March 6, 2014

Sepelik inikah ukhuwah kita ukh?

Suatu hari, beberapa orang ADK berbincang heboh.
"eh, si akhwat A lagi deket ya sama si ikhwan B?"
"eh si akhwat C suka sms an ya sama si ikhwan D?"
"eh si akhwat E suka tausiyahan ya sama si ikhwan F?"
"eh si akhwat G sering komunikasi ya sama si ikhwan H?"
dst dst ~ ~ ~

Apa kabar ukhty hari ini? Masihkah tenggelam di lautan terdalam bak mutiara yang mahal harganya? Masihkah tersibukkan dengan berbagai agenda dakwah yang kelak akan menjadi pemberat timbangan amalmu di akhirat? Atau apa kabar umat Islam hari ini? Masihkah jamaah ini sekuat dulu? Masihkah ghirah perjuangannya seperti umat terdahulu? Mungkin tidak... Lantas siapa yang patut disalahkan? Apakah kita ingin menghakimi someone in memoriam? Seolah kita ini layaknya Tuhan yang berhak menjudge segala hal.

Dan... apa kabar saudaramu ukhty? Adakah diantara saudaramu, akhwat lain yang sakit hari ini? Yang memiliki kesulitan hari ini? Yang terseok mengikuti arus hidup? Atau bahkan... adakah dari saudaramu yang kelaparan hari ini karena tak memiliki uang? Apa kabar saudaramu ukhty? Tahukah kau kondisinya saat ini? Apa kabar saudaramu ukhty? Salah satu pilar penting dalam jamaah ini...



Menilik kembali potongan percakapan di atas...
Ah, kadang, atau seringnya kita berpikir tentang hal terburuk yang terjadi diantara mereka. Namun, pernahkah kita berpikir ukh, apakah diri kita ini lebih baik dari dirinya? Apakah diri kita ini sudah lebih baik sebagai seorang saudara? Apakah diri kita sebagai seorang akhwat sudah mau mendengarkan ceritanya, mengerti masalahnya, mendengarkan curhatnya, membantu meringankan bebannya, menanyakan kabarnya, memahami kondisinya? Apakah diri kita sudah mampu membuatnya begitu nyaman dengan diri kita? Membuatnya bahagia saat di dekat kita? Apakah kita sudah benar-benar menjadi seorang saudara yang sebenarnya? Meluangkan sedikit waktu untuk sekedar basa-basi menanyakan kabarnya, apa kabar ukh? butuh bantuankah ukh? sekedar itu... apakah kita sudah memberikan arti sebuah ukhuwah? Hingga karenanya, mungkin tidak perlu ada lagi masalah ikhwan-akhwat.

Ataukah... kita hanya berkutat dengan pembahasan tentang amanah, organisasi, syuro, hanya sebatas itukah? Yang tak jarang pembicaraan itu hanya berbalas satu kata di sms. Ya, satu kata di sms. Termaklumi karena memang kita begitu sibuk dengan ribuan agenda dakwah yang ada kan ukh?

Mungkin, ia sadar. Bukan masanya bagi pejuang dakwah untuk merengek. Bahkan jika ia harus pertaruhkan hidupnya, hartanya, keluarganya, segalanya. Jalan ini terjal, semua tau itu. Dan apalah artinya keberadaan kita jika dibandingkan dengan mujahidah palestine. Namun ukhty, satu hal yang seringkali terlupakan oleh kita, kita butuh bicara lebih lama, bukan lagi soal amanah, bukan lagi soal organisasi. Tapi tentang hidup anak-anak manusia sesungguhnya. Jika tak mampu bicara lebih lama, mungkin dia hanya menginginkan senyuman yang tulus. Tulus ukh, bukan karena tendensi bahwa kita semua berada dalam satu organisasi. Bukan. Tapi lebih dari itu.

Karena pada hakikatnya, seseorang akan merasa lebih nyaman ketika bicara dengan lawan jenisnya, itu fitrah ukh. Tinggal kemudian, bagaimana kita menjaga saudara kita yang lain, akhwat lainnya. Menjaganya sejak awal. Bukan di tepi jurang ketika dia hampir jatuh. 

