January 21, 2016

Clamour - Kota Kenangan


Matahari hampir lingsir ke balik cakrawala. Semburat oranye cerah menyeruak dari balik gunung. Kota Yogyakarta bersolek. Jalan malioboro telah sesak dipenuhi pengunjung sejak sore hari. Tenda-tenda dikibarkan, kabel-kabel diurai, bohlam dinyalakan. Gerai-gerai bersantap di bawah langit terbuka telah siap menyambut tetamu. Kerlap-kerlip lampu dari berbagai toko seolah bersenyawa dengan kepulan asap dari beragam makanan bakar yang dijajakan di pinggir jalan. Aku bisa mendengar kumandang bermacam bahasa dari para wisatawan mancanegara yang tengah melancong. Ada inggris, arab, china, india, dan beberapa francophone.
Aku masih menimang-menimang congklak kayu berhiaskan ukiran batik jepara yang baru saja ku beli di salah satu toko pernak-pernik khas Jawa dengan harga miring. Congklak tradisional ini akan ku gunakan sebagai media bermain dan belajar di Sekolah Alam ku. Sang pemilik toko rela melepas benda unik ini dengan harga sangat murah bukan perihal bahasa Jawa kromo alus yang tak jarang membuatku garuk-garuk kepala karena tak memahami artinya, tapi karena ia adalah salah satu kawan lama mama saat dulu mama masih membuka sebuah warung soto di salah satu ruko di jalan Malioboro ini. Ia mengenal baik keluarga kami terutama aku karena kerap membantu mama melayani pengunjung selepas sekolah.
Tentang kromo alus, aku memang bukan seorang penutur basa Jawa yang baik. Aku cukup mengerti jika orang lain berbicara menggunakan basa Jawa pergaulan kepadaku, dan aku bisa menimpalinya dengan basa Jawaku yang ala-kadarnya. Tapi itu pun kulakukan benar-benar seadanya, aku tidak terlalu fasih untuk hal ini, lidahku mendadak kelu dan suara yang kuucapkan justru malah akan terdengar aneh. Aku memang tinggal di Yogyakarta, kota yang kesehariannya seringkali menggunakan basa Jawa sebagai bahasa keseharian selain bahasa Indonesia. Namun keluargaku, papa dan mama hampir tidak pernah bicara atau mengajarkan anak-anaknya bertutur dalam basa Jawa, terlebih lagi kromo alus. Alhasil, aku pun lebih sering bicara menggunakan bahasa Indonesia.
“Ya Allah, Nduk. Udah lama ga ketemu. Piye kabare? Budhe kangen banget sama kamu, Nduk. Manggon nang ndi saiki?” Tanya Budhe Sum, pemilik toko pernak-pernik itu. Tangannya langsung merengkuh bahuku dan mendekapnya erat saat mengetahui bahwa pengunjung tokonya petang itu adalah seorang gadis yang dahulu sering disangoninya kembang gula setiap kali berkunjung ke warung mama untuk makan siang. Akibatnya mama harus rajin mengantarkanku ke dokter gigi dua kali setiap bulannya untuk memastikan arum manis itu tidak menggerogoti gigi-gigiku. Budhe Sum selalu memanggil setengah berteriak setiap kali bertemu denganku di manapun. Ia selalu menganggapku seperti anaknya, karena ketiga anak kandungnya yang kesemuanya adalah laki-laki telah berkeluarga dan menetap di kota lain. Usianya 10 tahun di atas mama. Tapi wajahnya masih berseri. Matanya jernih sebening telaga. Pembawaannya selalu hangat dan menentramkan. Satu hal yang menjadi ciri khasnya, ia gemar sekali menggelung rambutnya yang menjuntai panjang dengan menggunakan tusuk konde tembaga bertahtakan hiasan berbentuk bunga anggrek yang merekah. Katanya, itu adalah hadiah pernikahan yang sengaja dipesan khusus oleh mendiang suaminya di kaki Gunung Lawu. Karena sama-sama berjuang sebagai single fighter, Budhe Sum dan mama seringkali merasa cocok dalam setiap perbincangan.
