Showing posts with label saturday. Show all posts
Showing posts with label saturday. Show all posts

May 26, 2012

"90% syuro, 10% ilmu"


Saya tidak ingin bertele-tele. Bahwa saya sangat menikmati kehidupan pasca lembaga. 
Saya bisa menimba ilmu lebih banyak, saya merasa menjadi pembelajar yang sebenarnya. 

Hidup saya lebih normal dengan pemenuhan hak ilmu yang selama ini saya zhalimi.
Sejenak berpikir, alangkah para aktivis dakwah kampus (ga semuanya sih, yang ga ngerasa ga usah tersinggung ya.. Hehe)  miskin ilmu tapi kaya syuro. Tak terbayangkan bila satu orang diberikan amanah lembaga yang doble triple, syuro mungkin udah kayak minum obat. Pagi syuro, trus kuliah, trus ada syuro, trus kuliah, trus nyuci, trus ada sms dadakan yang isinya taklimat mas'ul, trus pergi lagi. Di dalam dadanya gegap gempita "saya akan berdakwah Ya Allah".

Apalagi kalo jadi pimpinan besar di lembaga ato tokoh yang lumayan aktif di kampus, para senior sudah berbinar-binar siap-siap nembak  buat ditempatkan di amanah yg selanjutnya. Pake dalil kekekalan amanah: amanah tidak akan hilang, hanya berpindah dari satu amanah ke amanah yang lain.  Kalo ga mau, akan ada gencatan dari berbagai penjuru supaya siap, mau ga mau, ini demi dakwah, katanya.  InsyaaAllah, kalo soal kuliah, pasti Allah akan menolong. Sungguh prasangka yang sangat baik, tapi menurut saya agak menyedihkan.

Yang di atas cuma deskripsi ekstrim yang mungkin kenyataannya ga selebay itu, ato mungkin aja ada yang lebih lebay. Hmm..mungkin ga salah dengan pola syuro full day, tapi ada satu syarat: apakah hak ilmu kita sudah terpenuhi? Bukan ilmu kampus doang, ilmu yang dipakai buat berdakwah itu lho.. Tidak semua dari ADK berasal dari pesantren dengan bekal ilmu yang luar biasa, yang bahasa arabnya udah di luar kepala, yang hafalan qurannya ga cuma 3 juz dari belakang. Kalau memang bekal ilmu sudah tumpah ruah, maka syuro all day dan malamnya benar-benar maksimal buat ilmu&ibadah, okelah. 

Tetapi mirisnya betapa banyak ADK yang lebih memprioritaskan syuro dibanding kajian-kajian. Udah ngaret, sepi lagi. Ketika ditanya ttg fiqih cuma bisa senyum-senyum. Ketika diajak ngobrol tentang pemikiran Islam, cuma cengar-cengir. Ketika ditanya hafalan Quran, tiba-tiba langsung batuk-batuk. Ketika disuruh baca Al Quran, tajwidnya masih ala kadarnya. Ketika ditanya seminggu ikut berapa kali kajian, jawabnya cuma sekali itu pun sebenarnya liqo pekanan. Sibuk jadi panitia seminar, tapi ga ngerti isinya apaan. Ketika ditanya definisi syahadat dan bagaimana penjelasan dari segi bahasanya, baru nyadar kalo ga ngerti-ngerti amat. Ketika ditanya buku fiqh apa yang sudah tamat dibaca, ternyata jawabannya kitab Google. Ketika ditanya buku tafsir apa yang dipunyai sebagai pegangannya, jawabannya sama: tafsir Google. Ketika diminta kultum, kultum Google.  

