February 9, 2014

full of emotion -the last part-


4 Februari 2014. Hari itu adalah hari terakhir perjuangan saya di episode ini. Saya tidak memiliki waktu lagi. Tidak untuk mengulur waktu pembuatan visa, tidak untuk menghubungi ministry Rusia, dan juga tidak untuk mengganti tanggal keberangkatan. Saya akan temukan jawabannya di hari itu. Bad days will pass :) Jawaban atas segala ikhtiar dan doa yang saya perjuangkan.

Saya menyengaja diri untuk bergegas lebih pagi. Pukul 5 lewat sekian, tepatnya saya lupa. Karena sejak kemarin sore, hujan tidak henti-hentinya mengguyur Ibukota. Saya khawatir banjir dan menyebabkan kemacetan. Maka lepas subuh, saya segera berangkat menuju kedubes. Inilah harapan terakhir saya.

---

Seperti biasa, saya berangkat ke kedubes dengan transJ.

Ternyata benar saja dugaan saya. Macet. Sangat. Sangat. Dan yaa Rabb... Mungkin memang Allah menakdirkan hal ini untuk terjadi. Selama ini, selama saya pergi ke kedubes menggunakan transJ, beberapa kali memang jalanan macet akibat banjir, tapi tidak pernah hingga memakan waktu sangat lama seperti hari itu. Biasanya, jika memang macet akibat banjir, ketika saya berangkat jam 6 pagi, setidaknya paling lambat saya akan tiba di kedubes pukul setengah sebelas, atau seringnya lebih pagi dari itu. Tapi kali ini tidak, saya baru tiba di kedubes pukul setengah satu siang! Sementara kedubes tutup pukul 13.00!

Saya benar-benar pasrah akan takdir Allah, setelah segala ikhtiar dan doa sudah saya -dan bahkan orang lain pun turut mengusahakan-. Jika memang hari ini adalah rezeki saya, maka sesempit apapun waktu dan kondisinya, kun fayakun. Namun, jika memang hari ini bukanlah waktu yang tepat bagi saya menurut Allah, maka sekuat apapun saya berusaha, hal itu tidak akan mungkin terjadi.

Bismillah.

Tibalah saya di kedubes. Kembali saya bertemu dengan mba yang sama untuk ke sekian kalinya. Ia sedang bercengkrama hangat dengan koleganya saat itu di ruang tamu. Melihat saya datang, ia tersenyum, masih dengan keramahan yang sama. Menanyakan, "ada apa?"

"Mba, hari ini saya ingin bertemu dengan atasan mba atau mungkin diplomatnya." kata saya tenang.

(tersenyum) "Sebentar ya mba, saya lihat dulu..." Mba itu segera masuk ke dalam ruangan bertuliskan 'staff only' dan lekas kembali, kemudian dia berkata....

"Mba, maaf. Semuanya atasan sedang meeting. Bagaimana?"

"Saya tunggu mba." kata saya, sedikit kecewa. Sedikit.

Saya perhatikan lamat-lamat putaran jarum jam analog di tangan saya. Mencoba membunuh masa yang kian lama kian menyudutkan saya. Hingga pukul 13.00 WIB. Saatnya kedubes tutup.... Allahu :')

Inilah akhir perjuangan saya di episode ini. Saya sudah lakukan yang terbaik yang mampu saya lakukan. Sejak pertama kali mendaftar seleksi, mengikuti tahap demi tahap penyeleksian, hingga saya lolos, saya buat list perusahaan atau instansi yang potensial untuk saya ajukan proposal, saya temui orang-orang yang  saya harap bisa membantu saya, saya cetak puluhan proposal, cv, Letter of acceptance, dan lainnya.. Saya lakukan segalanya. I tried my best. Cukup saya simpan dalam memori saya tanpa perlu tuts tuts di keyboard ini menterjemahkan segala yang telah saya lalui semuanya. Saya ikuti arus sungai membawa saya, berkali-kali saya hampir tenggelam dan kehabisan nafas, namun saya tidak ingin menyia-nyiakan karunia hidup yang Allah berikan, saya berjuang, saya ikuti hingga arus akan membawa saya ke hulu, meski saya tak pernah tau ia di mana...

