Showing posts with label Tuesday. Show all posts
Showing posts with label Tuesday. Show all posts

October 2, 2012

Beberapa orang tidak pernah belajar sesuatu karena mereka menggenggam segala sesuatu terlalu
cepat. Kebijaksanaan bukanlah suatu titik sampai akan tetapi suatu cara berjalan. Kalau engkau
berjalan terlalu cepat, engkau tidak akan melihat pemandangan yang indah.
Dengan tepat mengerti kemana engkau menuju mungkin adalah cara yang paling tepat untuk
tersesat. Tidak semua orang bergelandangan tersesat.

Tuhan menggendongmu

Pada suatu malam seorang lelaki bermimpi bahwa dia sedang berjalan menyusuri pantai dengan Tuhan.
Di langit tergambar berbagai peristiwa masa lalu hidupnya. Setiap kali dia melihat, ada dua pasang
jejak telapak kaki di pasir: Satu pasang adalah jejak kakinya dan sepasang lainnya milik Tuhan.
Namun dia melihat kadang hanya ada satu pasang telapak kaki. Dan ketika dia mengingat-ingat,
justru saat itulah saat yang paling menyedihkan dan paling sulit dalam hidupnya.
Hal ini menjengkelkannya dan dia mengeluh kepada Tuhan sambil berkata, "Tuhan, Engkau pernah
berkata kepadaku bahwa bila aku memutuskan mengikutiMu, Engkau akan selalu berjalan menyertai
aku. Tapi sekarang aku melihat bahwa justru pada saat paling sulit dalam hidupku, cuma ada jejak
satu pasang telapak kaki. Aku tidak mengerti mengapa Engkau meninggalkan justru pada saat
dimana aku sangat membutuhkanMu."

Tuhan menjawab, "Umat Ku, Aku tidak pernah meninggalkanmu pada saat-saat itu. Kamu hanya
melihat jejak satu pasang kaki, karena justru pada saat-saat yang sulit itu, Aku menggendongmu."

April 4, 2012

03042012

Seharusnya malam ini saya beristirahat… memperbaiki kondisi fisik saya yang -ternyata- masih lemah.. meski sebenarnya di kampus, saya seperti sudah menjadi manusia tanpa penyakit yang bersarang dalam tubuh… tapi akhir-akhir ini saya memiliki hobi baru… hobi yang rasanya jauh lebih menarik daripada memikirkan rentetan rumus di papan tulis atau mendengarkan dosen yang berceracau pada papan tulis bisu, bukan pada kami, para mahasiswa yang haus ilmu.. hobi baru saya, semacam menulis buku harian, menumpahkan segala uneg-uneg, karena ada puluhan bahkan ratusan kata yang rasanya sudah berdemo minta ditumpahkan dalam bentuk tulisan.. ya, buku harian digital tepatnya.. kembali ke permasalahn tentang kondisi fisik saya yang ‘pancaroba’… hmm.. mungkin karena pada hari ini ada salah satu bentuk kegiatan yang menjadi minat saya yang terjadi ketika ujian pada salah satu mata kuliah… presentasi, yang tentunya akan membawa kita pada sesi pertanyaan, lalu –kau tahu- diskusi.. WALAUPUN di tengah diskusi tersebut –TERNYATA- dosen yang mengampu mata kuliah tersebut suka sekali meralat saya –yang kata orang, kritis-… tadinya  saya pikir, “ah, basi banget ini nih, krik banget… yang namanya diskusi ya diskusi aja… malah kalau perlu ada sedikit ‘pemantik’ kemudian menjadi ‘pemanasnya’ biar cakrawala kita makin terbuka. Tapi ini kok berasa terpenjara dalam aturan-aturan abstrak yang rasanya seperti mengkungkung ide-ide brillian untuk tumpah ruah dalam diskusi tersebut.” Beliau bilang sih ini diskusi ilmiah..
 