Dulu hampir setiap hari Budhe Sum makan di warung soto milik mama. Meskipun nama yang tertera di spanduk depan warung adalah ‘Warung Soto’, tapi menu yang disediakan tidak melulu berupa sajian soto. Tersedia juga hidangan nasi rames, nasi goreng, ayam goreng, dan ayam bakar. Sejak papa meninggal, roda kehidupan keluarga kami berputar cepat. Sepeninggal mendiang papa, keluarga kami yang semasa hidup papa dikenal orang sebagai pemilik restoran ternama di kota Yogyakarta, harus menelan pahit kenyataan bahwa restoran kami terpaksa harus gulung tikar karena tidak mampu bertahan dalam persaingan bisnis kuliner yang ketat di kota ini. Ditambah lagi pembiayaan obat dan terapi mama membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Maka untuk terus dapat bertahan hidup dan demi melanjutkan sekolah anak-anaknya, mama rela banting tulang membuka warung soto sejak pagi hingga malam di tengah kondisi fisiknya yang begitu rapuh. Budhe Sum lah yang kerap datang untuk sekedar makan siang atau bahkan membantu mama yang kelelahan melayani pengunjung warung, sementara tokonya dijaga oleh dua anak buahnya.
“Hehe.. Iya Budhe. Ambar kangen juga sama Budhe. Alhamdulillah Ambar dan Loka baik-baik aja. Kita tinggal di rumah teman karibnya papa sama mama di Bandung. Sekarang lagi liburan. Hitung-hitung mau kangen-kangenan sama kota ini, Budhe” Jawabku membalas erat pelukannya.
“Alhamdulillah. Pokoknya kalau ada apa-apa kabarin Budhe lho. Nggo ngelegakne atine wong tuwo. Pokoke sering-sering dolan mrene. Ojo mung wayahe liburan tok lho.” 
“Nggih, Budhe. Matur nuwun.” Kataku berbinar sembari menerima bungkusan berisi congklak yang Budhe Sum angsurkan ke hadapanku.
“Tenane lho, Nduk. Sering-sering main.”
“Nggih, Budhe. Ambar usahain.” Kataku memandangi Budhe Sum yang sedari tadi memasang raut wajah khawatir.
Setelah berpamitan dan saling bertukar nomor telepon, aku beranjak dari toko dan berlari kecil menyusuri serambi-serambi toko sepanjang jalan Malioboro. Beberapa kali aku sempat tanpa sengaja menubruk kerumunan anak muda yang tak mau bergerak karena sibuk menawar harga barang yang diincarnya di emperan toko, membuat macet lalu lalang pengunjung yang lain. Beberapa kali pula aku harus sedikit meninggikan suaraku sambil berkata “permisi” kepada kerumunan yang lainnya.
Malam ini adalah malam minggu, tak heran jika riuh rendah suara pengunjung makin menggema menyesaki jalan ini. Sejak senja tenggelam, tak serta merta ikut meredupkan indahnya ruas jalan yang paling legendaris di kota ini. Semaraknya justru baru saja dimulai. Tak sekedar hiruk pikuk interaksi antarmanusianya di siang hari, saat hari telah gelap dan lampu-lampu kota mulai berpendar cemerlang, kota ini akan menampakkan wajah eloknya. Di sepanjang jalanan kota, aku selalu menikmati pemandangan bangunan lawas terawat yang disandingkan dengan mall ataupun hotel dan bangunan modern lainnya. Romantisme kota ini lah yang membuatku tidak bisa berpaling darinya. Terlebih, kota ini tergenapi dengan berbagai kenangan bersama mama. Menciptakan rembesan hangat di sudut mataku ketika terlalu dalam mengenangnya.



