April 9, 2012

perhatikan sekeliling kita


Assalaamu’alaykum pembaca setia blog saya {berasa ada yang baca aja >.<}…
Apa kabar?? Ah, pertanyaan yang membosankan ya? Yasudaaaah… saya gak usah nanya aja. Males juga sebenernya #KICK
Hehehe… gak deng becanda lho!!! *cheers :D

Akhy wa ukhty, fellas, guys, saudara-saudara, dsb, hari ini saya kembali berkontemplasi setelah kemarin saya menemukan begitu banyak hal –yang saya katakan ini- lucu, menarik, yang harus saya, kita, pelajari bersama…

Saya yakin hal ini akan menjadi pemantik akan adanya keragaman opini.. gak papa. Sudah menjadi suatu hal yang fitrah ketika seseorang beropini tentu akan ada pemikiran-pemikiran yang pro maupun kontra terhadapnya…

Tentu teman-teman sudah sadar, dan saya yakin teman-teman jauh lebih cerdas dan kritis daripada saya dalam menerima hal ini… teman-teman tahu bukan isu tentang kebangkitan spiritualitas di abad 21 sudah menjadi hal klise yang sering memancing antusiasme?

Indonesia pun tidak ketinggalan memeriahkan antusiasme isu kebangkitan spiritualitas tersebut. Coba deh perhatikan, belakangan ini, di tanah air kita tercinta ini marak sekali diadakan training-training yang berbau spiritualitas.. langsung aja nih ya to the point, misalnya aja nih kayak ESQ, atau training ma’rifat dalam sehari (di dalamnya juga ada paket SQ), atau training shalat khusyu’, dan lain sebagainya. Bisa terlihat kan kalau kesemua training tersebut masih menambatkan visinya terhadap Tuhan. Untuk membangun hubungan yang semakin dekat dengan Tuhan.

Berdasarkan pengalaman dan fakta-fakta yang ada di lapangan, training tersebut mencoba untuk menghadirkan sebuah keharuan psikis yang bersifat spiritual. Uraian-uraiannya bukan untuk dikritisi secara teoritis, tetapi lebih diarahkan untuk membuat peserta training mengalami intensitas psikis akan kebesaran Tuhan, sebuah kesadaran yang distimulus oleh sugesti berupa kata-kata dan visualisasi. Apabila peserta bisa merasakan keterharuan, bahkan hingga menangis, maka peserta akan merasakan suatu kedekatan tersendiri dengan Tuhan.

Biasanya training-training ‘spiritual’ seperti itu memanfaatkan berbagai ‘gangguan’ psikis ketimbang kesadaran reflektif. Para peserta dikondisikan sedemikian rupa: lampu dipadamkan, lilin dinyalakan, suasana dibuat hening, dan para peserta diberikan kata-kata sugestif yang dapat membuat mereka terharu, menangis, meraung-raung, atau bahkan mencabik-cabik pakaian teman sebelahnya *maaaaapp.. hiperbola banget saya ya -,-

Dan yang menjadi perhatian saya adalah: untuk beberapa waktu para peserta dimungkinkan akan mengalami perubahan kepribadian, ke arah yang positif tentunya. Efek training ini lumayan terasa untuk satu dua hari –alhamdulillah kalau lebih lama-. SETELAHNYA, itu semua hanya tinggal kenangan.

Kau tahu alasan saya mengangkat tema seperti ini? Karena sudah beberapa hari ini saya –mau gak mau, sadar gak sadar, secara gak langsung- memperhatikan mereka-mereka yang telah mengikuti training dan pada saat training mereka begitu antusias, begitu memaknai secara mendalam setiap tindakan yang dilakukan oleh –seringkali kita menyebutnya- motivator, namun…. terlihat tanpa memberi efek apapun. Seperti tak ada yang tertorehkan sama sekali di dalam kalbu mereka..
Yang saya rasakan melihat fenomena ini adalah: miris.
Rupanya selama ini saya luput melihat maraknya lokakarya ‘spiritual’ bertarif mahal yang menawarkan efek instan, seperti ESQ, shalat khusyu’, mengalami hakikat syahadat tanpa tirakat bertahun-tahun, dan lain sebagainya. Selain itu, saya juga salah memprediksi. Awalnya saya mengira training-training tersebut akan berlangsung dalam waktu sebulan atau dua bulan atau paling tidak seminggu lebih cepat, tapitapitapi ternyata hanya dalam dua atau satu dua hari training saja!

Apakah karena sekarang adalah zaman instan, maka spirituailtas pun menjadi instan juga?
Seringkali spiritualitas diposisikan sebagai salah satu nilai tawar dalam industri kiat praktis. Spiritualitas pun berubah rupa menjadi terapi, dan bukan lagi praktik penempaan dan penyucian jiwa sepanjang hayat. Gairah pencarian akan Tuhan seringkali menjadi tak terbedakan dengan gairah kepenasaran untuk merasakan berbagai sensasi seolah-olah spiritual. Sensasi-sensasi tersebut distimulus melalui berbgai pengondisian psikis. Karenanya, kini pun muncul simulakra mistisisme berupa titik balik, yaitu, ketika spiritualitas hanya menjadi semacam terapi untuk mereparasi dan mengembalikan manusia ke pola hidup hedonis dan hasrat kebertubuhannya.

Saya menyadari, jantung spiritualitas bukanlah pada kiat praktis lagi instan, atu juga pada kepribadian cangkokan ala bukku psikologi populer dan training ‘spiritual’. Jantung spiritualitas ada pada permasalahan keunikan tiap manusia, yaitu, rahasia misi hidup individu. Rahasia misi hidup tersebut tersimpan jauuuuuuuuuuuuuuuuhhh di dalam jiwa (bukan psikis) dan ruh. Tak ada satu pun kiat praktis dan training instan yang membuka rahasia ini. Rahasia misi hidup tersebut hanya bisa diraih dengan penempuhan jalan spiritual yang panjang lagi sepenuh hati.,

Mengajar tanpa menggurui,
Memberi nasehat tanpa merasa lebih mulia,
Dan menang tanpa ada yang merasa dikalahkan,
Adalah ciri dewasanya seseorang
-Aa Gym-

3 komenkomen:

ryu_stik said...

Salam kenal ukhti...

Tyas Dessandie said...

'alaykumussalam wr.wb.
salam ukhuwah ukhty :)

Aji Digda Aguna said...

Motivator sejati itu diri sendiri
Motivasi itu datang dari hati
dan Hati pun butuh inspirasi,
Inspirasi dahsyat dari Allah Yang Maha Hebat

#maaf numpang lewat :D
http://ada.web.id/

Post a Comment

Wow.. I love comments! you just made my day! Thanks