Namun setelah kelompok saya selesai presentasi, saya jadi mikir… berkontemplasi… “Wah, emang dasar lagi PMS (lagi-lagi nyalahin siklus @.@), bawaannya emosi naik turun, langsung berspekulasi tapi gak mikir implementasinya kayak gimana, jadi super egois, pengennya terus-menerus dimengerti, tapi emang itu wajar kok!” Tapi sejurus kemudian, saya harus mengakui Beliau (Dosen Pengampu) memang benar, dan SAYA SALAH!!! Saya sadar, rasanya seperti tertampar, jiwa saya masih dipenuhi dengan semangat, idealisme, dan potensi untuk perbaikan negeri. Kemudian saya menarik benang merahnya, padatnya aktivitas akademis dan non-akademis, ditambah dengan rongrongan untuk lebih realistis, membuat saya cenderung tidak seimbang dengan idealisme saya. Padahal idealisme itulah yang membuat saya terus berjuang, berkontribusi, dan menebar manfaat bagi masyarakat.
Dan saya pun tentu tahu bahwa bangsa ini membutuhkan pemimpin yang berani, cerdas, aktif, dan memiliki integritas untuk melayani masyarakat. Namun, setelah kejadian hari ini, saya menambahkan satu lagi unsur yang harus dimiliki oleh seorang calon-calon pengisi peran-peran pembangun peradaban negeri, sopan dan santun –dalam peristiwa ini, penyampaian argumentasi-. Ya, poin penting tambahan yang harus terpatri dalam otak. 
(Terima kasih Bu Respati :), engkau mirip dengan Ayah saya yang hobinya ‘menampar-nampar’ saya hahaha)

Lalu, berlanjut ke hal menarik lainnya… pasca kepulangan saya dari rumah sakit, bahkan ketika di rumah sakit pun, hampir semua orang mengatakan kalau saya terlalu lelah berorganisasi. Kau tahu apa yang saya rasakan ketika semua orang bicara seperti itu??? Marah? Tidak! Benci? Tidak? Saya lebih suka menyebutnya sebagai suatu tekanan mental. Seakan-akan mereka tak percaya jika saya mampu mengemban amanah-amanah di organisasi yang saya ikuti. Padahal, mereka gak tahu, fisik saya memang lemah, ringkih, hampir semua sahabat karib saya ketika di sekolah mengakui itu, tapi saya punya keteguhan hati yang kuat,  mental yang kuat… and life is all about mind set… ketika kita berpikir kita gak bisa, ya selamanya kita gak bisa.. kalau kita berpikir bisa, BISMILLAH, Allahu ma’ana..

Lalu kemudian, -lagi-lagi- saya berkontemplasi, saya punya spirit yang hebat, percaya diri yang kuat, mental yang kuat juga… tapi saya seperti sudah mendzalimi diri sendiri… mengorbankan segalanya hingga harus terkapar tak berdaya di rumah sakit dengan suhu tubuh hampir 40º. Kata Ayah saya, “Hanya orang-orang bodoh yang mengalami sakit karena masalah makanan.” Ya! Lagi-lagi saya ditampar. Ah, sudah biasa… dan memang ini adalah suatu hal yang bodoh hahaha. Dan seketika itu Allah ‘menyentuh’ saya… mensugesti diri agar kuat itu adalah hal yang penting, namun ada hal yang jauh lebih penting sebelum kamu melakukan itu… cari tahu kapasitas dirimu!

Hahaha..
Terkadang menertawakan diri sendiri itu menyenangkan bukan? Sekaligus memilukan? Dan kali ini rasanya perih seperti teriris sembilu.