Alangkah hebatnya aktivis dakwah kampus, syuro lari sana-lari sini, permasalahannya seputar VMJ, tugas-tugas kuliah kurang jadi prioritas,  di kelas ngantuk dan ga dapet apa-apa, akhwat pulang malam-ikhwan ngebiarin aja, problematika lembaga biasanya miskin kader atau gontok2an sama rival, ngapalin Quran cuma di sisa-sisa tenaga padahal fesbukan selalu sempet, kajian kalo sempet doang padahal tau kalo dirinya miskin ilmu, belajar bahasa Arab baru level syukron-afwan-jazakallah-akhi-ukhti.  Sebenarnya kita mau mendakwahi apa sih, kawan-kawan? Udah lulus mau ngapain sih?

Udah ga musim lagi aktivis dakwah punya IP di bawah rata-rata, telat kuliah, bolos  karena alasan syuro.

Kalo gitu ga usah kuliah aja. Malu-maluin. Jadilah aktivis dakwah saja, bukan aktivis dakwah kampus. Biar kuliah ga terzhalimi, lembaga jadi lebih fokus. Kecuali kalo ngampus tujuannya biar dapet ijazah, ya "bolehlah". Hehe. Kayaknya saya fatalis banget ya? Saya hanya kasian dengan teman-teman ADK jika dari tahun ke tahun polanya sama. 

Menganggap syuro lebih mulia dibanding menuntut ilmu. Tidak adil dalam membagi pola waktunya, antara  ilmu dan lembaga dakwah kampusnya. Udah ilmu keprofesiannya ga bagus-bagus amat, IP standar, ilmu da'awiy nya juga minim. Yang paling sedih jika kuliah di fakultas ilmu sosial-humaniora tapi ga paham pemikiran Islam. Itu sama aja mau menyelam ke lautan tapi ga bisa berenang. Akhirnya kelelep.

Percayalah, Hasan al Banna berdakwah berdasar ilmu yang ga instan.

Udah ah,
Mungkin saya hanya iri dengan sekelompokan kawan-kawan saya yang begitu memurnikan aqidahnya dan tumpah ruah ilmunya.
Semoga kita bukan termasuk ADK yg instan.
Yang kuat karena lingkungan, namun rapuh ketika sendirian.


Jogjakarta, 18 februari 2011
semoga tulisan ini bukan efek post power syndrome..

*copas dari fb-nya orang (Yurisa Nurhidayati)
Semoga bisa diambil ibrohnya. yang kesentil jangan tersinggung ya. mungkin ini bisa jadi cambuk buat kita :)
kalo ga merasa ya ga usah dirasakan :p
keep tholabul 'ilmi!

abew; anin; azkha; latief :)

-with a troubled heart and many tears...
I have some friends. real good friends. we were friends since in the second grade of Junior High and we're getting close day by day for almost 2 years. we know each other pretty well. they listen to the music I love. watch movies that I watch. and we have the same taste of things.. together, we could laugh anything. anything surrounds us. friends, teachers(whoops), famous people, or even ourselves... our funny jokes and acts. everything. nonetheless, we often trapped in a fight anyway. pretty often. times that I spent with them always make me happy and a little talks can really boost my mood. but it was just several years ago. for now, I think I already missed 'them'. actually they're not going anywhere, but the person that being such a good friend of mine doesn't exist anymore. time changes, people changes, everything changes. we're all grown up. we already have our own life and they just don't fit to each other perfectly.



your pretty glamorous life is way too different with the simple life of mine. we're not close anymore. I never see them come to me like they used to before, or even just to talk to me for the last 1 year. I know them pretty much from their updates. but it just.. different. I feel like I never know themselves before. you know.. like a strangers. and if we met each other in the real world, they never greet me, like they don't know me, and so did I. but obviously I don't blame them for anything. it's not his fault for changes, and being different or something. the situation is just ain't right. our life is so freakin different. they already had bunch of quality friends, their friends since in kindergarten, some new high school mates... and I got mine too. this is life, time's running. until now, I'm still missed our silly conversation and laughs. eventhough it's all over now, I always remain them as my friend, although we never see each other after graduated. they just like sweetest old friends of mine that ever happened in my life and would always like that until the end of time.
*forgive my bad grammar

January 7, 2012

perjalanan menuju kampus

Well, UGM is my ambition. It really is. 


