November 2, 2013

lelaki pencuri

Mereka akan tiba saat petang. Bidadari-bidadari penampung air mata.

Senantiasa berarak rapi. Terkadang jumlahnya lebih dari tiga belas.

Layaknya segerombolan kupu-kupu. Menenteng cawan kecil berkilauan, yang bengkok dan mengulin di salah satu ujungnya.

Ke dalam cawan berkilauan itulah mereka kumpulkan air mata.

Cawan itu tak lebih besar dari bibit bunga tulip, namun sangat cukup untuk ruang kesedihan di muka bumi ini.

Ketika ada yang terisak di gelapnya malam, bidadari-bidadari itu akan terbang di sekitarnya, menanti butiran bening itu menggantung di pelupuk matanya lalu sang bidadari menampung tiap tetesnya dengan anggun.

Ketika tetesan pertama bergulir cepat, mereka akan berlomba menampungnya dalam cawan.
Saat tersentuh jemari mereka yang ajaib, bulirannya berubah menjadi kristal bening berkilauan.

Mereka hidup di pelosok hutan-hutan rimbun. Ke hutan-hutan itulah buliran air mata itu dihimpun, pada salah satu gua gelap di tengahnya.

Di selisik ulir kerikil alir, di antara indentasi batuan-batuan di sana tersembunyi tirai emerald cerah yang lembab, pada akar-akar Islandia Spar yang prismatik dan tabular di langit-langit stalagmit, bidadari-bidadari itu merancang tempat tinggal.

Buliran air mata itu disusun menjadi tempat tinggal mereka, seperti kastil-kastil kecil yang saling terhubung dengan jembatan yang tercipta dari untaian kristal bening itu.

Di langit-langit stalagmit itu lah, kristal itu dironce menjuntai layaknya puluhan juta bintang yang berpendar.

Seorang pencuri sarang burung mendapati kastil bidadari-bidadari penampung air mata tanpa sengaja.

Setelah berhari-hari berjingkat sembunyi menelusuri gua, ia merasakan hawa lembab udara tak seperti biasanya, kelembaban yang meriapkan kuduknya, dan tersadar bahwa dirinya tersesat dan tak mampu lagi menengok dunia sebab tiap ia berusaha menapaki jalan keluar ia malah merasakan semakin menuju kegelapan.

Kesepian tempat itu begitu kelam dan menakutkan!

Hingga kelelawar, cobra, atau lintah pun lebih memilih menjauh.

Gemuruh jeritan kelelawar atau sayup kepak jutaan walet terasa berada di ruang yang jauh berbeda.

Semua bunyi seperti lesap - dan ia tidak mampu menangkap suara hela nafasnya sendiri

dan ia menyadari betapa oksigen begitu ciut dan bau menjijikkan yang bukan berasal dari kotoran walet atau lelehan belerang membuatnya limbung dan pelan-pelan menjadikannya terapung.

Ketika kesadarannya jatuh tenggelam, lamat-lamat ditangkapnya suara menggetarkan yang begitu gaib, menyeruak dari palung terdalam.

Hingga kemudian ia terbangun dan tahu bahwa tangisan itu berasal dari butiran kristal bening yang menghiasi dan menggantung nyaris di seluruh langit-langit stalagmit di mana jutaan bidadari nampak beterbangan ke sana ke mari.

Ada waktu-waktu tertentu ketika buliran kristal bening itu memperdengarkan kembali isakan kesedihan yang masih tertanam di jantungnya.

Tak ada yang mampu melenyapkan kesedihan bukan?

Bahkan hingga tiba saatnya luka itu menjelma jadi kristal indah tiada tara.

Di lambung stalagmit itu menggema milyaran tangisan yang terdengar seperti orkestra kesedihan yang akbar.

Dan sampai masanya, lelaki pencuri sarang burung itu meninggalkan tanah bidadari dan menemukan jalan kembali, ia membekali diri sekantung kristal cantik yang lantas dijajakannya eceran.

Kristal-kristal air mata itulah yang hari ini semakin banyak dijual di bahu jalan atau warung-warung pelosok gang.

Menjadikannya murah dan teramat mudah ditemui...



1 komenkomen:

Jeng hana said...

semngat :D

Post a Comment

Wow.. I love comments! you just made my day! Thanks