Pasca keluarnya saya dari rumah sakit, ada satu bohlam berukuran 5 watt yang bertengger di atas kepala saya. Ya, saya punya ide yang mengawang-awang dalam pikiran saya kalau saya ingin mengadakan pers conference.. hahaha berasa selebiriti banget ya saya? =,=”
Ya, pers conference… mungkin hasilnya akan lebih terlihat seperti stand up comedy. Karena gak ada yang mau menggagas saya dan pasti akan kedengaran seperti lelucon konyol *nangisgulingguling* :’(

…mereka gak ada yang tahu, kecuali Allah dan beberapa teman dekat dan seseorang yang saat ini saya sungguh merasa nyaman bercerita rutinitas keseharian saya kepadanya ;)

Mereka gak tahu kalau saat ini saya tengah bervivere pericoloso. Kau tahu apa itu?
Konon katanya, hampir setengah abad yang lalu, masyarakat Indonesia tak asing dan dapat menangkap dengan mudah makna dari kata-kata vivere pericoloso. Suatu uji sederhana, saya tanyakan kepada Ayah saya yang kelahiran 1960-an, Beliau menjawab dengan fasih: “Pidato Bung Karno itu kan?”

Jawaban Ayah saya sangat kontras dengan persepsi rekan saya yang menyangka itu nama seorang pesepakbola asal Italia *gantungdiri* >.<

Vivere pericoloso: live-dangerously, diperkenalkan oleh Bung Karno dalam salah satu orasinya yang mengungkapkan kegundahan sang proklamator ini terhadap arah revolusi Indonesia yang masih rapuh pada 20 tahun pasca kemerdekaannya. Bung Karno menjanjikan dunia baru dengan berani mengambil tantangan dan dengan tegas menetapkan haluan dalam kemerdekaan sendiri, kemerdekaan yang hakiki. Dengan kata lain, berani hidup dalam segala kebahayaan, berani ber-vivere pericoloso dalam menentang dan melawan kesemuan kekuasaan. Hal inilah yang belakangan ini menjadi barang mewah nan langka dalam sistem kepemimpinan negara kita.

Lalu kau tahu? Saya adalah tipe orang yang sangat mudah menerima kebaikan –dalam hal positif-, dan saya termasuk orang yang cepat untuk mengambil keputusan dengan pemikiran yang matang lalu mengimplementasikannya dalam kehidupan pribadi, yang belakangan saya sadari bahwa hal ini membuat saya terlihat aneh, bahkan mungkin bagi beberapa orang, sangat aneh. Membuat saya seperti berubah karakter secara drastis. Dan sempat terbersit dalam benak saya, hanya orang-orang yang gak ‘kenal’ saya yang akan berkata seperti itu. Dan memang benar, hanya orang-orang yang belum intens berta’aruf dengan saya saja yang kemudian seperti kaget dan menganggap saya orang aneh, pemikirannya suka berubah-ubah, otoriter, dan segala macam label negative yang ditujukan pada saya. It’s okay, selama mereka gak mengutuk saya di belakang. Langsung saja katakan di hadapan saya, meskipun konsekuensinya saya akan menanggapinya dengan berapi-api dan siap mengasah parang di balik punggung saya. 
Hahaha tidak, tenang, saya bukan manusia berdarah dingin.

Kembali ke poin utama. Saya melihat dan sangat sadar bahwa dunia dakwah kita tengah memasuki era yang sangat kompetitif, era yang akan menentukan kita bertahan, maju, atau terkikis zaman. Pada situasi seperti ini, dakwah membutuhkan mereka yang berdaya guna, yang senantiasa siap memikul amanah dakwah. Beban dakwah hanya sanggup dipikul oleh mereka yang mengerti tentang apa dan bagaimana tabiat dakwah itu. Penyeru dakwah yang cerdas, penuh semangat, dan bertangggungjawablah yang siap berada di medan dakwah ini.
Dan hal ini kembali mengingatkan kita pada sebuah pandangan kaum ammah terhadap kami, para pengusung dakwah. Ya! Label eksklusivisme yang nampaknya masih enggan punah dalam diri kader-kader dakwah sejak dulu bahkan hingga saat ini. Dan saya tengah mencoba menghapuskan hal itu dalam diri saya saat ini. Karena saya sendiri pun merasa label itu juga tertorehkan pada diri saya, sadar atau tidak.