Ukhty, pantaskah kita memojokkan akhwat lain ketika dia 'cair' dengan ikhwan? Pantaskah kita menyalahkannya? Pantaskah kita menyudutkan dirinya? Adilkah kita ukh?

Pernahkah kita berpikir ukhty, jika ternyata ikhwan itu lebih mau mendengarkan keluhnya dibanding kita? Lebih solutif menjawab masalahnya dibanding kita? Lebih mau dan bersedia membantunya ketimbang diri kita? Lantas bagaimana dengan kita ukh? Kita mungkin malah tak berbuat apapun untuknya? Kita mungkin hanya MAU mendengarkan keluhnya seadanya kemudian ingin segera saja beranjak demi sebuah kepanitiaan. Kita mungkin hanya sekedarnya saja memberikan tanggapan dari tiap kisahnya. Kita mungkin hanya mampu sebatas itu ukh, selanjutnya tersibukkan dengan deadline proker yang memburu. Terus menerus. Siklus yang menjadikan kita lilin yang senantiasa menyala hingga seringkali kehilangan esensi dari apa yang kita lakukan. Pernahkah kita berpikir ukh? Atau pernahkah kita menyadarinya ukh? Hati seorang perempuan itu kelewat lemah ukh, kita semua tau itu.

aku, kamu, kita semua? Pantaskah menyudutkannya? Atau barangkali dialah yang lebih pantas untuk menyudutkan kita? Kemanakah kita saat yang lain membutuhkan kita lebih dari sekedar bicara tentang proker dan organisasi? Kemanakah diri kita ketika yang lain butuh bahu untuk berbagi? Kemanakah diri kita ini yang mengaku sebagai saudaranya? Yang di tiap daurah, selalu saja dielu-elukan bahwa kita ini satu, kita ini satu tubuh, kita ini saling melengkapi, dan segala hal tentang manisnya ukhuwah? Pantaskah kita yang sebelumnya tidak ada di sisinya, lantas muncul dan hanya ingin menghakiminya? Berhakkah kita atas kesalahan yang mungkin khilaf ia lakukan? Ataukah ia yang seharusnya menyalahkan kita ukh? Kita yang tak pernah ada untuknya, meski mungkin ia sudah mencarinya. Kita yang dengan lantang mengatakan bahwa kita ini saudara, ukhuwah kita tak akan pernah pudar... omong kosongkah? Formalitaskah karena kita seorang ADK? Atau apa?

Aku, kamu, kita... butuh waktu untuk sendiri. Diam dan tenggelam dalam-dalam pada tiap detik masa lalu yang telah kita lalui. Kemanakah kita di saat saudara kita membutuhkan diri kita? Sepelik inikah ukhuwah kita hari ini? Selemah inikah kita menjaga saudara kita? Atau... semudah inikah kita menyalahkan dia tanpa bercermin pada cermin yang bening, bukan dengan cermin yang penuh bercak. Hingga yang terburuk adalah menjadikannya seperti pesakitan.

Kita begitu berharap mampu mempertahankan istana dengan harta benda yang berlimpah. Namun di benteng pertahanan, kita tidak melengkapi prajurit kita dengan senjata dan perbekalan yang memadai. Maka jangan pernah berharap istana nan kokoh itu akan abadi menjadi milik kita. 

Karena saudaramu adalah amanahmu... Ia tak hadir dengan sempurna, seperti dirimu yang menyembunyikan milyaran rahasia.




3 komenkomen:

Anonymous said...

Oh, jadi gini ya kalau akhwat dan akhwat ketemu? -_-

Annisa Sekar Kasih said...

Wanita memang susah dipahami, karena pengennya dimengerti. Haha.

Semangat ibu korwat! :3

Kholida Nurul Azizah said...

like mb tulisannya :)

Post a Comment

Wow.. I love comments! you just made my day! Thanks