memperhatikan mereka-mereka yang telah mengikuti training dan pada saat training mereka begitu antusias, begitu memaknai secara mendalam setiap tindakan yang dilakukan oleh –seringkali kita menyebutnya- motivator, namun…. terlihat tanpa memberi efek apapun. Seperti tak ada yang tertorehkan sama sekali di dalam kalbu mereka..
Yang saya rasakan melihat fenomena ini adalah: miris.
Rupanya selama ini saya luput melihat maraknya lokakarya ‘spiritual’ bertarif mahal yang menawarkan efek instan, seperti ESQ, shalat khusyu’, mengalami hakikat syahadat tanpa tirakat bertahun-tahun, dan lain sebagainya. Selain itu, saya juga salah memprediksi. Awalnya saya mengira training-training tersebut akan berlangsung dalam waktu sebulan atau dua bulan atau paling tidak seminggu lebih cepat, tapitapitapi ternyata hanya dalam dua atau satu dua hari training saja!

Apakah karena sekarang adalah zaman instan, maka spirituailtas pun menjadi instan juga?
Seringkali spiritualitas diposisikan sebagai salah satu nilai tawar dalam industri kiat praktis. Spiritualitas pun berubah rupa menjadi terapi, dan bukan lagi praktik penempaan dan penyucian jiwa sepanjang hayat. Gairah pencarian akan Tuhan seringkali menjadi tak terbedakan dengan gairah kepenasaran untuk merasakan berbagai sensasi seolah-olah spiritual. Sensasi-sensasi tersebut distimulus melalui berbgai pengondisian psikis. Karenanya, kini pun muncul simulakra mistisisme berupa titik balik, yaitu, ketika spiritualitas hanya menjadi semacam terapi untuk mereparasi dan mengembalikan manusia ke pola hidup hedonis dan hasrat kebertubuhannya.

Saya menyadari, jantung spiritualitas bukanlah pada kiat praktis lagi instan, atu juga pada kepribadian cangkokan ala bukku psikologi populer dan training ‘spiritual’. Jantung spiritualitas ada pada permasalahan keunikan tiap manusia, yaitu, rahasia misi hidup individu. Rahasia misi hidup tersebut tersimpan jauuuuuuuuuuuuuuuuhhh di dalam jiwa (bukan psikis) dan ruh. Tak ada satu pun kiat praktis dan training instan yang membuka rahasia ini. Rahasia misi hidup tersebut hanya bisa diraih dengan penempuhan jalan spiritual yang panjang lagi sepenuh hati.,

Mengajar tanpa menggurui,
Memberi nasehat tanpa merasa lebih mulia,
Dan menang tanpa ada yang merasa dikalahkan,
Adalah ciri dewasanya seseorang
-Aa Gym-

January 2, 2012

tak dapat ditawar

“Allah tidak akan menerima (ibadah) seorang perempuan hingga menutup auratnya dan Allah tidak akan menerima shalat seorang perempuan yang telah cukup umur hingga berkerudung kepala (ber-jilbab).” (HR. Thabrani)

 

December 26, 2011

Al-Hajj: 78

September 26, 2011

I am such a foreigner here

I can say that I am a foreigner here. Where is 'here'? Here, in Solo city, I'm such a foreigner because of my poor Javanese language skill :-|
eventhough my father is Javanese, I cannot speak Javanese at all. My Javanese vocabulary is so poor so don't ever have such an expectation that both my pronounciation and dialect even could reach D+ mark wkwkwkwk :D

The way I talked became completely awkward while I was talking in Javanese language. It's become weirder and weirder for me hearing my humiliating pronounciation and dialect of Javanese language. But it's become funnier and funnier for my friends hearing my spectacular pronounciation and dialect of Javanese language. Sometime, they laugh after hearing that. They said that the way I spoke Javanese language is 'wagu', aha!! I've found a new word :D

I have one humiliating experience of speaking Javanese. It happen few weeks ago, when I'm presenting my presentation, exactly at opening greeting. I said "sugeng injing" which means "good morning" in english. Directly after I told that, all of the audience which is my classmates died of laughter. What in this word is this?? It's it that funny? My Javanese???
I should learn more about it immediately.

truly a good event :D

Like almost all of new college here, I'm such a foreigner here. I come from Tangerang city in province of Banten. We, new colleger from faculty of MIPA, met for the first time on the first day of OSMARU. We didn't know each other at all. We talked awkwardly, greeted shyly and tried to treat each other well and kindly in that time. But, because I have that kind of personality hohoho I'm pretty talkative and cheerful, so it's okay WKWKWKWKWK *kick!

As long as time passed by. We spent those three days of OSMARU together with all tragedy, disaster, smiles, laughs, jokes, rumbles, and tears. We recognized each other those days while we are preparing our task for tomorrow, making cheering song, etc.
We became closer. And I, of course, have found many new friends :D maybe this is the purpose of this event that we can start recognizing each other quickly, making friend quickly because the way we'll face will be hard then we'll be so busy studying instead making friends. So it's the right time, though it's hard time (with all that task).

I'm touched our intimate relationship

It was nice and touch at once. Firstly, math department/math major of science faculty group was not too good in togetherness unlike other groups. Moreover, the group slogan we had made is slightly odd. So we were end up singing an odd slogan awkwardly with no rhythm. It still went like that until 2nd day of OSMARU, whereas other major/department of science faculty had been far better in togetherness.

But it's turned 180 degree on the next day, exactly on the 3rd day of OSMARU. We became really good in togetherness. Indeed, it was perfect. Even we still sang that odd slogan but because of our perfect togetherness, the 'not really odd' slogan became really cool and ecstatic slogan. We yelled the slogan in harmony brightly. Immediately, the mood of our group went up.

In fact, now, if we compared it to other major/department of science faculty, we are in first place of togetherness :D we still having good time together until now. Greet each other warmly. Get along well with each other.

MATEMATIKA JAYA d(^.^)b