Saya memang lebih senang berkumpul dengan mereka para baber, atau beradu argument yang –terkadang- tidak menemukan titik temu dengan mereka yang satu pemikiran, satu visi, dan satu ide yang –mungkin terlihat seakan-akan- kami tergabung dalm suatu komunitas yang mungkin tak dapat dilihat secara kasat mata bahwasanya kami ‘sejenis’.

DAN saya sedang ingin hengkang dari eksklusivisme itu. “Keberanian untuk berada dalam lorong kebahayaan.” Itulah sebenarnya yang membuat pandangan orang terhadap saya menjadi benar-benar berbeda. Saya merasa terangkat dan merasa ‘ada’ karena berani mendobrak palang yang menghalangi suatu tujuan mulia yang lurus. Tentu berani di sini bukan sembarang berani, yang lebih sering ditafsirkan sebagai ‘nekat’ atau tanpa perhitungan. Berani di sini merupakan sikap lugas terhadap ketidakbenaran yang dilandasi pikiran jernih dan lurus. Sayangnya, yang saat ini terjadi pada saya adalah, saya berani bersikap lugas terhadap ketidak benaran dan hal itu saya landasi dengan niat lurus, tapi pikiran saya saat ini sedang tidak jernih. Inilah letak permasalahan utamanya!

Picik rasanya bila kita berpikir bahwa di masa lalu bangsa Indonesia tidak punya pilihan lain 
dalam kehidupan bernegaranya, karena memang sudah berada dalam keadaan yang berbahaya, sehingga sekarang di saat banyak pilihan tersaji di depan mata, kita memandang ideologi keberanian ini dengan sebelah mata. Sama sekali tidak! Hidup berbahaya adalah pilihan, seperti halnya pilihan antara memproklamasikan Indonesia atau tetap tunduk pada Jepang. Boleh jadi, lorong vivere pericoloso merupakan stimulus untuk memunculkan jalan satu-satunya bagi bangsa ini utnuk meretas segala macam masalah yang menghadang di depan.

Nah! Keberanian dalam menangani suatu hal sering hanya terbatasi oleh suatu dimensi ke-pemulaan yang tidak memerlukan skill dan pengetahuan lanjut. Dengan demikian, keberanian hanyalah berada setingkat di bawah kriteria kepemimpinan lain yang lebih populis dan terasa berharga untuk ditunjukkan karena diperoleh dengan cara yang susaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh sekaliiiiiiiiiiii *oke, ini lebay -,-“

Apa sih sebabnya bisa seperti itu?

Kau sadar? Bangsa ini terlanjur melahirkan masyarakat pintar bicara yang bernyali besar untuk membual dengan omongan hampa di depan umum dengan suara keras –disebut pemberani- daripada melahirkan sesosok manusia kalem (kalem ya! Bukan pendiam! Karena antara pendiam dan kalem menurut saya memiliki makna yang sangat berbeda) dengan berjuta gagasan mulia yang pasti teronggok di barisan terdepan kala dia merasa pemikiran yang benar disalahkan dan dia harus melawan. Jatuhlah gambaran mulia dari keberanian dengan serta-merta.

Bisa kita lihat juga toh, berapa banyak orang yang memegang golok sembari meneriakkan semboyan, “Ganyang Malaysia!” tapi hilang sehilang-hilangnya saat aparatur negara ini menelanjangi badan penegak korupsi di Indonesia? Nirkontribusi! Bukan itu yang dinamakan keberanian.

Yah, sebenarnya salah satu mimpi saya adalah: kau ingat, dan memang kau harus mengingat hal ini, bangsa ini suatu saat pasti akan maju, itu suatu keniscayaan, dengan atau tanpa kita. Jadi, merupakan pilihan bagi kita, ingin menjadi penonton perubahan itu atau menjadi salah satu pilar pengubahnya. Dan saya telah memilih!!!