and... Wearing the most famous yellow jacket on my own, is my true ambition. Not that I disrespect UNS or whatsoever, it’s just I have an unexplainable passion on UI. University of Indonesia gitu lho, siapa sih yang nggak tau? “Saya kuliah disitu. Jurusan Pendidikan Dokter. Iya, ini jaket kuning Saya. Keren ya?” Ah pengen banget rasanya saya bisa ngomong gitu. Yah emang sih shallow banget alasannya. Cuma karena jaket almamater Yas? Cuma karena nama besar UI? Hahaha jaman giniiiii please deh!

Tapi gimana lagi sih ya, memang terkadang hal-hal cetek kayak gitu kan yang bisa bikin kita semangat? Jadi kebanggaan tersendiri aja gitu bisa make jaket kuning punya sendiri.(Catat, punya sendiri bukan minjem). Ah…. Tapi ya bagaimana lagi. 

Tapi setelah udah masuk dunia kuliah, percaya deh sama saya, nama besar universitas itu gak ngaruh. Jadi inget kata seseorang, "Dulu, universitas punya nama besar karena mahasiswanya. Sekarang, orang-orang pengen masuk kuliah karena nama besar universitasnya."

semua balik lagi ke diri kita sendiri sebenernya.
dan saya gak nyesel keterima di UNS. saya bahagia
saya udah dewasa. dan bukan anak kelas 3 SMA lagi yang mengelu-elukan terus nama besar universitas.



*cheers

December 31, 2011

“wanna be”?

Beginilah gambar perempuan yang kepalanya ibarat punuk unta, yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim dan lainnya bahwasanya mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau wangi surga, padahal bau wangi surga bisa dicium dari jarak yang sangat jauh..


MASIHKAH KAMU MENGATAKAN, “YANG PENTING HATI DULU YANG BERJILBAB”?


Ada seorang wanita yang dikenal taat beribadah.
Ia kadang menjalankan ibadah sunnah. Hanya satu kekurangannya, Ia tak mau berjilbab. Menutup auratnya. Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum dan menjawab ”Insya Allah yang penting hati dulu yang berjilbab. ”
Sudah banyak orang menanyakan maupun menasehatinya. Tapi jawabannya tetap sama.
Hingga di suatu malam.
Ia bermimpi sedang di sebuah taman yang sangat indah. Rumputnya sangat hijau, berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bias merasakan segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih hingga dasarnya kelihatan, melintas dipinggir taman. Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya.
Ia tak sendiri. Ada beberapa wanita disitu yang terlihat juga menikmati keindahan taman. Ia pun menghampiri salah satu wanita. Wajahnya sangat bersih seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.
“Assalamu’alaikum, saudariku….”
“Wa’alaikum salam. Selamat datang saudariku”
“Terima kasih. Apakah ini surga?”
Wanita itu tersenyum. “Tentu saja bukan, saudariku. Ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga ”
“Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini. ”
Wanita itu tersenyum lagi ”Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, saudariku ?”
“Aku selalu menjaga waktu shalat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah.”
“Alhamdulillah..”
Tiba-tiba jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka. Dan ia melihat beberapa wanita yang berada di Taman mulai memasukinya satu-persatu.
“Ayo kita ikuti mereka” kata wanita itu setengah berlari.
“ Apa di balik pintu itu?” Katanya sambil mengikuti wanita itu
“ Tentu saja surga saudariku” larinya semakin cepat
“ Tunggu..tunggu aku..”
Dia berlari namun tetap tertinggal. Wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum kepadanya. Ia tetap tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari.
Ia lalu berteriak, “Amalan apa yang telah kau lakukan hingga engkau begitu ringan ?”
“Sama dengan engkau saudariku.” jawab wanita itu sambil tersenyum
Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu. “ Amalan apalagi yang kau lakukan yang tidak kulakukan ?”
Wanita itu menatapnya dan tersenyum. Lalu berkata. “Apakah kau tak memperhatikan dirimu, apa yang membedakan dengan diriku ?”
Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab.
“Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke Surga-NYA tanpa jilbab menutup auratmu?”
Tubuh wanita itu telah melewati pintu, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar, memandangnya dan berkata. ”Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini untuk dirimu. Cukuplah surga hanya sampai hatimu karena niatmu adalah menghijabi hati.”
Ia tertegun..lalu terbangun..beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan shalat malam. Menangis dan menyesali perkataanya dulu.. berjanji pada Allah sejak saat itu ia akan menutup auratnya.