Buat saya, makna sebuah kegagalan bukanlah suatu keberhasilan yang tertunda, bukanlah suatu permulaan dari suatu keberhasilan. Kegagalan bagi saya sejatinya memang hasil yang tidak pernah diharapkan, yang terjadi karena faktor-faktor penyebab keberhasilan itu belum mampu saya penuhi. Kegagalan bukanlah suatu hal yang harus disesali dan kemudian dilupakan, namun kegagalan adalah sebuah sarana pembelajaran yang terbaik, saya berani mengatakan itu, ya, paling baik. Hanya saja yang selanjutnya membedakan antara seseorang yang berhati besar dengan yang tidak adalah kemampuannya untuk bangun, bangkit dari keterpurukan dengan cepat ketika kegagalan menghampiri dan mampu memetik pelajaran dari tiap peristiwa. Every bad situation will have something positive. Seberapa banyak kegagalan yang sudah kita hasilkan, tidak masalah, tidak jadi soal, karena, perhatikanlah, orang-orang sukses pasti mengalami kegagalan lebih banyak dibanding orang biasanya.

Kegagalan mencapai ekspektasi saya dan kegagalan menggapi impian saya kali ini merupakan sebuah pembelajaran berarti dari Allah yang tidak akan pernah saya dapatkan atau orang lain dapatkan di kelas manapun, kepada saya pribadi khususnya. Selama ini mungkin saya sudah banyak diberi kemudahan dan karunia dari Allah hingga akhirnya menjadikan saya alergi terhadap kegagalan, atau parahnya, saya menjadi sangat naif, menganggap semua kerja keras yang telah saya lakukan akan berbanding lurus dengan hasil yang akan saya petik. Padahal, terlampau banyak faktor di luar kerja keras yang menjadi parameter pokok kesuksesan dan keberhasilan seseorang, keberkahan dari Allah adalah salah satu diantaranya. Keberkahan Allah adalah faktor di luar kendali saya karena hal itu adalah hak prerogatif Allah.

Kegagalan mencapai ekspektasi saya dan kegagalan menggapai impian saya kali ini bagi saya adalah suatu pembelajaran bahwa dalam meraih sebuah keberhasilan, peran saya tidak sendiri, banyak orang telah membantu saya. Sekecil apapun itu, meski sebesar zarah, bahkan jika hanya doa.... Namun, doa itu hakikatnya kuat :) There's never a tear drop that Allah doesn't see. There's never a moment when Allah doesn't care. Never a time when He won't hear our prayers...

Maybe people think I'm strong for the struggles I've had, problems I've encountered, and pains I've felt.. unfortunately they're wrong, because I have a weak heart, but behind me is a strong God. Saya harus siap merasakan hal yang terpahit. Pahit namun menyembuhkan. Saya harus peka akan makna sebuah hikmah. Saya harus benar-benar tersadar bahwa berlatih itu memang melelahkan, tapi menguatkan. Sabar itu menyakitkan, sungguh, tapi ia mengokohkan. Jika saya berani mengambil kesempatan, maka saya harus berani menerima keberhasilan. Namun, tiap kesempatan yang hadir, ia selalu satu paket dengan kegagalan. Saya tidak khawatir jika kemudian orang lain menyebut saya sebagai orang yang gagal. Itu jauh lebih baik ketimbang orang-orang memanggil saya sebagai orang yang takut gagal. Terkadang, memang berat bagi saya untuk mengerti apa yang sebenarnya Allah benar-benar inginkan untuk terjadi. Tapi saya percaya, Dia tau yang terbaik. Allah will show the way when no man can.

I've gone the worst. Saya mungkin telah melewati yang tersulit. Selanjutnya, nothing. Saya akan jauh lebih siap. Saya akan lebih kuat. Lebih kokoh. Saya tak akan mudah tumbang. Saya sudah ditempa berkali-kali. Saya sudah jatuh berkali-kali, merasakan rasa sakit yang berbeda di tiap momennya. Tapi berkali-kali juga saya bangkit. Saya belajar bagaimana berdiri. Saya belajar bagaimana membalut luka agar ia tak membusuk. Saya belajar berjalan meski tertatih. Saya selanjutnya belajar berlari dengan segala apapun yang saya miliki. Saya bisa lakukan yang lebih baik. Bismillah.....


Allah knows what's the best for me and when it's the best for me to have it :) Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah :)

3 komenkomen:

mardee w said...

belajar mengobati luka, belajar berjalan bersama dengannya.

alhamdulillahi 'ala kulli hal.

Yuli Ardika Prihatama said...

Another time you will go, with Allah's will

Indra Rachmaditya said...

Allahuakbar, saya kira cerita ini bakal happy ending. Sukses ke depannya ya Tyas :)

Post a Comment

Wow.. I love comments! you just made my day! Thanks