Ah, mungkin untuk sekarang orang bilang itu hanya mimpi dan susah merealisasikannya. Namun, akan sampai kapan kita menunggu Ratu Adil datang dan memberi pencerahan pada bangsa ini? Sering terlintas dalam benak saya bahwa kita tidak harus menunggu-nunggu imam dari langit untuk memberantas kemungkaran dan membawa kita ke surga-Nya. Kitalah yang harus membawa surga itu ke dunia. Sekarang, bukan nanti!

Yayayayaya, saya tahu, lorong vivere pericoloso, penuh sesak dengan intrik dan konflik kepentingan. Dia datang bukan hanya dari luar, tetapi juga dari dalam. Seperti yang sudah saya katakan di awal cerita bahwa saya adalah orang yang memiliki percaya diri yang kuat, dan saya percaya bangsa ini membutuhkan saya, membutuhkan kita, tunas muda bangsa, untuk ikut berperan aktif dalam membangun diri ini. Bangsa ini memerlukan pribadi cerdas yang tanggap dan kokoh serta berani dalam bertindak.

DAN insya Allah saya siap bercokol di garda depan, menyongsong bahaya dan perubahan yang silih berganti, tak menentu -kadang terlihat memihak, tapi ternyata hanya muslihat-  momen kebanyakan orang enggan berada di sana.

Harusnya kita sudah merasa kenyang disusui oleh berbagai peradaban dan perkembangan zaman, dari cerita tentang nenek moyang dahulu sampai realita teknologi yang sedang dipertontonkan sekarang..

Saya ingin, dan saya yakin semua orang menginginkan ini: bangsa ini bangkit, sendiri, bertopang pada keringat dan tangan anak bangsa sendiri, melalui teladan kepemimpinan yang berani menembus lorong-lorong itu. Berani melakukan kebajikan di bawah cercaan, berani mengangkat kita di posisi yang semestinya, posisi negeri dongeng yang lama diidamkan pemikir-pemikir kita dahulu.

Kau tahu? Saya memiliki mimpi yang sangat banyak. Banyaaaaaaaaak sekali. Maka jika kau bertanya, apa mimpimu, apa cita-citamu, apa tujuanmu… saya hanya tersenyum jika pertanyaan itu terlontar… sungguh matematika yang sangat membingungkan. Dan jika ada yang bertanya, lantas apa yang saya dapatkan? saya hanya tersenyum jika pertanyaan itu terlontar… sungguh matematika yang sangat membingungkan…..

Ya. Terkadang lelah itu saling menghinggapi, terkadang jenuh itu saling menghinggapi, terkadang air mata itu tak tertahankan dan peluh terus menetes. Mungkin fase ini adalah fase adaptasi saya untuk lebih ‘tersiksa’.. dengan segala macam trouble di ranah dakwah kampus yang teramat kompleks..

Hanya perlu keikhlasan untuk menjalani jalan ini, keikhlasan untuk berpikir lebih, keikhlasan untuk berkorban lebih, keikhlasan untuk disakiti lebih, dan keikhlasan untuk berlapang dada lebih. Inilah hal yang diperlukan untuk menjalani jalan ini. Apakah jalan ini sebegitu sulit untuk dilalui???