August 13, 2011

homesick

When I was 5, I wanted to be 9..
To join in the so- called cool friends playing outdoors..
When I was 9, I wanted to be 13..
To get in the so- called grown up secondary school..
When I was 13, I wanted to be 17..
To feel the tremendously famous sweet 17 life..
When I was 16, I wanted to be 24..
That's the age I planned to get married since I was kindergarten..
Now I'm 17..
I wish I can be younger..

To have mama waking me up in the morning.. Asking me to perform my fajr prayer.. And even bathing me..
Preparing ketupat sayur or bubur kacang ijo for breakfast..

To have mama telling me stories, and hear me talking like a chatterbox, non stop pouring things out..
To have mama teaching me how to cook this and that lauk, how to bake this and that cakes..
To have mama making opor ayam and let me be the 2nd chef..

Too much to list all......

Now I'm 17..
I wish I can be younger..
But I want time to move the way it indeed is should.. So I can continue improving myself and grabbing all the chances to please my dear mama.. Make you happy.. Make you proud..

And for I want to be a mother too..
And do all those beautiful things you've done as one.
To be a wonderful mother- Like you.

Mama adalah mama yang paaaaaaling best di dunia~ banyak orang yang mengakui kesabaran dan ketulusan mama lhoooooooo ;D

santi sayang mama..
Saaaaaaayang sekali..


"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. BERSYUKURLAH KEPADAKU DAN KEPADA KEDUA ORANG IBU BAPAMU, HANYA KEPADAKULAH KEMBALIMU." (Al-Luqman, 14)

July 30, 2011

unspoken feeling

saya akan sedikit bercerita tentang suatu kejadian yang membuat saya terharu..

sebelum keberangkatan kami sekeluarga ke solo, adik saya, Dias Noor Muharris, diberi uang sebesar 200 ribu rupiah oleh mama. fyi ade saya suka banget kalau dikasih uang (manusiawi), meski dia baru berusia 7 tahun.
lalu, kira-kira lima menit kemudian, dia pergi menghampiri saya dan menyodorkan uang sebesar 100 ribu yang diperolehnya dari mama, dia bilang...

"Mba Santi kan mau pelgi jauh, ini Dias kasih uang untuk mba Santi. untuk beli sepatu, untuk beli baju, untuk beli keludung, untuk beli apa aja telselah mba santi. cukup gak? kalau gak cukup, ntal yang selatus libu punya Dias, Dias kasih juga buat mba santi...."

bisa dibayangkan bagaimana terharunya saya, mendengar suaranya yang cadel, ekspresinya yang polos, perhatiannya, kasih sayangnya, semuanya...
spontan, saya langsung memeluk dia erat.. saya menangis di pelukannya.. lalu dia tiba-tiba pergi ke kamarnya, dan kemudian kembali lagi dengan membawa boneka pisang kesayangannya yang selalu menemani dia tidur.. dia bilang...

"Mba Santi, ini bonekanya buat mba Santi aja. bial mba Santi bisa peluk kalau lagi kangen sama Dias."

tersungging senyum tulus di bibirnya.. senyum lucu khas anak-anak yang justru malah membuat air mata saya makin mengalir deras..


I'll always keep it inside :')

yeah.. I admit it.
I love my brother, the only one brother I had, such a big love too big for this small world. Growing up with him has been an experience I'll never forget. We did everything together. I hold those memories very dear :')))))