Aku bersegera menuju pelataran hotel tempat ayah, bunda, dan Loka menungguku untuk makan malam. Malam ini adalah perayaan hari pernikahan ayah dan bunda. Mereka bertemu dan menikah di kota ini juga. Karenanya, akhir pekan ini ayah dan bunda sengaja telah memesan tiket pesawat dan penginapan demi merayakan prosesi sakral mereka ini. Tentu saja aku dan Loka bahagia mendengarnya karena itu artinya sama seperti pulang kampung, kembali ke kota kelahiranku, meskipun tidak ada satupun keluargaku yang tinggal di kota ini. 
“Ambar, besok bunda titip beberapa buku cerita ya untuk Loka. Kamu mau ke toko buku kan katanya?” pinta bunda padaku begitu pramusaji meletakkan dua cangkir cappucino di atas meja. Ia melemparkan sesungging senyuman sebelum meninggalkan meja kami dengan kepulan asap dari dalam cangkir.
Aku memang berencana pergi ke toko buku dan beberapa toko lainnya untuk membeli beberapa kelengkapan untuk Sekolah Alamku. Sudah setahunan ini aku merancang sebuah sekolah alam yang kunamakan Sekolah Alam Banyu Biru. Sekolah Alam yang kubangun adalah sebuah gagasan tentang konsep pendidikan di alam terbuka yang aku dirikan di salah satu desa tertinggal di pinggiran daerah Jawa Barat. Aku mendirikannya karena dorongan empati terhadap kondisi pendidikan masyarakatnya yang rendah dan tingkat ekonominya yang tak cukup mumpuni untuk membiayai buah hati mereka mengenyam pendidikan formal yang layak. Kunamakan Banyu Biru karena lokasi sekolah alam itu dikelilingi oleh sebuah sungai kecil yang airnya begitu jernih dan mengalir ke setiap pekarangan rumah warga. Jika dalam jumlah banyak, air sungai ini akan nampak berwarna biru langit. Aku tidak terlalu faham mengenai pantulan spektrum warna atau kandungan mikroorganisme apa yang menyebabkan sungai itu bisa berwarna sedemikian cantik.
Ayah dan bunda sangat mendukung setiap keputusanku dan semua tentang Sekolah Alam itu. Terlebih, mereka sangat menyukai dunia anak-anak. Bulan depan Sekolah Alam itu baru akan dibuka. Aku, dan bahkan seluruh anggota keluarga kami begitu tak sabar menanti hari peresmian itu. Pun dengan mama di surga, ini adalah bentuk baktiku pada mama. Mewujudkan mimpinya.
“Jadi gimana perkembangan Sekolah Alam kamu, Mbar?” Tanya ayah sebelum menyesap kopinya untuk ke sekian kali.
“Bagus, Yah. Kemarin aku sudah mengadakan sosialisasi kepada masyarakat sekitar tentang tujuan didirikannya sekolah itu. Dan tanggapan mereka sangat baik. Sangat mendukung malah.”
“Ya baguslah kalau begitu. Asal jangan terlalu sibuk sampai melupakan kesehatan kamu, Mbar. Kamu kan sering sakit. Jangan terlalu kelelahan. Kalau perlu, coba kamu cari staff yang bisa membantu kamu.” Pungkas ayah serius.
Sudah hampir tiga tahun ini, aku dan Loka tinggal di rumah Om Arkhan dan istrinya. Mama lah yang mewasiatkan agar kami tinggal bersama mereka selepas kepergian mama. Om Arkhan dan istrinya menganggap kami layaknya seperti anak kandung sendiri. Mereka meminta kami untuk memanggil mereka dengan panggilan ‘Ayah’ dan ‘Bunda’. Usia mereka juga tidak terpaut jauh dengan usia papa dan mama seandainya mereka masih hidup. Terlebih lagi, sudah sejak lama mereka menunggu tibanya saat ini. Belasan tahun merasakan sepinya pelukan hampa tanpa anak, merayakan pesta ulang tahun anak untuk orang lain, dan menjawab pertanyaan berniat baik dari teman-teman ataupun rekan kerja, “Sudah hamil apa belum?” membuat kebahagiaan tak terkira ketika menyambut kedatangan kami di keluarga kecil ini.