Mengapa persyaratannya begitu berat dan terlihat sangat menyakitkan? Apa balasannya?
Balasannya hanya ridha Illahi. Ya, balasannya hanya itu saja. Jika kau mengharapkan lebih maka bukanlah di jalan ini tempatnya. Silakan kau cari jalan lainnya. Jika kau mendapati saya mendapatkan hal-hal lainnya, ini merupakan bonus. Setelah lelah dan letih seharian menjalankan sebuah kegiatan, bonusnya itu tak lebih dari nasi bungkus untuk makan siang atau makan malam. Anehnya, setelah kegiatan itu berlangsung, saya merasakan senang dan bahagia, padahal setelah kegiatan itu saya harus kembali lagi menjadi mahasiswa, diterjang oleh beberapa tugas dan ujian mata kuliah –yang kau tahu seberapa besar kesulitannya :)-. Kadang kala saya harus memutar otak bagaimana semua tugas-tugas itu dapat dikerjakan dengan baik, namun amanah di organisasi juga berjalan tak kunjung dengan optimal. Atau tugas lainnya yaitu menjadi anak bagi orang tua tercinta, menjadi teladan selaku kakak bagi adikku, dan menjadi santriwati di sebuah pesantren mahasiswa, dan segala macam lakon yang saya rasa tak perlu saya sebutkan semuanya di sini.
Semuanya harus berlangsung di waktu yang bersamaan, hingga terkadang saya berpikir bahwa saya menggadaikan masa muda saya dengan perjuangan ini. Namun, saya tahu bahwa saya ternyata sedang dijaga oleh-Nya dari perbuatan-perbuatan sia-sia, dari perbuatan-perbuatan yang justru akan menambah dosa.

Sungguh perjalanan ini sangat melelahkan.. semua kader pasti akan merasakan ini. Saya yakin. Tetapi, entah mengapa saya memilih jalan ini. Saya pun sempat bertanya kepada diri saya mengapa jalan ini yang  saya pilih… karena cinta… ya, karena cinta sehingga kita saling terhubung dalam jalan ini, dengan ikatan atas nama cinta untuk tetap terus bersama. Emas menggunung dan mahkota bertahtakan berlianpun tidak akan sanggup membayar semua ini. Namun, saya masih heran, mengapa saya masih mau berada di jalan ini. Saya menyebutnya jalan cahaya, di mana jalannya yang panas, dan saya berharap ada angin surga yang berhembus untuk sekadar menyejukkan hati ini.

Seperti yang saya celotehkan di status facebook saya hari ini: Bahkan orang-orang di sekitarku pun tidak menghargai, tetapi masih saja aku terus bertahan di jalan ini. Tidak sedikit mereka yang mencemoohku. Banyak yang berkata ini hanyalah pelarian dari akademikku yang buruk. Atau banyak yang berkata ini adalah manuver agar aku dapat terkenal dengan cepat. Atau yang lebih menyakitkan lagi, banyak yang berkata bahwa aku hanyalah bagian dari sekelompok orang-orang yang kurang kerjaan. Sungguh miris, ya semua itu tidaklah berbayar dan hanya atas dasar cinta aku melakukannya.

Yah. Tak apa. Mungkin memang mereka tidak tahu kalau saya dan teman-teman seperjuangan saya yang lainnya harus berjuang untuk nilai akademik, sembari harus memikirkan program-program kerja yang telah disusun, mengerjakan tugas-tugas di sepinya malam, berselimutkan bintang temaram yang menenteramkan hati, dan tidur bersama senandung nyanyian malam.
Matematika kita sungguh membingungkan, siapa diri saya dan siapa diri mereka. Saya tak terhubung dengan ikatan darah, namun mengapa saya memperjuangkannya, memikirkannya, mau bersusah payah, dan membantunya? Sekali lagi, saya hanya tersenyum jika pertanyaan itu terlontar… sungguh matematika yang sangat membingungkan.

Saya percaya, selepas hujan reda, kapanpun, di manapun saya berada. Pelangi yang merona di tangga langit tercipta khusus untuk saya. Tak peduli orang lain melihat pelangi yang sama atau tidak. Dan terserah saja Newton mau bilang tujuh warna, atau enam, atau lima… bagi saya, ia sejuta atau lebih. Sungguh. Tidak ada yang tidak terencana. Terserah saja siapa bilang apa… saya yakin, selepas hujan reda, pelangi merona dalam berjuta warna. Saya percaya… -DwiYosha-

            Semoga mimpiku indah

January 3, 2012

vhs telkom spj

...and this thing come in my mind. I googled about my beloved school (awkward) and found this amazing pictures (more awkward)..
Okay I'm a lil bit sad when typing this post :'(
but forget about me..
so
talking about my days as the student of
vocational high school telkom sandhy putra jakarta is.....
nano-nano
manis, asem, asin, and I'm finally feeling so much more.... exhausting. but absolutely 
HAPPY \(^.^)/

study study study, and extra study. I think 24 hours in a day is really doesn't enough.
oke, let's fly to my beloved school hehe.
thanks for reading, people, do some comments =)


SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta.. the best vocational high school in the world (oke ini lebay)

ruang kelas ^^


kehebohan di depan meja piket *nonton sea games


pemandangannya indah makanya jadi salah satu sudut favorit sekolah :)




kantin JUJUR, SEHAT, SEJAHTERA telkom spj ;)

musholla yang meninggalkan jejak-jejak sejarah tak terlupakan

ini jalan dari gerbang atau lobby atau yaaa gedung utama sekolah menuju kantin, parkiran, atau musholla



love the memories that we got together in this school guys :')

December 27, 2011

Mencintai-Mu



Tuhan betapa aku malu
atas semua yang Kau beri
padahal diriku terlalu
sering membuatMU kecewa
entah mungkin karna ku terlena
sementara Engkau beri aku
kesempatan berulang kali
agar aku kembali

dalam fitrahku sebagai manusia
untuk menghambakanMU
betapa tak ada apa-apanya
aku dihadapanMU

aku ingin mencintaiMU setulusnya,
sebenar-benar aku cinta
dalam do'a dalam ucapan
dalam setiap langkahku
aku ingin mendekatiMU selamanya
sehina apapun diriku
kuberharap untuk bertemu
denganMU ya Rabbi

Sesungguhnya...


Sebenarnya hati ini cinta kepada Mu
Sebenarnya diri ini rindu kepada Mu

Tapi aku tidak mengerti
Mengapa cinta masih tak hadir
Tapi aku tidak mengerti
Mengapa rindu belum berbunga

Sesungguhnya walau ku kutip
Semua permata di dasar lautan
Sesungguhnya walau ku siram
Dengan air hujan dari tujuh langit Mu
Namun cinta tak kan hadir
Namun rindu takkan ber bunga

Ku cuba menghulurkan
Sebuah hadiah kepada Mu
Tapi mungkin kerana isinya
Tidak sempurna tiada seri

Ku coba menyiramnya
Agar tumbuh dan berbunga
Tapi mungkin kerana airnya
Tidak sesegar telaga kautsar

Sesungguhnya walau ku kutip
Semua permata di dasar lautan
Sesungguhnya walau ku siram
Dengan air hujan dari tujuh langit Mu
Namun cinta tak kan hadir
Namun rindu tak akan berbunga
Jika tidak mengharap rahmat Mu
Jika tidak menagih simpati
Pada Mu ya Allah

Tuhan hadiahkanlah kasih Mu kepadaku
Tuhan kurniakanlah rinduku kepada Mu
Moga ku tahu
Syukur ku hanyalah milik Mu
 

August 2, 2011

road to osmaru 2011


waktu pertama kali memasuki gerbang UNS (Universitas Sebelas Maret), waaaaahhh muncul rasa bangga dalam diri saya karena berkesempatan untuk menempuh pendidikan di salah satu universitas negeri terbaik di negeri ini...
[maaf ya UNSOED, kamu belum beruntung untuk mendapatkanku :$$$$$$ ;D]
Kesan pertama saat tiba di UNS adalah rasa takjub melihat lengkungan besar di gerbang boulevard bertuliskan warna emas “Universitas Sebelas Maret” dengan beberapa ukiran aksara Jawa di atas pintu trotoar. Bangga plus kagum (maaf ya saya norak)



UNS, calon kampusku tercinta (???) ternyata menyimpan sejuta aset alam yang memiliki keeksotisan tersendiri (oke saya tau ini lebay -,-"). saya senang dengan tumbuh-tumbuhan dan sangat bersyukur bisa kuliah di Universitas Nomor Satu ini (aamiin ;) ). banyak pohon, teduh eeuuuiiii, bener-bener green campus! berasa kayak kuliah di ragunan kebun raya bogor deh haahaaaahhaaaa :$ yang pasti adeeeeeeeeeeemm.. gak kepanasan dan gak kedinginan juga. pokoknya pas deh. alhamdulillah... senang senang senang :D
waktu kemarin jalan-jalan ke kampus, saya lihat ada pohon sosis, waaaaaaahh *bangga* tau gak tau gak pohon sosis itu kayak apa?? saya juga sebenarnya gak tau sih nama benerannya apa atau nama ilmiahnya apa, pokoknya yang buahnya mirip sosis gitu lah yaa.



oh ya trus di uns juga ada yang namanya Argo Budya. seperti sebuah Panggung Terbuka yang dimiliki oleh UNS. letaknya berada di sebuah bukit yang biasa disebut dengan Gunung Kendil di dalam kawasan Fakultas Pertanian.
truss katanya dulunya UNS merupakan makam dan rawa-rawa. Kemudian, ketika akan dibangun kampus, kuburan tersebut dipindahkan di daerah belakang UNS dan Karanganyar, tapi gak semua makam dapat dipindahkan, masih ada beberapa makam. Makanya gak heran kalau di kampus ini banyak beredar mitos-mitos mistik dan kesan angker masih menyelimuti kampus ini. hmmmmm... *kuat iman kuat iman kuat imaaaan* Arga Budaya dihiasi oleh ornamen panggung terbuka yang berupa relief dan arca-arca.


di UNS juga Islamnya lumayan kental. maklumlah daerahnya para wali.. alhamdulillah, semoga kondusif untuk menaikkan iman hehehehee aamiin..

ohyaa, gak lupa, di UNS saya terdaftar sebagai mahasiswi jurusan MATEMATIKA, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam..


VIVA FMIPA UNS! gudangnya para scientist muda!!! :D


“Membentuk Generasi Baru Berakhlak Terpuji, Berjiwa Solutif, dan Peduli Lingkungan Menuju Kampus Madani”

July 12, 2011

menulis dengan jujur

Bertahun-tahun sudah saya tersangkar. Kalian gak akan tahu gimana rasanya, terjeruji di lingkungan yang sama sekali gak kalian inginkan, menghardik jiwa kalian sampai hambar, bahkan lebih buruk!
Kalian gak pernah mau tahu kan tentang kepedihan ini? Menangis dalam rangkulan kedua tangan sendiri, tenggelam dalam kesedihan yang menebah hati. Kalian-kalian... jangan pernah melucuti harga diri saya lagi dengan sorot mata seperti itu, menatap dengan sinar retina yang menghina.
Saya gak peduli betapa saya akan terlihat sangat cengeng.
Se-nggak peduli apa pun saya, sedewasa apa pun harusnya saya. Tangguh mana yang sanggup bertahan? Tangguh yang mana?!
Ya, saya memang ringkih. Sungguh ringkih.
Saya... Saya gak pernah bisa melupakan seperti apa hati saya saat itu. Berteriak. Menjerit. Terguncang. Menangis tanpa suara. Saya ingin tahu di mana letak nurani kalian?
Hhh, kumpulan pecundang itu?! Tentu aja nggak! Kalian gak pernah berhenti, gak pernah terketuk dan menangisi hati.
Kenapa harus saya? Kenapa kalian berlaku gak adil??
Bolehkah saya membenci kalian?
Hah, untuk apa? Bahkan kalian gak lebih penting dari tumpukan daging yang 'membusuk' yang pantas untuk saya hiraukan! Terlebih lagi, luka ini sudah mengering, namun membekas.